Ayat-Ayat Serambi Cinta

AYAT-AYAT CINTA

DARI SERAMBI CINTA

3 Surat – 313 Ayat

DAFTAR ISI|

Bagian Kedua: Awalan

Bagian Ketiga: Surat Langit

Bagian Keempat: Surat Lautan

Bagian Kelima: Surat Bumi

____________

AWALAN, 21 Ayat| Bismillah

“Aku berharap hatimu damai menghadapi getirnya perjalanan ini. Dari tikungan jalan sunyi ini aku berpasrah hati.”

SURAT LANGIT, 89 Ayat|Menanggkap Isyarat Cinta

Ayat-Ayat  Bintang, 9 ayat| “Lewat bulan kita saling menatap sambil meraba gemuruh di hati”: 9 Ayat

Ayat-Ayat Rembulan, 63 ayat|” Bersamamu kasih, hidup lebih terasa dan terasa lebih hidup, juga terus hidup serta hidup terus, bersamamu kasih.”

Ayat-Ayat Mentari, 17 ayat| “Menemani bidadari memetik sari matahari pagi agar senyum tersimpan kembali warna warni.”

SURAT LAUTAN, 57 ayat|Gelombang Hati

Ayat-Ayat Pasir, 7 ayat| “Satu, yang menyatu itu terburai dalam tatapan.”

Ayat-Ayat Badai, 12 ayat| “Jarak tempuh menggapai rindu ternyata hanya sekedip mata.”

Ayat-Ayat Gelombang, 4 ayat| “Membaca Catatan Jejak di Buku Hati Kita.”

Ayat-Ayat Perahu Cinta, 34 ayat| “Senja datang dan menghilang, tapi sentuhan kaki langit menancap hingga bulan tiba.”

SURAT BUMI, 146 Ayat|Kalah di Tikungan Sejarah

Ayat-Ayat Dinda, 61 ayat| “Hanya sekejap, dan kau pun berlalu pergi….”

Ayat-Ayat Kanda, 48 ayat| “Jeeeh….”

Ayat-Ayat Istana, 37 ayat| “Tak kan beranjak….”

__________


AWALAN, 21 Ayat| Bismillah

“Aku berharap hatimu damai menghadapi getirnya perjalanan ini. Dari tikungan jalan sunyi ini aku berpasrah hati.”

  1. AWALAN: Bismillah
    1. Di Jalan Sunyi  ini aku kehilangan kata oleh makna yang kau maklumkan.
    2. Selamat pagi kekasih Allah. Andakah hamba yang dikasihi-Nya?
    3. Takdirmu adalah perasaanku, kehendakmu adalah pikiranku, ridhamu adalah tindakanku. Tanpamu aku tiada.
    4. Ya Rasul.
    5. Duh, kaseh.
    6. Tuhan, terima kaseh untuk kaseh yang hader di hateku
    7. Ya Rabbi, begitu kukagumi malammu yang dengannya aku dilanda rindu. Rindu oleh rayuan rembulan, kedipan bintang, dan belaian hembusan angin malam. Jika dengan satu ciptaanmu saja aku begitu terpikat maka betapa malunya hatiku kala aku masih saja berpaling dari seruan merdumu. Duhai, aku tak kuasa menepis malu di hati.
    8. Ya Allah, luar biasanya titik yang darinya jagad raya tersingkap. Aku bukan siapa-siapa walau hanya dengan satu titik.
    9. Ya Rab, maaf aku datang walau kusadar aku bukan dari golongan yang engkau panggil dengan kalimah indahmu “ya aiyuhallazi naamanu.”
    10. Tuhan. Terima kasihku karena telah kau penuhi hatiku dengan kebahagian malam ini. Engkau memang maha pemberi dan lagi maha pengasih.
    11. Mahasuci Allah dan segala pujian bagi-Nya, sebanyak bilangan ciptaan-Nya, seluas samudera keridhaan-Nya, dan seberat timbangan ‘arasy-Nya, jua sebanyak tinta yang digunakan untuk menulis kalimah-Nya. Subbahaanallah wa bihamdihi-Subbahaanallah wa bihamdihi.
    12. Alif Ba Ta
    13. Tuhan, aku malu.
    14. Tuhan, gasehmu begitu menyentuh qalbu….
    15. Mengetuk pintu pagi, sambil melirik mentari di atas bukit, berharap menemukan ranting kering, unt mencambuk jiwa agr senantiasa peka padamu duhai pemilik jiwa
    16. Duhai… Jalan Sunyi ini begitu gelap. Tapi aku telah memilih takdirku untuk melewati jalan sunyi ini, walau tanpa dirimu…Aku yakin, kau akan menemuiku di ujung perjalanan –nafas terakhirku.
    17. Aku berharap hatimu damai mhadapi getirnya perjalanan ini. Dari tikungan jalan sunyi ini aku berpasrah hati
    18. Menjemput malam yang tertunda. Kan ku baca lagi buku rindu yang belum usai.
    19. Kemanapun daku menghadap disitu “wajah” Mu. Duhai, engkau yang telah melingkupiku dengan kasih sayang, aku malu kala bercermin karena belum kutemukan kehambaan pada diri. Maafkan daku duhai sang penguasa jiwa.
    20. Tuhanku, sungguh malu hatiku menyambut kasihmu yang tiada berpilih kasih berbagi kemahadasyatan pagi yang denganya kami semua akan bangkit. Aku dari semalam hingga pagi ini, hanya mampu memberi kasih untuk dirinya seorang, lewat senyum tanpa kata.
    21. Satu satu daun berguguran, satu satu insan berpergian, satu satu tinggalkan kenangan, satu satu kembali ke yang satu.

SURAT LANGIT, 89 Ayat|Menangkap Isyarat Cinta

Ayat-Ayat  Bintang, 9 ayat| “Lewat bulan kita saling menatap sambil meraba gemuruh di hati”

Ayat-Ayat Rembulan, 63 ayat|” Bersamamu kasih, hidup lebih terasa dan terasa lebih hidup, juga terus hidup serta hidup terus, bersamamu kasih.”

Ayat-Ayat Mentari, 17 ayat| “Menemani bidadari memetik sari matahari pagi agar senyum tsimpan kembali warna warni.”

  1. SURAT LANGIT
    1. Ayat-Ayat Bintang
      1. Di Takdir Jalan Sunyi ini aku tergulung gelombang rindu dan sungguh tak kuasa mencari tepi karena dasyatnya arus kasih sayangmu
      2. Lewat bulan kita saling menatap sambil meraba gemuruh di hati
      3. Tak sabar menunggu malam karena saat itu lah kau datang menyapa dan memberi kekuatan, juga senyum penjemput mimpi
      4. Duhai, di Jalan Sunyi ini kita bicara dari hati ke hati, tanpa suara tapi nyaringnya menyentuh sukma, persis seperti sentuhan awal kala kuterima takdirku untuk menempuh perjalanan sunyi ini
      5. Duhai…di Jalan Sunyi ini “gelap memberi cahaya, sunyi memberi bunyi, dan hati semakin dipenuhi rindu. Rindu cahaya, rindu suara, dan rindu dirimu sang pemilik jiwa.”
      6. Duhai… jalan sunyi ini semakin membuatku berdebar karena tiada tepian yang bisa ku memapah diri. Semakin engkau menjauh, semakin membuat langkahku terpijak duri kesyahduan. Duhai, berilah daku sedikit cahayamu, walau sepetik senyum semalam yang kau kirim lewat rembulan
      7. Bertemu denganmu adalah kerinduan yang terus ku syairkan, hingga aku dan dirimu saling berkata “kita telah berjumpa”
      8. Ungkapan kasihmu membuat langit hatiku cerah. Diam-diam aku merasakan kehadiranmu
      9. Di jalan sunyi ini aku kehilangan jejakmu, padahal kita baru saja saling memberi isyarat

***

  1. Ayat-Ayat Rembulan
    1. Mendengar gesekan biola lewat senar angin malam. Pelan, tapi mampu buat ku bahagia tuk menjemput sinar rembulan, malam ini.
    2. Bersamamu kasih, hidup lebih terasa dan terasa lebih hidup, juga terus hidup serta hidup terus, bersamamu kasih.
    3. Aku merdeka mengungkap cinta padamu dan kau pun begitu.
    4. Andai ku tak bisa mencintaimu di alam nyata ku kan mencintaimu di alam maya bahkan ku akan menunggumu di semua alam yang ada. Andai ku bisa mencintaimu di alam ini ku kan terus mencintaimu di segenap alam yang ada, tanpa berhenti sedetik jua.
    5. Dalam diammu aku menemukan makna kasih terdalam
    6. Kau, yang membuat hatiku, bergetar
    7. Malam di jalan menjemput bintang, ku sebut sebut namamu, ku ingat ingat kenangan 7 rembulan.
    8. Jika buku malamku belum bisa kau baca jangan paksa diri untuk menunggu pagi tiba. Cukup lihat daftar isinya kau akan segera menemukan hal bab perahu cinta
    9. Menata hati untuk lebih bisa menangkap makna kasihmu yang terdalam
    10. Katakan dengan hatimu, pasti kan kurasakan
    11. Doa malam untukmu yang ada di hatiku
    12. Selimut malam yang dingin. Dan, kala kusebut namamu kehangatan menyergap jiwa. Duhai…
    13. Maafkan daku jika lagi-lagi membuatmu kecewa. Dan daku malu karena tak berkurang kasihmu padaku.
    14. Dibelai angin malam. Dalam diam kuukir kerinduan sambil mendaki kegelapan
    15. Menjemput malam dengan kekaguman yang dasyat pada proses pengantian siang dan malam. Aku malu pada rindu yang terabaikan
    16. Melihat diri di cermin malam mu duhai rabbi, daku tiada lebih hebat dari seeokar nyamuk kecil.
    17. Membaca mantra senja berharap dirimu kan tiba menyapaku dg senyum rembulan.
    18. Tersandung kaki malam usai memetik senja merah jingga. Ku titip salam untuk mu karena aku akan berlalu, jauh
    19. Menyentuh dinding langit malam. Aku tersengat kobaran api kerinduan di kesunyian jiwa. Duhai, Engkau dimana?
    20. Menelusuri jejak awan di langit sunyi sambil menepis kabut di hati
    21. Akhirnya, kutemui lagi dirimu duhai sang malam. Izinkan kuteguk anggur kesyahduan lewat cangkir bulat rembulan tengah malam. Kuharap, tak ada ketukan pintu karena kesunyian adalah bilik pertemuan hati kita.
    22. Menemani malam yang mulai merayu hati. Adakah di sana engkau menungguku dengan secangkir anggur cinta?
    23. Lagi, dan lagi ku ketuk pintu malam dan berharap kau masih menungguku (walau untuk ptemuan sejenak) tanpa kata.
    24. Membasuh hati dengan embun malam
    25. Ingin cepat tidur agar tak mabuk di perahu patah tiang. Malam, jemput aku ke peraduanmu, secepat buaian angin basah.
    26. Menunggu saatnya meminang rembulan. Duh, sang pengantin malam itu membuatku berdebar dalam penantian.
    27. Cepatlah pergi matahari karena rembulan menungguku di batas malam
    28. Melihat bayang melayang-layang terus membayang kala siang penuh kesetian, moga hingga rembulan datang kita tetap dalam kasih sayang duhai teman kawanku sayang.
    29. Merasakan denyut nadi malam sambil berselimut rindu (adakah dirimu sedang menyapa rembulan?)
    30. Malam semakin larut. Tapi tidak dengan hatiku.
    31. Mari diam sejenak, mendengar bisikan hati (dan lanjutkan percumbuan hidup tanpa harus menunggu mimpi tiba)
    32. Pejam dan berjalanlah…
    33. Para sufi malam, kutitip rembulan dan bintang padamu dan daku menepi dengan secangkir air tape 33 malam. Jika siang kau temukan seuntai syair itulah syair kemabukanku.
    34. Di luar angin membaca perasaan. Di dalam, perasaan dibuai angin (adakah aku di dalam hatimu, kaseh)
    35. Menunggu
    36. Kenapa bulan cepat sekali muncul padahal disini malam masih lama tiba
    37. Malam mengajariku kalau di “Lorong-lorong gelap tetap saja tersedia cahaya bagi mereka yg menggunakan mata hati. Dan, di setiap pejam mata tersedia keindahan yang cukup untuk membasuh luka hati.” Terimakasih penguasa malam, mata, dan hati untuk pengajaranmu malam ini.
    38. Bersamamu, ku ingin kita mendaki tebing malam tanpa suara dan kala kita tiba di bulan kan kutulis kalimat yang paling kau suka: AKU CINTA KAMU. Bumi pun tersenyum.
    39. Di tikar awan putih ini, kembali ku baca Hikayat Cinta teruntuk hati-hati yang galau. “Bek putoh asa hai bungong panjo u loen disino gaseh keu gata…” (Jangan putus asa wahai kekasih daku mencintaimu)
    40. Bintang, cahayamu begitu dekat tapi untuk menggapaimu, begitu jauh.
    41. Kala mataku terpejam sesaat engkau hadir menyapa. Hatiku berbunga, sungguh.
    42. Terbangun karena disentuh rindu dan akan tidur lagi setelah kusalami rindu
    43. Disudut khayal senja. Indah nian bertemu dirimu kaseh.
    44. Ingin, dan slalu ingin menyapamu dengan cinta
    45. Disudut khayal senja. Indah nian bertemu dirimu kaseh.
    46. Bulan hadir dipangkuan terapit senyum manis bibir bergincu merah senja langit. Di luar angin merebahkan daun pisang
    47. Di luar bulan masih mengintip dan cahayanya ku pinjam tuk memandang kekaseh hate
    48. Disudut khayal senja. Indah nian bertemu dirimu kaseh.
    49. Aku menemukan lilin di kegelapan malam.
    50. Malam cepatlah datang agar diriku segera bertemu kekaseh hateku
    51. Seperti menggengam bulan tangan manismu kugenggam penuh kaseh dan berharap dirimu tabah menjalani cobaan. Di luar awan memayungi.
    52. Bulan mengintip, aku malu karena keasyikan buka buku hatimu
    53. Selamat datang sang kekaseh hate. Bersamamu aku lewati waktu hingga ke batas pagi.
    54. Aku pasrah padamu malam, sepasrah pasir dibasahi ombak lautan
    55. Mengintip bulan tiba…
    56. Setelah semalam kita berbasah cinta bersama hujan, pagi ini tinggal kubilas semua rindu yang tersisa. Please, jangan intip aku dengan cahaya mentarimu. Aku malu
    57. Di mihrab senja ini, semua tentang dirimu hadir nyata di hadapanku, persis spt memandang potret diri.
    58. Selimut hati telah ku sibak maka mendekaplah segenap rindu
    59. Setiap kelam ku baca lembar demi lembar sebagai buku hatimu, sejak sore ini. Tetap saja jepit hitam menjadi tinta yang membekas. Isyarat apa? Kelam.
    60. Malam ini buku kerinduan kututup karena seluruh ayat-ayat cintamu telah kuhapal dengan lafazd termerdu, disudut hati
    61. Kutulis cinta di kaki langit malam, sambil berharap kau menyentuhku dengan cintamu malam ini, walau hanya sekedar puisi di hatimu.
    62. Bulan merangkak pelan menghilang disudut mata yang tak kunjung terpejam
    63. Menanti senja tiba

***

  1. Ayat-Ayat Mentari
    1. Engkau matahari hatiku, aku rindu senyum manismu di redup sendu awan menghalau pandang mataku akan dirimu.
    2. Kalau engkau mengingatku pagi ini, bukalah jendela kamarmu dan lihatlah pucuk daun. Aku sedang melambai rindu padamu.
    3. Hai, ku ingin menyapamu dengan senyum pagi terindah, dan berharap dirimu baek-baek saja. Dan kalau dirimu ingin sesuatu, katakan saja. Daku akan memberimu segera, termasuk memetik mentari.
    4. Doa pagi dan siang untuk mu yg ada di hatiku
    5. Di sengat terik siang yang amat di kota juang
    6. Menemani bidadari memetik sari matahari pagi agr senyum tsimpan kembali warna warni
    7. Kau, yang membuatku tersenyum pertama kali di jalan sunyi, hari ini
    8. Seperti matahari menitip cahayanya pada rembulan kau pun menitip kasihmu dihatiku, yang dengannya aku terus merindu. Duh…
    9. Memetik matahari pagi di ujung daun yang layu
    10. Aku mencium harum wangi bunga setiap kali kau datang. Maka sapalah aku walau dengan sekedip lirikan
    11. Kala aku kepanasan kau hadir dengan semangkuk air. Mataku berbinar, sungguh
    12. Menjemput matahari
    13. Menyerap matahari
    14. Pagi ini, aku ingin memanggilmu dengan panggilan KEKASEH HATEKU
    15. Segelas kopi, tujuh teguk rindu. Sebatan rokok, terkepung sesak asmara. Duh…
    16. Kucium kehangatan siang ini sambil berharap ada pucuk daun jatuh sebagai isyarat
    17. Sambut cuaca panas dengan hati dingin

SURAT LAUTAN, 57 ayat|Gelombang Hati

Ayat-Ayat Pasir, 7 ayat| “Satu, yang menyatu itu terburai dalam tatapan.”

Ayat-Ayat Badai, 12 ayat| “Jarak tempuh menggapai rindu ternyata hanya sekedip mata.”


Ayat-Ayat Gelombang, 4 ayat| “Membaca Catatan Jejak di Buku Hati Kita.”

Ayat-Ayat Perahu Cinta, 34 ayat| “Senja datang dan menghilang. Tapi sentuhan kaki langit menancap hingga bulan tiba”

  1. SURAT LAUTAN
    1. Ayat-Ayat Pasir
      1. Maafkan daku duhai langit, ini puisi terakhirku, yang kutulis di dinding awan putihmum jika ku tak kembali, jangan cari aku di samudera, tapi ikuti saja jejak ku di kaki senja, atau kala pagi tiba, jika kau ingin menyapaku, cukup kau sentuh angin, krn ku ada di kesunyian hatimu, atau, cukup tatap rembulan, karena ku ada di kegelapan jiwamu, dengan biola cinta ku akan berjalan di takdirku, JALAN SUNYI.
      2. Yang aku punya cuma catatan tua, kawan. Semua episode kepedihan telah kuhapus agar cintaku padamu tidak sedikitpun berkurang. Negeri ini masih membutuhkan seribu tangan penuh kasih untuk membuatnya tak jatuh lagi ke mimpi yang dulu pernah sangat kita takuti. kaseh, kala hatimu terbakar cemburu siramilah dengan segelas anggur cinta. sejujurnya, engkau masih ada di hate ini…
      3. Satu, yang menyatu itu terburai dalam tatapan
      4. Aku melihat gelombang yang tidak tenang tapi perahu mengarunginya seperti tak akan tiba badai. Ikan, satu-satu menggelepar dari rahimnya.
      5. Tuhan, kami ini siapa dalam catatan harianmu? Demokrat? Liberal? Kapitalis? Sosdem? Kaum Kiri? Pejuang? Pendosa? Relawan? Politikus?
      6. Usah kau maklumkan lagi rindumu padaku setelah kau tiup badai perang usai senja menyapa malam kala itu. Usah kau hadirkan gelombang pasang padaku usai kau patahkan sayap demokrasi pasca perang bertahun lalu. Aku pasir yg merekam jejak walau jilat lidah riak laut menistakan sejarah. Kau badai memang pahlawan. Kau gelombang memang penguasa. Tapi aku pasir tempat para wali membasuh nista zaman.
      7. Mengapa kau tetap pilih aku sebagai teman padahal sudah ku kirim isyarat ketidaksetiaan. Mengapa masih saja kau ajak aku berfilsafat padahal telah ku tulis opini kerancuan. Mengapa masih kau ajak aku untuk melawan padahal sudah kuteriakkan kata diam. Mengapa masih kau ajak aku untuk menggapai kemenangan padahal sudah ku lansir kekalahan. Aku ini cuma pasir, teman.

***

  1. Ayat-Ayat Badai
    1. Meski diriku terbebas dari kepungan hujan badai tapi aku masih tetap terkepung badai rindu padamu, bahkan saat ini, kala ku ada bilik kamar ini, senyummu terus hadir, nyata, senyata buliran hujan yang melekat di jendela kamar
    2. Separuh jiwa mu ada bersama ku, separuh jiwa ku ada bersama mu, ku ingin kau selalu ada di hatiku, kau ingin ku selalu ada dihatimu, melewati gerimis dan terik mentari, sendu rembulan dan kedipan bintang,  tanpa mesti bertemu atau berkirim pesan, karena engkau dan aku ada dalam setiap tarikan nafas
    3. Kau sapa aku dengan gerimis….
    4. Kala hujan menyapa bumi bermekaranlah bunga-bunga, dan sungguh kala kau menyapaku hati ini berbunga-bunga
    5. Ku ingin selalu bisa menyapamu, walau cuma lewat angin dan gerimis, dan berharap suatu ketika kau ingin btemuku walo sekedar lewat mimpi.
    6. Jarak tempuh menggapai rindu ternyata hanya sekedip mata
    7. Kosong……
    8. Persis kala hujan kau hadir, dan mata jiwapun tak lagi hendak terpejam. Sekeping jepit hitam masih melekat dalam ingat.
    9. Hati terkepung nuansa pagi diantara bebukitan bertapak hamparan gampong daroy kameu. Angin menyapa pucuk-pucuk bak lambaian panggilan cinta dara manis berkerudung asma ilahi. Ada desir mengaliri sudut hati, pelan-pelan
    10. Ada bahasa cinta di untaian hujan, dan isyarat langit kelam semakin mendramatisir imaji liar, duhai….
    11. Hujan telah usai, alhamdulillah (semua yang berdoa dan berharap) sudah dikabulkan-Nya
    12. Hujan, alhamdulillah

***

  1. Ayat-Ayat Gelombang
    1. Akhirnya, ku tutup jua buku gelombang ini setelah ombak tak lagi menyentuh ujung kaki yang mencari jejak hati walau di langit masih ku harap menemukan  bayang-bayang kerinduan. Aku ingin rebahkan hati agar lelah tak sangat menusuk sukma
    2. Melukis di kanvas samudera sambil terus berharap layar kan tiba untuk kembali arungi lautan rindu
    3. Membaca Catatan Jejak di Buku Hati Kita
    4. Menepi sejenak, dari jangkauan matahari, sambil memukul rapai, mencari nada perlawanan, siapa tau ia masih ada, untuk mencambuk gairah, melawan mitos kekuasaan

***

  1. Ayat-Ayat Perahu Cinta
    1. Awalnya, ku ingin memiliki karena mencintai. Akhirnya, ku mencintai tanpa mesti memiliki. Terimakasih Cinta
    2. Sapamu semalam (mimpi) menepis kabut di langit hati hari ini. Tapi layar msh belum terkembang jua dan badai rindu masih belum berlalu
    3. Mabuk rindu: gelas anggur kasih ini hanya mampu ku tatap tanpa mampu keteguk lagi
    4. Di samudera ini mana lah mungkin aku berlayar sendiri. Aku akan karam tanpa kemudi, dan tak tiba di tujuan tanpa layar. Jaka pun ada sejuta bintang, hanya satu yang ku jadikan pegangan. Dirimu
    5. Akhirnya, aku telah memilih takdirku melewati jalan sunyi ini, jalan yang ku yakini dapat mengantarkan aku bertemu denganmu, duhai sang penguasa jiwaku
    6. Melalui rembulan aku mencuri pandang dan melalui bintang ku sematkan kedipan rindu untmu seorang. Selamat tidur kekasih jiwa
    7. Aku memang bukan arjuna yang punya busur gandiwa, juga bukan kresna yang kerab membaca kitab “Nyanyian Tuhan”. Tapi aku hanya pengembara yang dengan Perahu Cinta ingin menyampaikan ayat-ayat cinta padamu, saraswati. Maka teruslah bermekaran dan menebar parfum cinta kasehmu, duhai laksmi.
    8. Meski kerap aku berpaling engkau senantiasa berlari untuk menyambut deklarasi cintaku yang kerap putus oleh goda waktu.
    9. Kutahu aku ada di hatimu dan engkau ada di hatiku
    10. Menembus pagi, menelusuri hati-hati yang galau, aku datang untuk menyapa, dengan sekuntum syair perahu, agar semua kembali saling membantu, mengejar rindu yang dipuja.
    11. Badai rindu melanda lautan hati. Perahu kata kehilangan kendali. Duh…
    12. Bintang, kemunculanmu menuntunku lepas dari gelisah malam
    13. Ku sebut namamu 3 kali, aku dahaga akan rindu Ku sebut namamu 7 kali, aku terbakar cinta Ku sebut namamu 33 kali, aku terbelenggu kasih Ku sebut namamu 100 kali, aku fana. Kau dan aku satu
    14. Aku terapung di samudera cintamu dan berharap tak akan menemukan tepian. Semalam, sentuhan kasihmu lewat angin masih ku rasa hingga kini
    15. Kanvas putih-biru langit hari ini ku isi lagi dengan lukisan kekaguman akan kasihmu.
    16. Sisa hujan masih saja menebar aroma dirimu di saraf cintaku. Subhanallah
    17. Lautku penuh. Air hujang kepedihan menyesakkan samudera. Tapi dirimu selalu ada di hati
    18. Di luar bulan masih menunggu ku peluk. Disini pekat malam hanya mampu mendekap dinginnya dinding pagi
    19. Menunggu bulan jatuh ke pelukan setelah gairah mengiris di sepanjang siang. Dengan isyarat jemari, ku sebut namamu 33 kali
    20. Teruntuk lakmi dan saraswati: “Barangsiapa menulis cinta di langit niscaya bumi diberkahi kasih. Barangsiapa menanam satu benih damai di bumi ia mendapat berlimpah pohon kebajikan menuju pemilik langit dan bumi”.
    21. Bulan menjadi matamu mentapku. Angin menjadi tangan mu menyentuhku. Aroma dedaunan menjadi parfum mu yang membuatku terawasi akan kasihmu
    22. Aku tersesat di samudera cinta. Anggur asmara membuatku mabuk. Tapi ku yakin kau tak kan menepis rasa di hati karena cinta telah mengikat jiwa
    23. Sungguh, rasa kasihmu meleburkan jarak menepis sekat. Kau dan aku terhubung oleh tali rasa
    24. Kucari dirimu di mana-mana, ternyata ada di dalam hatiku
    25. Aku adalah aku di cermin diri. Di cermin hati aku adalah dika
    26. Di samudera hidup, aku lah perahu yang mencari dan kau cari
    27. Dan kita saling mendekat lewat makrifat kehidupan (air, api, tanah, angin)
    28. Jika bukan untuk dirimu untuk apa aku hidup. Kalau hidup tidak untukmu apa artinya hidup. Bersatu denganmu adalah awal dan akhir yang ku harap
    29. Kusebut namamu lagi seiring nyanyian langit malam membasuh bumi. Kusimpul temali jiwa agar tiada yang berpaling. Kuhitung ketukan hujan untuk menjadi syair pengobat rindu
    30. Namamu menjadi tali pendakian kehendak. Menyebutmu, sekali saja, jiwaku melebur
    31. Malam ini, aku tercebur di samuderamu
    32. Engkau samudera aku hanya pengelana yang mencari ujung walau yang ku dapat baru bibir pantai.
    33. Perahu cinta: bulan mengintip di atas samudera malam. Aku yang di perahu tak lelah mengayuh untuk menepi hati yang merona kesyahduan. Kaki langit membisu tapi ku tangkap isyarat buaian asmara.
    34. Senja datang dan menghilang. Tapi sentuhan kaki langit menancap hingga bulan tiba

SURAT BUMI, 146 Ayat|Kalah di Tikungan Sejarah

Ayat-Ayat Dinda, 61 ayat| “Hanya sekejap, dan kau pun berlalu pergi…”

Ayat-Ayat Kanda, 48 ayat| “Jeeeh….”

Ayat-Ayat Istana, 37 ayat| “Tak kan beranjak….”

  1. SURAT BUMI
    1. Ayat-Ayat Dinda
      1. Dik, meski perlawanan dan perang adalah juga tindakan solusi untuk mencapai tujuan tapi jangan pernah kau tempatkan dalam daftar list strategimu ya. Jika ada yang mengatakan dirimu bodoh jawablah dengan senyummu sambil melantunkan lagu ‘Jak Ta Bangun Aceh.’
      2. Dik, malam telah tiba. Jangan pernah takut kalah ya. Kadang, di kekalahan kita dapatkan strategi meraih kemenangan baru. Kita nyanyi lagu ya rasul usai ma’grib yoookk..
      3. Dik, setelah sebelumnya kita disiram hujan kini kita bermandi panas menyengat. Begitulah kehidupan, terus berputar. Maka bersiap diri lebih utama dari menyalahkan kekeliruan. Unt mereka yang maju, kekeliruan adalah anak tangga sukses berikutnya. Jangan lupa senyum, dik ya.
      4. Dik, konflik bisa menjadi generator perubahan karena ia mdorong kita untuk memperbaiki kesalahan. Tanpa konflik, kita menjadi diri yang diam. Tapi konflik tidak sama dengan kekerasan ya dik. Sikap, tindakan, dan keadaan yang menyakiti, melukai, dan mematikan itulah kekerasan. Apakah dirimu melihat banyak kekerasan yang sudah berlaku di negeri kita, dik? Oh ya dik, kakak izinkan dikau membaca lagi Serambi Cinta. Saleum peACEHeart
      5. Dik, pagi sudah tiba. Buka lah jendela dan liatlah negeri kita yang baru usai dari perang dan bencana. Kini sedang terus berbenah. Jangan lupa liat juga kuncup daun kates yang kakak suka, mungkin sudah bisa untuk dipetik.
      6. Dik, jangan lupa basuh muka dan berdoa sebelum tidur ya. Jika mungkin, berdoalah untuk kasih sayang kita agar dunia penuh dengan cinta. Konflik hanya akan membuat kita terpisah lagi padahal masih di negeri sendiri.
      7. Dik, kita memang beda dalam menyayangi. Tapi itulah kita ya. Maka jangan berhenti membasuh kasih agar hatimu terus dewasa dalam menatap dunia. Salam kasih untuk mu. Jangan lupa membaca bab perahu cinta
      8. Aku hanya punya satu sayap, dan ku ingin bisa terbang menemui mu walau akhirnya aku hanya bisa sekedar mengulur tangan untuk kau sentuh
      9. Angin berbisik: “Engkau dimana, dengan siapa. Di sini aku merindumu.”
      10. Kau dan Aku memang beda. Tapi percayalah, kan ku hormati perbedaan itu seperti aku menghormati hati dan pikiranku.
      11. Catatan Merah itu sudah hilang di pertemuan terakhir kita. Kau dan aku tidak lagi menjadi kita di tikungan nasionalisme ini
      12. Hanya sekejap, dan kau pun berlalu pergi…
      13. menunggumu bagai memetik mawar di kebun permaisuri. adakah engkau tiba pada waktunya? angin berbisik (bak sutera putih)
      14. Senyum manis. Moga kau baik2 saja
      15. Aku, lewat bintang tersisa di langit pagi sedang mengintip mu membuka mata menyambut matahari mjalani hari. Semangat ya
      16. Membuka buku rindu kita. Ada catatan tidak selesai. Tapi kau sudah pergi…
      17. Kau…
      18. Keranamu kekaseh hate
      19. Hari ini, aku ingin melupakan semua, juga dirimu dan kenangan yang ada. Sejenak, aku ingin hatiku kosong untuk menguji sejauh apa, aku merinduimu.
      20. Seuntai bisikan melintas, menyusup ke hati, mendamaikan jiwa: “Andai engkau rindu, lihatlah rembulan. Kalo tidak ada, ku kan menjadi angin yang senantiasa berbisik rindu di telingamu.” Duuch
      21. Esok daku kan pergi. Jangan menangis, karena tembang rinduku kan selalu ku nyanyikan untukmu, meski lewat simponi rembulan atau mungkin lewat orkestra hujan senja. Dan, saat hatimu rindu pejamkan matamu karen aku kan hadir dalam bayang rindumu. Jaga tali rindu kita karena hanya itu yang kita puny untuk menggapai istana cinta.
      22. Aku selalu ada kala langit hatimu mendung. Jangan lagi ragu untuk mengepak sayapmu. Terbang tinggilah, gapai hasrat hatimu dan aku bersiap menjadi ranting persinggahan kala dirimu dilanda gelisah jiwa.
      23. Di jalan sunyi ini aku sejenak membaca mantra hati untuk menghalau gilisah dan gundah hatimu. Karena itu, ku mohan, jangan patahkan sayapku, justru kala aku sedang berada di tikungan cinta.
      24. Tuhan tidak sedang bercanda
      25. Aku ingin kau tersenyum krn itu isyarat cinta yang bisa ku baca dengan sengenap jiwa. “Di luar langit belum melepas pekatnya.”
      26. Dasyatnya sentuhanmu… (hujan masih jatuh satu-satu di hatiku)
      27. Ada embun di taman hati, setelah kau sirami aku dengan kasihmu, semalam
      28. Kala kau menyapaku dengan cinta, aku kehilangan bahasa. Jangan berpaling lagi. Aku tak kuat memikul rindu ini, padamu. Ya, padamu. Padamu, pasti.
      29. Melihatmu, sebuah keindahan tak terkira
      30. Dukunganmu, mengetar jiwa.
      31. Nyanyi yok: loen galak gata| gata galak keu loen|loen gata galak-galak|i love you| you love me|aku suka kamu|kamu suka aku|aku kamu suka-suka|i love you|you love me
      32. The power of love di kaki langit senja. Mengeja alif ba ta menjadi kidung cinta, untukmu.
      33. Dengan syairku dunia bisa kubuat kembali berperang tapi belaian kasihmu membuatku hanya berhasrat menulis syair cinta. Bersamamu, membuatku tak ingin dunia ini, kiamat.
      34. Pagi ini, aku tidak lagi mencarimu karena kau ada di sini. Ku ketuk pintu kasihmu dan mengucap salam cinta: aku datang kekaseh. Mendengar sapaan indahmu, mjd keindahan menakjubkan.
      35. Ingin, dan selalu ingin menyapamu dengan cinta
      36. Suara… Dengarkanlah aku… Apa kabarmu… Pujaan hatiku… Aku disini menunggunya…
      37. Cinta itu anak panah yg menancap di lubuk hati dengan kecepatan tidak terukur. Dan, seterukur apa?
      38. Kukirim saleum cinta untukmu dan berharap engkau baik-baik saja…
      39. Senyum manismu masih terus menemani denyut nadi cintaku. Dan, tak kan terkikis oleh kisah mahabrata.
      40. Mencium parfummu buat aku tidak bisa berpaling
      41. Setiap kali namamu kusebut di hati perahu cintaku melaju tanpa menyentuh samudera kehidupan. Di luar hujan kembali menjadi tali penghubung rindu ini untukmu
      42. Siapa disana yang sedang merajut kasih dengan senyum mengembang?
      43. Bersamamu, kata-kataku tiada lagi bermantra. Duhai, aku tak bisa menyembunyikan lagi lagu rindu di detak jantung ini…
      44. Masih tercium bau parfummu di jalan yang ku lalui. Dan, bunga kelapa itu kembali jatuh dilirikan pertamaku, persis kala itu. Kala aku melintas di tepian garis pantai
      45. Itukah daun isyarat? Atau cuma ilusi senja bertemu isyarat?
      46. Diam tapi bergerak. Bisu tapi penuh bahasa
      47. Di perjalanan ini ada banyak jepit penuh warna tapi tidak ada jepit hitam milikmu.
      48. Angin mendesir diantara daun-daun, menyelinap ke bilik jiwa, membisik cinta. Sejenak, ku temukan pintu-pintu cinta di rumah masalalu Daroy Kameu. Bersama angin, kucumbui kenangan itu, perlahan…
      49. Masih saja ku dengar dengan simak terdalam
      50. Di kertas hatiku kembali kutulis 99 namamu tapi tetap saja hilang 11
      51. Senyum itu amat dekat di hati
      52. Begitu dekat dirimu, hanya senafas
      53. Maka bertemulah rindu di bilik daun, malam itu. Persis kala malam menjemput pagi tiba. Duh, suara hati.
      54. Menjemput pagi, menjemput rindu, dirimu
      55. Kusebut namamu, selalu
      56. Duh, laksmi
      57. Rindu sosok tak pernah bertemu, saraswati
      58. Kasehku, cinta terdalam ku.. selamanya
      59. Hidup berkalung cinta
      60. Menanti
      61. Menyapa, menyentuh, meraih, melepas

***

  1. Ayat-Ayat Kanda
    1. Ada orang yang siap berperang bahkan setelah damai datang. Tapi sedikit yang mau mengatakan “Kita lawan tapi bukan musuh”
    2. Apakah makna Aceh Pungo sekarang masih seperti arti yang dipikirkan Kompeni dulu, atau yg dimaknai secara heroik dalam khazanah perlawanan, jihad insan, atau seperti dalam sebutan analis terorisme sekarang, pengantin.
    3. Dengan cintaku ku perbaiki selimutmu duhai negeriku pantai barat selatan. Ku tau engkau sedang bersedih dari suara gelombangmu. Tabah ya, ku kan baca puisi cinta untuk mu, sepanjang malam ini (kado untuk aceh jaya)
    4. Do the BEST, dont THINK about RESULT
    5. Namaku, aceh, Ayahku, perlawanan, Ibuku, kasih sayang, Kakekku, perang, Kakakku, pemberontakan, Adikku, perdamaian, Istriku, bayang-bayang, Anakku, kegamangan, saudaraku, mata pedang, Temanku, pedagang, Tetanggaku, bulan terang, Pemimpinku, layang-layang
    6. Teman, disenja yang telah lama berlalu kita pernah habiskan waktu untuk mengaji kitab langit. Masih ingatkah kala kita simpulkan “kita tak ada maka kita ada.” Saat itu kita tidak sedang mencari makna untuk simpulan itu. Tapi kini, di senja ini aku tahu kalau kau yang telah tiada (RHM) begitu nyata ada dan sedang menyentuh hatiku.
    7. Dari lembah saree menatap langit. Dari balik daun dan ranting ku telusuri kenangan yang tinggal. Ada rindu menyergap sejenak.
    8. Terjebak badai ulee lee
    9. Dari jauh, aku menggelar zikir pemaafan diri untuk nanggroe yang telah melepas “kupiah meukeutop” (perjuangan) untuk sebuah “topi koboi” (petualangan).
    10. Selalu saja kala sedang fokus pada satu masalah maka masalah lain muncul. Dan buyarlah fokus pertama. Siklus masalah normal? Pola? Strategi? Skenario?
    11. “I want my words engraved on their minds and never to be forgotten”|aku ingin kata-kataku terukir dalam benak mereka dan tak pernah terlupakan. PYM Hasan Tiro (The Price of Freedom)
    12. Kembali menjalani tugas hati: mendengar dengan penuh kasih, dan berkata dengan isyarat cinta (setelah pisau amarah kita potong-potong dan kita simpan di bilik kenangan sejarah)
    13. Dasyatnya Pemaafan: “sebelum catatan kesalahan nya tiba ke hadapan tuhan aku telah memaafkan dirinya.”
    14. Dinausorus punah karena tidak bisa meresfon perubahan dengan cepat. Insting ‘loncatan kehidupan’ di ganti dengan insting ‘cermin ajaib’.
    15. Apa yang membuat kodok bisa selamat sampai sekarang padahal dinosourus sudah punah sangat lama?
    16. Politik Jalan Kekuasaan VS Politik Jalan Damai
    17. Seteguk kopi penghantar jalani sejarah hari ini… (gumpalan putih buram asap rokok menjadi mata batin membaca gerak negeri, yang kaku…achkk…)
    18. Sesungguhnya kita sedang menarik garis, dan jangan takut untuk membuatnya lurus, berkelok, melingkar atau putus-putus. Tuhan maha membimbing.
    19. Di atas kuburan kebencian ini ku tanam batu nisan cinta untukmu, kawan. Ayo, kembali menulis syair perang dan kita baca dengan penuh cinta.
    20. Kucari kau di sekolah, universitas, pasantren, kantor, warung, jalananan, pustaka, google, yahoo, bahkan juga di metacape dan youtube ternyata kau ada di alif, lam, mim, ha.
    21. Aku ini lelaki di pinggir hutan yang di kejar macan kala mencari rotan dan digilas mobil sedan kala berada di jalanan.
    22. Dengan modal perdamaian (Peace) Aceh akan menggapai kemenangan (ACE) terutama jika perdamaian itu dimakna dengan hati dan seni (heART). Menemukan Aceh di dua kata utama itu – peACEHeart – bisa memperkaya usaha menemukan Spirit Keacehan sebagai motiv…asi melakukan perjalanan pulan ke Gampong Masa Depan yang sudah sejak lama hadir dalam bayangan (alam pikiran dan perasaan ureung Aceh) ???
    23. Mengapa masih ada kebencian di kala dunia bergerak ke arah perubahan? “Jika cinta memanggilmu ikutilah meski jalannya penuh liku. Jika sayapnya menyergapmu, pasrahlah, walau pedang yg terselip di sayapnya bersiap melukaimu.”
    24. Prita, airmatamu akan melapukkan tali pengikat ruang ekspresi. Manohara, senyummu menjadi mata panah arjuna yang menikam dada kuasa rahwana. Ada doa berlebih untuk kalian dari lubuk hati ini.
    25. MANOHARA, senyummu ada di tugu ingatanku yang ku dirikan di setiap sudut kota ini
    26. MANOHARA, tetaplah di istana negeri karena di sini cinta dan kasih menebar dari tujuh penjuru mata angin.
    27. MANOHARA, jangan biarkan lagi kuasa membungkam deritamu. Teruslah melawan dgn senyum
    28. MANOHARA, Aku menyimpan catatan kita di peti hati ini
    29. Manohara: dirimu memang bukan TKW tapi apa yang kau alami menegaskan bahwa kekerasan bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Istana bukan jaminan keamanan, apalagi kuasa dibawah tiran. Waspadalah.
    30. Manohara: meski tidak banyak yang mendukung, engkau telah berani menyatakan keterkungkunganmu dengan senyum yang tidak berkurang.
    31. Manohara, jika ia telah merampas sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu maka aku bisa maklumi kenapa engkau pulang dengan segunung lahar api. Jangan menangis lagi ya…
    32. Senja menjelang tanpa ada letusan senjata. Tengkiyu perdamaian
    33. Menyambut hari tanpa ada lagi pikiran “mengibarkan panji-panji perlawanan”. Tengkiyu perdamaian
    34. Telah banyak ragam malam kita lalui. Sungguh, kini malam-malam penuh panorama keindahan. Tengkiyu perdamaian.
    35. Menjemput siang hari dengan sejuta harapan setelah semalam bebas bermimpi. Dulu, kala konflik, mimpipun tdk terjadi krn tdr yg kuatir. Tengkiyu Perdamaian. Saleum peACEHeart
    36. Pulang larut malam pun tidak kuatir lagi. Tengkiyu Perdamaian
    37. Mendengar bisikan: “Anak cucuku, kalian akan mengalami masa badai yang menghancurkan. Tapi kalian juga akan sampai pada masa panen yang mengembirakan. Hanya dengan bekal pengetahuan kalian akan mampu menggapai zaman yang pernah terwujud. Namun, masa kekuasaan akan tiba menggoda yang bisa saja mbuat kalian tergelincir.”
    38. Mengepung matahari dari jalanan berbau keranda, dari warung tak berarloji, dari media berwarta iklanisme, dan dari sesak dada aneuk nanggroe (anak negeri)
    39. Ibu, di koran ada berita kematian lagi. “apa kematiaan akan terus menjadi kabar keseharian kita, bu. Apa perang akan terus menjadi musik kami, bu.” Di luar, raung sirene ambulance memecah keheningan pagi. Meski ibu tdk mjwb, raut wajahnya penuh bahasa. Dari wajahnya terbaca bahwa perang akan berhenti. “Aku menunggu waktu itu tiba, ibu.”
    40. Ibu, seperti malam-malam yang sudah kita kembali tercekam ketakutan di bilik-bilik kamar rumah sendiri. Tapi pelukan kasihmu ibu terus menyibak harapan damai di hati. “Esok, pagi kan mengabari keindahan,” katamu menguatkan hati.
    41. Ibu, meski di selendangmu ada banyak “kalang” sejarah tapi di hatimu kutemukan sejuta harapan unt kami, anak cucu mu.
    42. Segera menuju Teater Kelopak Mata, melalui vcd saraf digital, film imajiner kan ku putar. Judulnya Manuskrip Cinta: Spirit dan Ethic Keacehan.
    43. Jika seseorang dapat melakukan sesuatu, siapapun dapat belajar untuk melakukannya
    44. Peta bukanlah wilayah yang sesungguhnya
    45. Ku tutup buku pagi, petang, sore dengan paraf alhamdulilah.
    46. Banyak dalam satu, unt menjemput maksud yang satu
    47. Titik Api itu mulai membakar. Sayang, masih banyak yang nyiram bensin ketimbang siram air.
    48. Sedang menjahit kata

***

  1. Ayat-Ayat Istana
    1. Aku pergi, tapi hati dan cinta ku tak kan pernah beranjak dari hatimu, walau cuma selangkah
    2. Sebelum ku pergi, ku ingin membenahi selimut tidurmu malam ini, dan membuat segelas susu untuk kau minum kala terbangun pagi esok. Jangan kuatir, aku akan baik-baik saja.
    3. Jika engkau mengharap cinta dari ku, aku hanya bisa memberi sebagian dari yang ku punya. Tapi jika kau mencintai-Nya dan dirimu di cintai-Nya, bumi dan langit dan seisinya beserta diri dan cintaku akan sepenuhnya menjadi milikmu.
    4. Aku ingin pulang, menemuimu kekasih. Memandangmu adalah keindahan. Berada di rumahmu adalah kemegahan. Bersamamu pasti tak terlukiskan. Aku ingin pulang…
    5. Kamus Hati: Belajar mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara sempurna
    6. Terimakasih untuk segala kesabaran dan keteguhan hati. Cinta kasihmu begitu menginspirasiku, duhai
    7. Hidup itu satu seni perang dan jika belum pernah berperang jangan mau hidup dulu, minimal berperang dengan keinginan
    8. Bagaimana hendak kulupakan dirimu jika engkau ada dipelupuk mata dan diurat saraf ingatanku.
    9. Membaca surah2 mu aku terlingkupi cintamu.
    10. Bulan akses tidak terbatas dari kekasih. “Dalam peluh kerja ku sempat hati menyebut namamu.”
    11. Menepi menunggu tibanya kaki langit senja sambil mendendang kalimahnya.
    12. Kubaca surahmu dikesunyian hati dan kupetik buah kerinduan dari pohon kasih sayangmu, cinta.
    13. Menyusup ke relung subuh untuk meneguk embun pagi. Semoga hari ini selembut angin dan sebening embun.
    14. Menyebut namamu, sebuah keniscayaan hati, maka rindu menjadi pakain jiwa. Sungguh, hari-hari ini dilingkupi cinta akan dirimu. Meski ku berpaling, wajahmu senantiasa ada di langit ingatanku. Duh, aku rindu dirimu duhai kekasih yang hatiku ada dlm kuasamu. (Suara Hati)
    15. Menjaga hati agar semakin fokus padamu
    16. Bagi mereka ini racun tapi bagi ku inilah jalan cepat menuju perjumpaan dengan mu kekasih. Andai mereka mengerti akan cinta maka apalah arti segala keindahan yang ada kini. Hukumlah aku tapi jangan cabut cinta di hatiku, karena hanya cinta yang kumil…iki untuk mencarimu kelak walau di urutan antrian terakhir.
    17. Jangan ikat tanganmu karena ku ingin menyentuhnya untuk yang terakhir kali
    18. Lembut menyapa dalam muraqabah cinta
    19. Berat, tapi kan kujalani sampai ke terminal waktu.
    20. Kau telah membuatku tiba di tujuan. Terimakasih, cinta
    21. Titik-titik gerimis hujan msh membekas di daun seulanga. Sama, kenangan itu pun msh melekat di daun ingatanku, hingga detik ini.
    22. Kenangan itu melekat erat di buku malamku, dan tak kan mungkin luntur oleh deras hujan saat ini. Dan kebenciannya pun tak kan mungkin mencabik keindahan menjadi duka lara, meski tanpamu bagai langit kehilangan bulan. Untuk semuanya, terimakasih cinta.
    23. Menantimu membuat hatiku gundah gulana padahal engkau kan tiba tak lama lagi. Duhai, apa yang mesti ku lakukan menghadapi godaan mata dan rasa. Ku ingin raga dan jiwaku sepenuhnya untuk kecintaan akan dikau.
    24. Sirine itu mengalun indah mengiringi ketibaanmu. Slmt tiba, mari minum seteguk. Usai btemu kekasih, kan ku sapa dirimu.
    25. Angin menyapa dan berbisik tapi tak tahu apa
    26. Sungguh, kadang sikap “siap” lebih utama dari sikap “melawan.”
    27. Sungguh, dengan melepas burung terbang jiwa pun akan terasa lapang dan saat itulah betapa cinta begitu indah karena kebebasannya. Sungguh…
    28. Aku bermimpi unt terus hidup dan aku bisa terus hidup karena mimpiku. Sungguh, aku akan terus hidup dalam semua mimpi mereka yang masih hidup
    29. Saat orang lain mengungkap untuk meminta, bersimpuh untuk memohon, bernazar untuk menghiba, berkorban untuk merayu, aku memilih diam – kerana ku tahu kasih, sayang, dan cintamu telah kau berikan sejak sebelum ku bisa mengungkap rasa.
    30. jika engkau jauh mungkin aku mesti mencari. Jika engkau tiada mungkin ku perlu mencari. Jika kau tak mengasihi mungkin ku menghamba. Tapi sungguh, kau ada dan menyatu dalam jiwa ini dan cintamu melingkupi, haruskah ku menyebut namamu lagi kala kau adalah aku dan aku adalah engkau? Aku hanya ingin diam karena cintamu tak terkata oleh bahasa ini.
    31. Jikalau mati listrik mungkin lilin bisa menjadi pengganti. Tapi sungguh, tak kan ada yang bisa menggantikan jika kasih sayangmu hilang dari jiwaku
    32. Hujan sejenak berhenti, persis ditikungan ingatan ku akan dirimu. Kau, selalu saja bisa menyakinkan hati akan tali penghubung hati kita
    33. Tersipreuk hujan yang lagi bercinta dengan angin di peraduaan dedaunan, atap rumah bahkan di menara mesjid dan di celah laju kendaraan saat ini.
    34. Hujan telah pergi tapi jejaknya masih ku temui di rerumputan dan dedaunan bahkan juga di bola mata indahmu. Aku memang tak kuasa menepis gundah tapi aku punya sekuntum doa menjelang senja untukmu duhai lekuk kemilau hati
    35. Sungguh, disemua lekuk jalanmu kutemukan bait-bait cinta, hingga tak terasa aku sudah berada di ujung jari kakimu
    36. Menyibak daun-daun pagi yang masih menyisakan kabut akan diri, sambil terus bercermin untuk menangkap makna sebuah perjalanan jiwa
    37. Daun-daun bergerak, lautan berombak, awan-awan beranjak, dan daku pun tak sedang diam di tempat. Bersamamu, aku mendaki dan menuruni perjalanan ini meski hanya lewat gerak rasa di hati.


Saleum peACEHeart,

Risman A Rachman

Komentar

  • nasruddin muhammad djalil  On Oktober 9, 2011 at 12:05 pm

    jadi iri ni bang, wah pingin juga ni buat kumpulan yang seperti ini tertata rapi tersusun mesra, saling bertautan berpegangan kata

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 378 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: