Politik Hamba Lewat Puasa

Selamat untuk semua yang telah berbuka puasa. Menurut hadist, salah satu dari dua kesenangan yang diperoleh dengan berpuasa adalah kesenangan saat berbuka puasa.

Ada ragam pandangan tentang bentuk kesenangan saat berbuka puasa. Ada yang memaknai bahwa kesenangan berbuka itu adalah kepuasan hati karena telah menjalani kesempurnaan ibadah puasa.

Mereka yang menahan diri dari segala hal yang bisa membatalkan puasa dan dari segala sesuatu yang mengurangi nilai kesempurnaan puasa sejak imsak hingga beduk berbuka berbunyi secara otomatis merasa bahagia hatinya. Refleksi kesenangan itu bisa dalam wujud ungkapan alhamdulillah dan bisa pula dalam wujud menjalani shalat tarawih.

Bentuk kesenangan lain bisa juga dalam artian memahami bahwa ibadah puasa yang telah dilewatinya akan memberi manfaat spiritual bagi dirinya kelak khususnya berkaitan dengan manfaat kedua dari ibadah puasa yakni berjumpa dengan Allah (di hari akhir).

Mengetahui telah memiliki “modal” spiritual untuk berjumpa dengan Tuhan Yang Maha Pengasih tentu saja memberi kebahagiaan tersendiri yang hanya bisa dirasakan oleh pribadi yang telah menunaikan ibadah puasa. Betapa tidak, jika menurut ukuran duniawi saja nilai bahagia kala bertemu orang yang kita sayangi dan cintai sangat indah maka ukuran kebahagian bertemu dengan Allah pasti tidak terhingga.

Mungkin, wujud kebahagian minimal yang bisa dirasakan kala berbuka puasa adalah rasa senang dan suka kala mencicipi hidangan berbuka. Rasa lapar dan haus yang ditahan selama berpuasa terhapus dengan berbuka puasa, apapun menu hidangan yang ada.

Kesenangan saat berbuka juga tidak hanya bersifat individu. Secara sosialpun dapat dirasakan kesenangannya. Umumnya, selama bulan puasa tradisi membangun silahturahmi, saling berbagi, dan saling mengasihi meningkat karena pada bulan ramadhan memang dianjurkan untuk lebih meningkatkan ibadah sosial. Inilah kebahagiaan lain yang bisa disebut juga sebagai kesenangan saat berbuka puasa.

Andai kesenangan hati, spiritual dan sosial itu memancar menjadi serum jiwa yang menggerakkan perubahan diri setiap muslim agar menjadi muslim yang lebih baik lagi bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan sosial, komunitas, bangsa dan dunia tentu puasa akan menjadi salah satu sarana bagi sumbangsih muslim dalam melakukan perubahan dunia.

Dalam konteks inilah makna mengubah dunia bisa dilakukan dengan mengubah diri sendiri ditemukan makna strategisnya. Jadi, puasa dapat menjadi jalan alternatif bagi semua jalan yang selama ini diklaim diperuntukkan bagi perubahan dunia. Puasa sekaligus juga membatalkan setiap usaha-usaha keras atau radikal yang oleh pemimpinnya disebut sebagai jalan akhir karena seluruh jalan resmi sudah tersumbat dalam melakukan perubahan.

Jadi, mari menjadikan puasa sebagai sarana Politik Hamba Tuhan (PHT) dalam mendorong perubahan dunia. Mengapa puasa sebagai sarana PHT? Jawabannya karena puasa telah menjadi tradisi umat beragama.

Bisa dibayangkan betapa besar pengaruh dan dampak yang dimunculkan manakala segenap hamba Tuhan dari semua agama bergabung dalam panji PHT. Semua anggotanya akan berlomba-lomba untuk memperbaiki diri sendiri sebagai wujud sumbangan bagi perubahan dunia.

Sikap itu sama sekali bukan untuk menafikan ragam masalah yang ada di depan mata. Semua masalah sangat disadari sebagai hal yang perlu diselesaikan. Hanya saja kesadaran terhadap masalah itu tidak diwujudkan dalam bentuk tindakan yang bisa membatalkan atau mengurangi nilai puasa, melainkan melalui suatu tindakan memperbaiki diri.

Jika selama ini diri adalah sosok yang bermalas-malas dalam berkerja maka diubah menjadi diri yang penuh kinerja. Bagaimanapun hanya dengan menjadi diri yang penuh kinerjalah masalah-masalah yang diakibatkan oleh malas bisa diselesaikan secara permanen. Contoh lain yang lebih utama dapat dikembangkan lebih lanjut. Misalnya, jika masalah kemiskinan belum juga teratasi akibat perilaku korupsi maka dengan meningkatkan kesadaran diri akan Tuhan Yang Maha Tahu maka segenap tindakan korupsi akan tertolak. Jadi, melalui puasa hati, jiwa, pikiran, dan fisik akan ditata sehingga menjadi diri yang sehat rohani dan jasmani.

Jadi, mari berpuasa dan mari menjadikan puasa sebagai Politik Hamba Tuhan untuk menggerakkan perubahan dunia secara lebih baik. Dengan begitu, usaha-usaha ekstrem, radikal, dan ragam politik kotor lain yang katanya ditujukan untuk mengubah dunia dapat diruntuhkan kredibilitasnya.

Sungguh, dunia tidak akan berubah menjadi rumah sehat bersama sebelum semua hamba Tuhan mampu mengorganisasikan dirinya dalam satu panji politik yang sudah disediakan Tuhan untuk semua, yakni puasa.

Salam,

Risman

Sumber: kompasiana

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: