Generator Perubahan

Oleh: Risman A Rachman

Suasana masih pagi. Cahaya matahari dilangit juga masih lembut. Meski begitu, kehangatan mulai menjalar ke sejumlah titik tubuh. Secangkir kopi juga dengan pelan menepis selimut sejuk yang sejak pagi terus saja melekat di altar hati.

“Hmm…sepertinya ini akan menjadi hari yang berat.” Begitu hati berbisik usai melepas kepulan asap yang mengalir dari cangkir kopi yang baru saja disuguhkan oleh pekerja di warung kopi Solong.

Sebuah sapaan tiba-tiba menepis lamunan. Sesosok wajah yang sudah begitu akrab menghampiri dan mengambil tempat duduk persis disamping. “Punya rumus untuk menghidupkan generator?”

Itu percakapan pembuka yang berat. Sebuah pertanyaan yang tidak mungkin untuk terus dijawab dengan spontan. Pasti dibutuhkan pertanyaan yang bisa memperjelas, minimal generator apa yang dimaksud oleh penanya yang kini aktif di sebuah lembaga internasional.

Apa mungkin generator pembangkit listrik. Soalnya, semalam listrik di rumah mati untuk beberapa jam. Padahal, melalui layar televisi baru saja ada kabar gembira kalau Indonesia sudah terbebas dari pemadaman bergilir. Apakah padamnya listrik semalam karena ada insiden tumbang pohon mengenai gardu listrik? Entahlah.

Meski ada keinginan untuk bertanya namun tidak ada kekuatan suara yang bisa menghadirkan pertanyaan yang sudah terangkai di hati. Tiba-tiba yakin saja kalau generator yang dimaksud tidak berkaitan dengan listrik. Keyakinan itu membuyarkan keinginan untuk bertanya dan sebagai gantinya dengan pede langsung menjawab “banyak rumusnya.”

Jawaban ini sebenarnya hanya jawaban branding saja, dengan satu asumsi jawaban ini akan mendatangkan uraian yang bisa memperjelas konteks pertanyaan “Punya rumus untuk menghidupkan generator?” Syukur, penjelasan lebih lanjut tentang generator terkuak lewat penjelasan setting.

Menurut teman yang hobby memancing di laut ini Aceh masa kini sudah kehilangan ide atau gagasan yang bisa menjadi penggerak banyak orang untuk melakukan sesuatu yang bisa mendatangkan perubahan lebih baik bagi Aceh. Otomatis usai konflik dan tsunami tidak ada lagi gerator perubahan yang mempoduksi perubahan-perubahan lebih baik lagi bagi Aceh. Hampir semua kalangan di Aceh sudah “terjebak” dalam kerangka berpikir dan bertindak jangka pendek yang walaupun disebut untuk kepentingan umum namun pada kenyataannya lebih sebagai kepentingan diri sendiri.

Saya mendengar dengan seksama penggambaran sang teman pada situasi kekinian Aceh dan sesekali ikut membenarkannya lewat isyarat anggukan atau sesekali memberi penguatan atas analisis bebas yang dilakukan oleh sosok yang sudah sangat akrab dengan dunia aktivis sekaligus juga dunia politik khususnya pada tataran politik perubahan.

“Sebenarnya, rumus agar generator Aceh bisa hidup kembali gampang.” Ini pernyataan yang membuat wajah sang teman bergeser sepuluh derajat kea rah wajahku. Bisa jadi, kata gampang membuatnya sedikit heran dan karena itu merasa perlu untuk melihat raut wajahku guna menyelami kepastiaan apakah benar adanya gampang. Kadang raut wajah bisa menjelaskan sekaligus bisa menambah keyakinan pada apa yang sedang diucapkan.

Aku sendiri tidak berusaha untuk menampilkan raut wajah yang pura-pura serius untuk menambah keyakinannya. Biasa saja karena memang rumus yang hendak kusampaikan sudah ada dalam alam bawah sadar setiap orang. Hanya saja selama ini pendekatan praktis telah menggeser keyakinan bahwa apa yang semestinya dilakukan tidak selamanya begitu diterapkan.

“Kita sebagai generator perubahan sudah harus melakukan sesuatu berdasarkan survey atau penelitian. Tidak boleh lagi seperti masa lalu yang hanya dengan modal ocehan, raut muka, pengaduan plus warta koran serta bukti berjaringan sudah bisa menjadi modal bagi melakukan kegiatan-kegiatan yang diperuntukkan guna mendorong perubahan Aceh. Kalau punya ada, minimal data hasil survey, dijamin pasti akan berdampak bagi perubahan. “

Beruntung teman bicara adalah sosok yang sudah akrab dengan data maka tidak terlalu susah untuk menyampaikan pesan utama melalui kalimat deskripsi singkat. Terbukti sang teman langsung memberi anggukan meski awalnya sedikit memperlihatkan ekspresi yang tidak akrab.

Tentu saja itu tidak berarti bahwa di Aceh sepi dengan aktivitas penelitian atau minimal survey. Bukan itu persoalannya. Persoalannya adalah survey yang dilakukan belum di menej sedemikian rupa sehingga ia bisa menjadi tulisan, percakapan, dialog, debat, usulan dan landasan bagi pembuatan kebijakan sekaligus sebagai bahan untuk menghadirkan ragam kebijaksanaan. Survey dan atau penelitian baru sebatas subjek kegiatan semata yang lebih banyak berakhir di iklan pariwara atau bahan pewartaan.

Sampai saat ini belum ada satu lembaga penelitian dan atau survey yang memainkan peran-peran perubahan yang diperhitungkan oleh berbagai kalangan khususnya para pembuat dan pengambil serta pengawas kebijakan, sekaligus menjadi motor bagi pembentukan wacana publik. Saat ini hasil-hasil survey dan atau penelitian belum dimanfaatkan oleh media dan berbagai kalangan yang berfungsi sebagai generator perubahan sebagai landasan bagi pembangunan wacana, perencanaan program, dan pelaksanaan kegiatan.

Aceh Institute merupakan salah satu lembaga yang sudah memainkan peran-peran penelitian dan survey dan sudah mulai diperhitungkan oleh berbagai pihak termasuk oleh media. Tinggal lagi bagaimana menjadikan hasil penelitian dan atau survey sebagai data yang bisa dibaca, dilirik, dicermati lalu kemudian dijadikan dasar atau pijakan dalam irama perubahan itulah yang akan menjawab bahwa rumus untuk menghidupkan generator perubahan di Aceh ada pada bagaimana lembaga penelitian dan survey di Aceh memainkan peran strategisnya sekaligus juga dikelola secara strategis pula.

Sumber: acehinstitute

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: