Mungkinkah Kata Mengubah Dunia???!!!

“Apalah artinya sebuah “kata”?

Demikian barangkali apa yang ada di dalam benak dan pikiran manusia sekarang ini. Memang kata tidak memiliki arti dan juga makna bila memang tidak dimengerti arti dan maknanya. Menjadi hanya kelompok huruf yang tidak bisa berdiri sendiri saja, dan bersifat kolektif bila menjadi sebuah kalimat. Sebenarnya, apa, sih, “kata” itu sebenarnya?!

Bila membaca kamus, “kata” diuraikan sebagai sebuah bentuk terkecil dari bahasa. Baik dalam semantik ataupun pragmatik. Berbeda dengan morpheme, yang merupakan unit terkecil atas arti (Wikipedia). Bahasa sendiri bila diuraikan secara dasar, merupakan sebuah bentuk yang digunakan oleh manusia untuk saling berkomunikasi. Sementara bila diuraikan secara lebih mendalam, bahasa menunjukkan tipe dari proses pemikiran atas bagaimana bahasa itu terbentuk dan digunakan. Bahasa dalam bentuk kata, suara, simbol, dan icon, sama-sama dihasilkan dari konsep atas pemikiran dalam bentuk sebuah pola terstruktur dalam menunjukkan bentuk eskpresi serta artinya saat melakukan komunikasi. Ilmu yang mempelajari bahasa ini disebut linguistik.

Sementara itu, ada ilmu filsafat bahasa, sebuah cabang dari ilmu filsafat, di mana bahasa merupakan sarana analisis yang digunakan para filsuf untuk memecahkan, memahami, dan menjelaskan konsep serta problema di dalam filsafat. Di dalam filsafat bahasa ini, pembahasan, analisa dan pencarian hakikat dari ojek materi filsafat itu sendiri (Davis, 1976), sehingga bahasa dijadikan objek materi filsafat yang membebaskan hakikat bahasa itu sendiri. Kenapa bisa demikian? Karena kembali lagi, bahasa pada hakekatnya selain merupakan ungkapan pikiran juga memiliki unsur fisik, yaitu struktur bahasa (Firth dan Pike, 1984).

Bingung?! Pusing?! Baiklah, kita tidak usah terlalu rumit di dalam mencoba memahami dan mengerti semua ini. Soalnya memang kata dan bahasa itu sendiri sangat ambigu yang membuat bingung dan rancu. Contohnya saja, bila saya menyebut kata “bintang”. Apakah itu berarti bintang di langit ataukah seseorang yang menjadi idola?! Itu kalau positif, kalau negatif, bisa juga dijadikan sebuah konotasi yang negatif berupa sindiran; “Bintang apa bintang?!”. Semua tergantung kepada pemikiran, maksud, dan tujuan saya, dan juga pemikiran, maksud, dan tujuan dari yang menangkapnya.

Tak heran bila kemudian banyak yang memiliki persepsi dan interpretasi yang salah atas sebuah kata dan juga bahasa. Berapa banyak dari kita yang salah kaprah dengan kata “seks”. Seks yang diartikan hanya sebagai jenis kelamin menjadikan seks hanya sebatas “seonggok daging di belahan paha” tanpa dipahami dan dimengerti bahwa seks itu tidak hanya bersifat fisik saja. Jika kemudian seks itu menjadi berkonotasi selalu porno, itu dapat dimengerti karena pola pikir dan cara pandang yang terbentuk dan yang ada atas kata “seks” itu sendiri sangat terbatas. Di dalam kamus yang tersebar di seluruh dunia pun, seks artinya sama, yaitu jenis kelamin. Oleh karena itulah, seks merupakan kata yang dapat dimengerti dan bisa dijadikan sarana untuk komunikasi tanpa ada batas tempat dan wilayah. Seluruh dunia juga tahu dan kenal dengan kata “seks” ini meski dalam pengertian yang terbatas.

Jika kemudian seks ini menjadi ditabukan dan dilarang untuk dipelajari serta dipahami dengan baik, tidak perlu heran juga. Memang struktur pembentukan yang tertanam di dalam pemikiran tentang “seks” adalah porno. Ekspresi atas kata seks itu sendiri, yang diungkapkan oleh manusia terhadap manusia lainnya, menjadi porno juga. Sementara itu, sesuatu yang porno dianggap tidak baik dan merusak. Kata “porno” itu sendiri merupakan subjek dari tujuan perilaku serta tindakan yang berhubungan dengan hubungan seksual dan pemuasan hasrat seksual. Kalau sudah begini, jangan heran juga bila banyak yang salah kaprah dengan tidak melakukan hubungan seks yang sehat dan benar. Bagaimana mau sehat dan benar kalau pikirannya sudah porno duluan?!

Contoh di atas ini jelas sekali membuktikan bahwa kata bisa mengarahkan kepada sesuatu yang salah dan merugikan semua. Sehingga jelas sekali bisa dilihat juga bahwa “kata” bukan hanya merupakan sebuah simbol tetapi juga merupakan media pengembang pikiran manusia terutama di dalam mengungkapkan realitas segala sesuatunya. Sangat tergantung kepada tujuan dari siapa yang mau menggunakannya dan untuk apa. Oleh karena itulah, sangatlah mudah mempermainkan kata dan bahasa untuk digunakan sebagai alat untuk membangun atau merusak karena sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan cara pandang masyarakat yang menggunakannya.

Jika kita melihatnya dari sudut pandang yang lain, tampak jelas sekali juga bahwa kata dan bahasa yang digunakan dalam masyarakat tertentu, sangatlah menunjukkan situasi serta kondisi psikologis, sosial, dan budaya masyarakat yang menggunakannya. Apakah masyarakat yang selalu berpikiran negatif dan menjadi porno hanya karena kata seks bisa dikatakan masyarakat yang sehat?! Meskipun merasa telah menutupi, mengalihkan, ataupun tidak mengakuinya dengan berbagai dalil dan pembenaran yang ada, tetap saja porno itu tidak baik dan tidak sehat, kan?!

Efek yang paling tampak jelasnya adalah bila terjadi pelecehan seksual, di mana VCD dan internet yang berisi adegan seksual selalu dianggap sebagai penyebab terjadinya pelecehan tersebut. Apa benar memang demikian?! Bila saja mereka yang menontonnya bisa berpikiran positif terhadap seks, meskipun menonton adegan seksual yang seperti itu, tentunya tidak perlu sampai harus terangsang atau melakukan pelecehan seksual. Memang yang salah adalah pola pikirnya yang sudah tersetruktur dan terbentuk itu. Kondisi psikologisnya juga lemah karena tidak dapat mengendalikan pemikirannya sendiri.

Berhubung kondisi sosial, psikologis, dan budaya masyarakatnya sudah demikian, maka juga jangan heran bila seks dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting bahkan disepelekan. Fakta dan kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat pun diabaikan begitu saja. Kembali lagi, bila pola pikir sudah terstruktur sedemikian rupa, sangatlah sulit untuk kembali mengubahnya bila tidak dilakukan perubahan sesegera mungkin. Lihatlah apa yang terjadi dengan kasus video adegan seksual para artis. Bukankah membuat kehebohan dan kepanikan di dalam masyarakat?! Yang paling mudah saja untuk dipikirkan, yaitu masalah jaringan koneksi internet pada saat video itu muncul. Bukankah menjadi sangat lambat?! Berapa banyak uang dan energi yang dikeluarkan untuk bisa mendapatkan video tersebut?!

Bila diteliti dan dianalisa lebih jauh lagi, fakta dan kenyataan yang ada tersebut sangat menunjukkan kondisi kejiwaan masyarakat itu sendiri. Secara tidak sadar ataupun tidak diakui, kondisi kejiwaan masyarakat sudah sangat memprihatinkan. Sudah jelas dipelajari di dalam ilmu kesehatan mental dan kejiwaan, bahwa mereka yang senang mengintip adegan seksual yang dilakukan oleh orang lain kemungkinan besar memiliki kelainan atau penyimpangan perilaku seksual yang disebut dengan vouyerism alias tukang intip. Itu baru mengintip, belum lagi yang menyebarkan. Yang senang menyebarkannya, berarti juga memiliki kelainan yang disebut dengan “sexting” dan bila tidak memiliki kelainan, berarti telah melanggar peraturan dan hokum serta undang-undang yang berlaku. Jika demikian, berapa banyak yang sakit jiwa dan berapa banyak juga yang seharusnya dihukum?!

Ini belum termasuk dengan masalah intimidasi dan pelecehan yang dilakukan oleh mereka yang menuding, menyalahkan, dan menghukum mereka yang melakukannya dengan sedemikian semena-menanya tanpa memperhatikan moral dan etika serta keadilan yang seharusnya berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat. Mereka yang mampu melakukan intimidasi dan pelecehan seperti itu, bisa masuk dalam kategori kelainan jiwa yang disebut dengan sadomasochism dalam bentuk psikologis, bukan dalam bentuk fisik. Nah, kalau sampai yang kemudian berani menghukum secara fisik, itu lebih parah lagi meski melakukan pembenaran lewat segala macam bentuk lainnya. Yah, mana ada orang yang sakit jiwa tahu atau mau mengakuinya?!

Dari satu kata “seks” saja, efeknya bisa sedemikian hebatnya. Sementara berapa banyak kata yang kita miliki sebagai perbendaharaan kata dalam bahasa?! Sayangnya, kemungkinan besar uraian di atas yang sedemikian panjangnya ini, belum tentu juga bisa dipahami dan dimengerti dengan baik. Bisa jadi, saya yang menulisnya tidak bisa berkomunikasi dengan baik atau bisa juga karena yang membacanya tidak paham atas konteks dari tulisan yang ada. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa kata itu sendiri sangatlah ambigu dan membingungkan. Terutama bagi mereka yang tidak memiliki dasar pemikiran yang kuat atas struktur serta pola terbentuknya sebuah kata, juga yang sudah sedemikian tertutup rapatnya mata dan hati untuk mau mempelajarinya dengan baik dan benar.

Itulah juga sebabnya, kenapa masyarakat yang demikian sangat mudah sekali dipermainkan oleh permainan politik yang tidak sehat. Cukup dengan mempermainkan “kata” saja, semuanya bisa dikuasai dengan baik. Perubahan yang ingin dilakukan pun tidak akan mungkin bisa dilakukan karena tidak juga mau mempelajari arti dan makna kata yang sesungguhnya, sehingga menjadi sebuah masyarakat yang labil. Ini bisa dibuktikan dengan tidak ada arti dan maknanya sebuah kata. Yang penting asyik, mudah disebutkan, dan terkesan “bergaul”, kata itu pun digunakan dalam bahasa berkomunikasi dalam keseharian. Tanpa disadari ataupun diakui juga, secara lambat laun mengikis jati diri yang sebenarnya. Masyarakat yang labil tentunya akan sangat mudah dipengaruhi dan ini sangat memprihatinkan.

Contohnya saja kata di dalam bahasa “gaul” yang digunakan sehari-hari, di mana struktur dari pembentukan “kata”-nya sangat jelas mengarah kepada sebuah “kebebasan:” di dalam bereskpresi. Struktur dan susunan di dalam tata bahasa dan kaedah berbahasa yang baik dan benar sama sekali dibaikan. Sudah tidak lagi diikuti peraturan dan aturan yang ada. Mana kata benda, kata sifat, kata kerja, dan kata majemuk sudah menjadi tidak penting lagi. Mana objek, mana subjek, mana kata keterangan pun tidak ada lagi. Sehingga kemudian terjadilah penyamarataan dan persamaan atas sebuah “kata”. Coba perhatikan apakah anak muda sekarang bisa membedakan kapan penggunakan kata “aku”, “saya”, dan “gue”. Begitu juga dengan “kamu” dan “anda”. Apa ada yang tahu dan mengerti?!

Bila sudah demikian, maka tidak ada lagi yang namanya etika di dalam kehidupan bermasyarakat. Etika tidak pernah lepas dari norma, hukum, aturan dan peraturan yang berlaku baik di dalam masyarakat maupun Negara, juga dunia. Semua itu saling terkait dan tidak bisa dilepaskan satu-satu begitu saja. Nah, bagaimana bisa memiliki rasa hormat dan penghargaan kepada yang lainnya bila tidak tahu etika?! Bagaimana juga bisa dihormati dan dihargai bila tidak tahu etika?! Biar bagaimanapun juga tuntutan atas etika itu selalu saja ada. Apa ada yang mau tidak dihargai dan dihormati?!

Hal ini juga sangat jelas membuktikan bahwa yang membuat dan menggunakannya, sama sekali. tidak mengerti apa sebenarnya arti dan makna dari kata “kebebasan” itu sendiri. Kebebasan yang tanpa ada batasnya bisa menjadikan semuanya semakin kacau balau dan tak karuan. Jalanan simpang lima tanpa lampu merah, kuning, dan hijau, yang mengatur lalu lintas bisa membuat jalan menjadi kacau balau, begitu juga dengan kebebasan yang tidak mengindahkan aturan dan peraturan yang berlaku.

Mereka yang tidak mau mengikuti aturan dan peraturan yang berlaku dan ingin menguasai, bila dibaca di dalam kamus, berarti adalah seorang tiran yang tirani. Tiran itu sendiri adalah penguasa yang seenak-enaknya saja membuat aturan dan peraturan sendiri untuk mencapai tujuan dan keinginannya. Tentunya tanpa mengindahkan kebutuhan, keinginan, dan bahkan hak yang lainnya. Jika kemudian mereka yang menggunakan kata-kata dan bahasa “gaul” ini melakukan protes terhadap penguasa, apanya yang diprotes?! Apa bedanya?! Sama-sama saja, kan?! Sama-sama tidak mau mengikuti aturan dan peraturan meski dalam bentuk yang berbeda. Apakah kata “demokrasi” yang sering digembar-gemborkan itu juga sudah dimengerti dan dipahami dengan baik?! Lebih jauhnya lagi, kalau demikian, kapan ada perubahan yang menjadikan kehidupan lebih baik?!

Menyadari akan pentingnya “kata” dan “bahasa”, almarhum Deng Xiao Ping, mantan penguasa daratan China, di dalam melakukan revolusi, hal yang dilakukannya adalah revolusi budaya. Hal pertama dan terpenting dan sangat mendasar di dalam revolusi budaya ini adalah pembenahan atas “kata” dan “bahasa”. Beliau berusaha keras mengembalikan “kata” dan “bahasa” China kepada originalitasnya karena pada saat itu sudah banyak terpengaruh oleh bahasa lain, terutama di kota-kota besar. Tujuannya adalah untuk membuat masyarakat China memiliki rasa nasionalisme dan rasa kebanggaan yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya sehingga mau serta rela berjuang untuk bangsa dan negaranya sendiri. Dengan mengenal, memahami, dan mengerti setiap “kata” dalam “bahasa” yang digunakan, tampak jelas struktur pola pemikiran atas jati diri mereka yang menggunakannya. Bahasa memang merupakan identitas sebuah bangsa.

Semua itu dilakukannya lewat proses yang tidak mudah dan sangat keras, tetapi sangat setimpal dengan keberhasilan pencapaiannya. Lihatlah bagaimana majunya negeri China sekarang ini. Rasa nasionalisme dan kebanggaan yang diawali dengan pemahaman yang baik dan benar atas “kata” dan “bahasa” menjadikan mereka bangsa dan Negara yang besar. Begitu juga dengan Perancis, Jepang, dan Korea. Mereka dulu menutup diri bukan dalam arti menutup wilayah mereka dari kedatangan bangsa asing karena takut untuk dikuasai dan dijajah, tetapi mereka memperkuat diri dengan membangun pondasi yang kuat dan tebal lewat “kata” dan “bahasa” mereka. Coba saja pergi ke sana, seberapa banyak bisa ditemukan bahasa asing. Meski sangat metropolis dan modern, mereka tetap mengutamakan penggunaan “kata” dan “bahasa” mereka sendiri. Jikapun ada perubahan atas sebuah “kata”, maka sudah dapat dipastikan ada program selama 40 tahun untuk mensosialisasikannya agar arti dan makna “kata” tersebut dapat dimengerti dan dipahami dengan baik.

Terkait dengan kondisi dan keadaan masyarakat Indonesia sekarang ini, menjadi sebuah pertanyaan, apakah memang “kata” dan “bahasa” sengaja dibuat menjadi hancur dan berantakan seperti sekarang ini?! Apakah merupakan bagian dari permainan politik hermeuneutika bahasa untuk mencapai tujuan politik tertentu?! Bisa iya bisa juga tidak. Dimungkinkan terjadi bila yang melakukannya mengerti tentang arti dan pentingnya sebuah “kata” lalu mempermainkannya lewat politik hermeuneutika bahasa. Tidak mungkin bila tidak mengerti, tetapi bisa melakukannya karena secara tidak sadar telah melakukannya. Meskipun interpretasi dan persepsi bisa berbeda-beda, namun perlu dipahami juga bahwa politik permainan lewat pengrusakan kata dan bahasa adalah sebuah politik yang diterapkan sebagai bagian dari pembodohan yang telah dipelajari sejak lama dan banyak diterapkan oleh penjajah maupun mereka yang menjadi lawan serta pesaing.

Terlalu panjang bila semua ini dijabarkan karena akan menjadi sebuah pemikiran tentang konspirasi tersendiri. Lebih baik kita semua menyadari bahwa “kata” itu bukan hanya sekedar “kata”, tetapi banyak memiliki arti dan juga makna. Sangat berpengaruh terhadap cara pandang dan pola pikir, dan sangat juga terpengaruh dari struktur cara pandang dan pola pikir. Contoh, bukti, dan faktanya sudah sangat jelas, sekarang tinggal bagaimana kita semua mau menyikapinya.

Tidak heran bila ada ungkapan “kata bisa mengubah dunia”. Itu memang benar adanya. Bayangkan saja bila ada seseorang berucap, “Saya cinta padamu”, bukankah dunia kita menjadi berubah?! Bukan hanya jangka pendek, tetapi sangat panjang. Pikirkan hanya dari tiga kata saja, berapa banyak generasi penerus bangsa ini terlahir. Apakah mereka tidak berhak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dengan menjadikan kembali “kata” benar-benar memiliki arti dan makna?!

Salam,

Mariska Lubis

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Bahagia Arbi  On September 23, 2010 at 7:45 am

    Dunia ini tak ada jika tanpa KATA. Manusia pun tidak akan bisa lahir ke dunia jika tanpa KATA.🙂

  • andinata ginting  On Juli 9, 2011 at 12:48 am

    “Kata mengubah dunia”……..memang benar-benar terasa. Bersama menggunakan “kata” untuk mengubah kehidupan kita smakin lbh baik. Salam “kata” yang berguna!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: