Bisnis Berbadai TD. Pardede di Aceh

Ini peristiwa lama. Tepatnya, peristiwa di tahun1988. Sebuah peristiwa yang sangat dramatis terjadi pada 29 Agustus 1988.

Untuk menemukan gambarannya, saya menarik dan melirik sepenggal catatan Tempo yang ditulis setahun sesudah peristiwa terjadi itu, yaitu tanggal 26 Agustus 1989.

Tempo, 26 Agustus 1989. LHOKSEUMAWE, Aceh Utara, 29 Agustus 1988.

Hujan lebat sehari suntuk mengguyur kota. Salah satu dusunnya, Desa Hagu Barat Laut, pun kuyup. Sejak pukul 8 pagi sampai larut malam, persada basah.

Di sana Cottage Surya Aceh – yang memiliki 10 unit bangunan dengan 20 kamar bagaikan tidur. Para langganan mengunci kamar rapat-rapat. Udara dingin begitu menusuk. Tak ada tanda-tanda kegiatan manusia. Hanya restoran penginapan yang masih bernapas.

Sejumlah tamu terkantuk-kantuk di kursi mereka ditemani minuman penghangat. Lima orang satpam dan dua anggota Brimob Polda Aceh – yang bertugas di dekat cottage – berjuang keras supaya tetap bisa membuka matanya.

Selasa dinihari tanggal 30 Agustus 1988. Keheningan itu masih tertanam dalam. Tapi sekitar pukul 03.15 WIB terjadi sesuatu. Sekonyong-konyong terdengar ledakan dahsyat. Dua buah cottage – kamar 101, 102, 201, dan 202 porak-poranda. Sebuah lubang besar menganga di serambi kamar nomor 201. Persisnya di dekat pipa air leding. Dua buah alat pendingin remuk. Langit-langit jebol…..

Bisnis Anak Batak di Tanoh Aceh
Cottage Surya Aceh adalah salah satu unit usaha yang didirikan oleh Tumpal Dorianus Pardede atau TD. Pardede di Aceh, tepatnya di Lhokseumawe, Aceh Utara. Nama Surya pada usaha penginapan itu sendiri adalah nama anak bungsu TD Pardede, lengkapnya Surya Indriani Pardede. Anak TD. Pardede lainnya adalah Sariaty Pardede, Emmy Pardede, Rudolf Mazuoka Pardede, Merry Pardede, Raden Hisar Pardede, Johny Pardede, Ani Pardede, dan Reny Puspita Pardede.

Tentu saja bisnis lelaki asal Balige, kelahiran 16 Oktober 1916, yang akrab dipanggil Pak Katua, di Aceh pada era 70 – 90 an bukan hanya Cottage Surya Aceh. Sang Penggila bola, TD. Pardede, juga punya usaha yang paling terkenal kala itu, juga di Lhokseumawe, Aceh Utara, yakni bisnis ekspor udang melalui PD Surya Aceh.

Bisnis yang berlangsung pada Pelita I ini termasuk bisnis TD. Pardede yang paling menjanjikan. Bayangkan, bisnis dengan investasi 2 milyar rupiah ini sudah melakukan ekspor udangnya mencapai 230 ton dengan nilai devisa mencapai 800.000 dollar AS pada tahun 1973.

Angka awal pada Pelita I ini bisa diperkirakan akan meningkat capaiannya pada Pelita II, kira-kira 2.284 ton, senilai 4,5 juta dollar AS. Angka ini sangat mungkin meningkat lagi jika dikaitkan dengan kebutuhan protein hewani penduduk Jepang yang saat itu diperkirakan mencapai 9 juta ton hasil laut.

Pertanyaannya, mengapa Raja Uang Medan, TD. Pardede sampai memperluas sayap bisnisnya sampai ke Aceh? Tidak cukup tersedia penjelasan yang memadai untuk menyingkap kehadiran TD. Pardede di Aceh. Artinya, banyak kemungkinan, dan semua kemungkinan memiliki akarnya tersendiri jika didalami lebih dalam sosok TD. Pardede.

Bisa jadi kehadiran TD. Pardede di Aceh ada hubungannya dengan watak bisnisnya yang memang dikenal sangat ulet dan berani semenjak kecil. Sebagai mantan pejuang yang akrab dengan medan konflik pada masa zaman perang juga menambah keberaniannya untuk juga berbisnis di Aceh, sekalipun Aceh memiliki riwayat bergejolak dari waktu ke waktu.

Meski begitu, keamanan memang menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan oleh semua pebisnis, termasuk oleh TD. Pardede. Pada masa itu, Aceh bisa dibilang sudah kondusif. Keberhasilan Missi Hardi dalam meretas resolusi konflik dengan Aceh yang menghasilkan perdamaian pada era 60-70an membuat ekonomi Aceh kembali menggeliat karena pembangunan sudah tidak terhambat lagi akibat gejolak politik yang keras. Sudah bisa dibayangkan betapa Pemerintah Aceh saat itu sangat membutuhkan partisipasi banyak orang untuk ikut mengisi pembangunan Aceh paska pemberontakan DI/TII Aceh dibawah kepemimpinan Daud Beureueh. Lagi pula, pada masa itu, suasana Aceh jauh lebih kondusif secara politik di banding Medan. Aceh dibawah Gubernur Abdullah Muzakir Walad (1967 – 1978) justru lebih aman dan kondusif, termasuk saat Muzakir Walad terpilih untuk masa kedua kalinya. Sementara Medan di bawah Gubernur Marah Halim, sempat mengalami ketegangan politik khususnya pada masa kampanye.

Profil Muzakir Walad yang lembut dan terbuka semakin member peluang kepada siapa saja untuk masuk ke Aceh. Pernyataan Muzakir Walad bahwa “Apa yang baik dari luar terlalu sukar masuk ke Aceh” menunjukkan bahwa akan ada usahanya untuk juga membuka kesempatan kepada mereka yang hendak berpartisipasi dalam pembangunan di Aceh.

Kebutuhan untuk membangun Aceh guna memakmurkan rakyat juga terlihat dari pidato yang disampaikan Komandan Korem 001/Lilawangsa, Kolonel Abdullah Hanafiah pada masa itu. Menurutnya, ada tiga cara untuk memakmurkan rakyat di Aceh. Pertama, “utak beumeue asoo”(otak mereka supaya diisi). Kedua, “baje beek ruya rayoo” ( baju rakyat jangan sempat jadi compang-camping). Ketiga, “pruet jih beu troe” (perut rakyat jangan kosong).

Masih menurut Sang Komandan, “bagaimana supaya mereka itu beuteu-beu meu ek gigou, inilah yang perlu diusahakan.” Kiasan yang mendorong rakyat agar selalu ada yang dimakan agar bertaik gigi semakin mendorong pemerintah untuk mengusahakan pembangunan di Aceh.

Kondusifnya Aceh itu bisa terlihat dari geliat ekonomi di Aceh akibat gerakan “pulang kampong” para saudagar Aceh yang dulu melakukan “hijrah” akibat konflik. Gebrakan pemerintah Aceh untuk melakukan kontak dagang dengan Malaysia dan Singapura serta pembukaan pelabuhan Sabang semakin memikat banyak pengusaha untuk kembali membuka kantor dagangnya di Aceh. Hasilnya memang luar biasa, yang juga memberi keuntungan bagi Aceh dari hasil pajak. Universitas Syiah Kuala dan perbaikan jalan Medan – Aceh adalah bukti ekonomi Aceh kembali menggeliat saat itu.

Bisa jadi, kondisi Aceh yang sudah damai dan besarnya peluang ekonomi di Aceh kala itu membuat TD. Pardede tertarik untuk ikut berbisnis di Aceh. Bukan hanya itu, sebagai sosok yang sudah berkaliber tokoh yang memiliki relasi dan pengaruh pada masa Soekarno TD. Pardede tentu saja memiliki kesempatan untuk bersahabat dengan jajaran pemerintah di Aceh juga berelasi bisnis dengan pebisnis asal Aceh. Sebagaimana di ketahui, pada tahun 1965 TD. Pardede adalah pembantu Menteri Menko Deperinra Urusan Berdikari dan tahun 1971 menjadi anggota DPR/MPR melalui Pemilu. TD. Pardede baru menjadi Menteri Berdikari Republik Indonesia pada tahun 1988, persis pada masa Aceh kembali memasuki musim konfliknya kembali.

Kehadiran TD. Pardede di Aceh dengan bisnisnya semakin dibutuhkan. Sebagai pebisnis yang memiliki modal mandiri pemerintah Aceh sudah pasti membuka peluang bagi TD. Pardede. Ini bukan soal beda suku dan agama melainkan pada masa itu krisis ekonomi kembali melanda Aceh akibat krisis politik dengan meletusnya Tritura tahun 1963. Akibatnya, hubungan dagang dengan Malaysia dan Singapura menjadi putus dan ini pula yang kemudian membuat saudagar Aceh di luar untuk tidak begitu berani berinvestasi di Aceh, salah satunya akibat kekurangan modal. Dan, TD. Pardede masuk ke Aceh dan menggarap bisnis ekpor udang ke Jepang berbaringan dengan disahkannya UU PMA dan PMDN oleh pemerintah.

Sementara itu, saudagar Aceh dengan cara berkongsi juga menjajaki usaha di Aceh, termasuk bisnis pemerintah berkerjasama dengan perusahan multinasional untuk mengelola hasil bumi Aceh. Jika kemudian TD. Pardede menjadi sosok orang kaya yang memiliki harta 50 milyar pada tahun 1980 bisa jadi salah satu sumbernya berasal dari bisnis di Aceh.

Jejak Kaki “Si Pemain Kelereng “ di Aceh
Riwayat persentuhan si Raja Tekstil, penghasil baju singlet bermerek Surya, TD. Pardede dengan Aceh bukan hanya pada masa beliau sudah jaya saja. Lelaki yang berpulang dalam usia 75 tahun (18 November 1991) sudah mmiliki jejak tapak kakinya di Aceh sejak usia muda.

Alkisah, menurut catatan yang dimiliki Tempo, kisah sukses Pardede ia mulai sejak masa kecil. Walaupun kakeknya, dikenal sebagai orang kaya dan berpengaruh di kalangan orang Batak, ayahnya, Willem Pardede, hanya mewariskan beberapa bidang sawah. Tumpal Dorianus Pardede, anak bungsu dari enam bersaudara, sejak umur lima tahun dikenal jago bermain kelereng di kampungnya, Desa Tambunan Lumbangaol, Balige, Kabupaten Tapanuli Utara. Dengan naluri bisnisnya di masa anak-anak itu, kelereng yang dimenangkannya tadi ia jual. Uangnya dijadikan modal untuk berjualan kembang gula. Maka, jadilah Tumpal penjual kembang gula sambil bersekolah di HIS Balige. “Sejak di sekolah dasar itu saya tak dibelanjai orangtua. Buku dan jajan saya peroleh dari hasil berjualan,” katanya.

Pada usia 14 tahun, Tumpal Pardede bekerja di Central Plantation Hospital, rumah sakit Belanda di Langsa, Aceh Timur. Selama tiga tahun menjadi pegawai di sana, naluri dagangnya makin berkembang. Ia menjadi makelar obat. “Komisi menjadi makelar tujuh kali lipat Iebih besar dari gaji saya di rumah sakit itu,” katanya. Waktu itu ia bergaji 10 gulden.

Keluar dari rumah sakit, Pardede bekerja di perkebunan milik Belanda di Dolok Ilir, Kabupaten Deli Serdang. Di sinilah ia mengenal Hermina boru Napitupulu, adik teman sekerja. Ia menikahi Hermina 16 Mei 1937.

Tiga tahun berada di Aceh, tepatnya di Aceh Timur tentu saja cukup untuk mengenali dan memahami karakter orang sekaligus daerah Aceh. Riwayat persentuhan dengan Aceh ini juga barangkali yang memperkuat watak pluralis TD. Pardede yang dikenal sangat menghormati perbedaan agama. Inilah barangkali mengapa TD. Pardede tidak mengalami kesulitan dalam berbisnis di Aceh sekaligus bergaul dengan orang Aceh. Buktinya, bisnis usahanya di Aceh juga melibatkan pekerja dari Aceh padahal pada masa itu sumberdaya manusia menjadi sesuatu yang amat sulit dicari khususnya setelah Lhokseumawe dilanda industrialisasi.

Bisnis Berbadai
Sayangnya, usaha bisnis TD. Pardede di Aceh tidak bertahan lama. Usaha bisnis udangnya akhirnya tutup juga. Banyak kemungkinan mengapa TD. Pardede yang suka pada tantangan itu akhirnya memilih untuk mengakhiri bisnis ekspor udang yang awalnya memiliki gambaran cerah. Melihat situasi saat itu bisa jadi karena factor biaya ekonomi tinggi. Usai krisis politik akibat Tritura 1963 biaya berinvestasi di Aceh lumayan mahal. Begitu modal asing dijaring dan kehadiran industrialisasi di Aceh juga semakin membuat ekonomi berbiaya tinggi. Sedikitnya sumberdaya manusia membuat gaji karyawan menjadi mahal sementara untuk mendatangkan karyawan dari luar juga butuh biaya yang tidak sedikit.

Di samping kendala sumberdaya manusia juga karena faktor ekonomi lainnya seperti mahalnya biaya pembayaran ganti rugi. Pola hitungan ganti rugi yang harus dinegosiasikan dengan pemilik tanah di Aceh terhitung lebih rumit akibat kehadiran industri besar lainnya di Aceh. Bisa jadi juga akibat tingkat persaingan bisnis yang semakin tajam karena bisnis udang di Aceh tidak hanya ada di Aceh Utara tapi juga ada di Aceh Timur. Adanya praktek pencurian udang di kawasan Aceh Timur sempat membuat suhu keamanan menjadi agak memanas antara Aceh dan Sumatera Utara.

Lebih dari itu politik ekonomi pemerintah RI yang kelihatan lebih memihak kepada pengusaha non pribumi dan juga tidak dijalankan dengan selektif membuat bisnis mereka yang mengandalkan dukungan modal terseok-seok dalam menjalankan usahanya, termasuk TD. Pardede.

Meski begitu, usaha TD. Pardede di bidang penginapan masih tetap jalan di Aceh Utara hingga sebuah peristiwa pemboman dilakukan terhadap Cottage Surya Aceh pada tahun 1988. Meski tindakan peledakan itu tidak sampai membuat Cottage Surya Aceh tutup namun 11 tahun kemudian (1998) tindakan kekerasan kembali menimpa, Cottage Surya Aceh dibakar.

Tentang mengapa Cottage Surya Aceh sampai diledakkan pada tahun 1988 dan kemudian dibakar pada 11 tahun kemudian masih menjadi misteri yang hanya bisa ditemukan penjelasan yang tidak dibuktikan secara hukum. Dari media hanya bisa terbaca alasan yang memicu kerusahan bahwa Cottage Surya Aceh menyediakan layanan esek-esek. Jika ini alasan sebenarnya mengapa hanya Cottage Surya Aceh yang dibom sementara ada beberapa hotel di Lhokseumawe yang sangat mungkin juga dilekatkan isu yang sama sebagaimana isu dilekatkan pada bisnis penginapan milik TD. Pardede.

Artinya, sangat mungkin ada motif perang bisnis atau bahkan motif yang lebih keras, seperti motif yang banyak diperkirakan pada saat Cottage Surya Aceh dibakar pada rusuh 31 Agustus 1998 di Lhokseumawe. Sebuah analisis pernah dibuat oleh LSM CDI terhadap kerusahan yang memperlihatkan aksi massa yang berani dan terorganisir. Dan, Cottage Surya Aceh pun dibakar hingga rata dengan tanah. Namun, apapun alasan yang melekat dan tersimpan di balik peristiwa yang menimpa usaha milik TD. Pardede di Aceh pada akhirnya memang harus diakui kalau bisnis TD. Pardede di Aceh begitu berbadai.

Satu pertanyaan, akankah pewaris bisnis TD. Pardede akan kembali membuka usahanya di Aceh? Jika TD. Pardede begitu bernyali, berani dan tidak takut bangkrut mestinya DNA itu juga ada di tubuh anak-anaknya, tentu saja sambil berharap agar negeri Aceh menjadi negeri yang berani berdamai setelah sebelumnya berani berperang.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 378 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: