peACEHeart

Saat ini, ketika semua orang terkenang Tsunami, pusat perhatian pasti tertuju pada Aceh. Bukan hanya sekedar soal tsunami melainkan juga soal Aceh itu sendiri. Suatu ketika, kepada rekan saya mengajukan pertanyaan gaya facebook “Apa yang kamu pikirkan, tentang Aceh.”

Terus terang, pertanyaan ini saya ajukan untuk melihat persepsi saat ini tentang Aceh. Apakah masih sebagai negeri konflik atau yang oleh Anthony Reid disebut Veranda of Violence (Serambi Kekerasan) Atau, masih menjawab sebagaimana dulu umum di dengar, kalau Aceh itu adalah Serambi Donya (baca: dunia) karena Aceh berarti Arab, China, Eropa, Hindia. Ataupun, Aceh tetaplah Serambi Mekkah, atau kini sudah menjadi Serambi Cinta?

Aceh Dulu

Sekedar catatan, dulu asal orang Aceh bertemu dengan orang-orang dari luar Aceh, atau kala berada di daerah lain, atau kala orang lain berada di Aceh pasti pikiran pertama tentang Aceh adalah soal konflik. Betapa tidak, pertanyaan pertama yang diajukan oleh orang lain adalah “Bagaimana situasi Aceh sekarang. Semoga tidak ada lagi yang jadi korban ya?” Atau, saya ikut prihatin dengan korban-korban yang terus berjatuhan di daerah Aceh.”

Pernah juga orang-orang Aceh yang berada di luar merasakan suasana lingkungan yang tidak begitu enak. Ini karena lingkungan tempat tinggal mereka memiliki rasa was-was terkait orang-orang yang berasal dari Aceh. Sementara bagi yang datang ke Aceh, pertanyaan umum yang diajukan adalah “Aman tidak ya jika saya mesti ke daerah Meulaboh?.”

Aceh Doeloe

Itu Aceh dulu. Tapi Aceh doeloe pasti lain lagi. Ada banyak ingatan orang-orang tentang Aceh, terutama mereka yang umurnya lebih tua, dan sempat banyak berhubungan dengan Aceh. Bagi mereka Aceh adalah negeri penuh cerita. Sebagai sebuah wilayah Aceh bukan hanya satu daerah kosong tapi sebuah negeri yang pernah sangat maju, kaya, dan bertahta, yang tahtanya dikenali dunia. Dibawah Sultan Iskandar Muda, Aceh pernah tampil sebagai salah satu pusat kekuasaan, kekuatan dan juga peradaban yang pengaruhnya mendunia.

Dengan modal itu, maka tidak heran kalau Aceh pernah menjadi pusat kedatangan ragam bangsa, yang datang bukan hanya untuk tujuan perdagangan tapi juga kerjasama politik dan ilmu pengetahuan. Maka tidak heran jika kosmopolitan Aceh itu mengilhami orang untuk memaknai Aceh sebagai sebuah singkatan dari Arab, China, Eropa, dan Hindia.

Ada kisah kalau nama Aceh itu berasal dari nama sebuah pohon bak si aceh-aceh yang rindangnya bisa membuat orang berteduh kala hujan. Dulu, kala orang India (Gujarat) mendarat di Aceh dan kehujanan lalu mereka berteduh di pohon yang rindang yang bagi orang India sangat indah. Jadi mereka sebut Aca Aca Aca, yang artinya indah indah indah. Tentang indah ini ada persamaannya dengan kisah perjalanan Budha yang kala berada di perairan Aceh menyebut daratan yang dilihatnya dengan “Acchera Vaata Bho” (alangkah indahnya) karena dari daratan terlihat cahaya yang memancar.

Itu kisah bagaimana orang menamai Aceh. Tapi ada juga kisah-kisah bagaimana orang Aceh menamai daerah mereka sendiri. Sebutan “Adoe nyang mume, a nyang ceh” (Artinya, si adik yang hamil, si kakak yang melahirkan) ada kaitannya dengan asal-usul nama Aceh. A nyang CEH inilah yang menjadi inspirasi untuk menamakan negeri yang pernah dilanda tsunami ini dengan nama Aceh. Disamping itu, ada juga kisah kalau Aceh itu sebutan yang bermakna “tidak mudah pecah”. A berarti “tidak” dan ceh berati “pecah.” Untuk soal penulisan nama, orang Aceh sendiri pernah menulis Atjeh dan kemudian menjadi Aceh.

Aceh Kini

Sampai saat ini, Aceh memang bagaimana di maknai dan memaknai, dan maknanya akan mempengaruhi tampilan Aceh itu sendiri.

Dulu, Aceh pernah memaknai dan dimaknai sebagai negeri dengan “orang seorang yang pemberani” kata Pramudia atau yang dalam bahasa umum dikenal heroik, Hal ini mungkin ada kaitannya dengan kesadaran akan negerinya yang oleh Budha dalam perjalanannya ke Indo China dan kepulauan Melayu di sebut sebagai negeri yang “Aca Aca Aca” dan “Acchera Vaata Bho.”

Dengan negeri yang indah (Aca) dengan sumberdaya alamnya yang “bercahaya” (Acchera Vaata Bho) yang dalam sejarah memang pernah menjadi negeri jaya hingga terkenal ke seluruh penjuru angin (Arab, China, Eropa, Hindia) serta dikenal pula sebagai sebuah kerajaan yang tidak takluk di bawah kerajaan lainnya tentu menimbulkan pertanyaan kog bisa hidup merana di bawah Indonesia, yang dulunya juga disokong dengan nyawa dan harta untuk bisa merdeka.

Padahal, dengan modal “keindahan dan cahaya” (Baca, sumberdaya alam) itu, tentu lebih dari cukup bagi Aceh untuk bangkit dan bisa jadi melebihi kemajuan yang dicapai oleh Indonesia. Kadang, dalam kesendirian sesekali Aceh tidak dilihat dari Peta Indonesia melainkan dari Peta Dunia sehingga akan terasa betapa Aceh tidak cuma dekat dengan daerah-daerah di Indonesia tapi juga sangat dekat dengan wilayah-wilayah lainnya di dunia yang ternyata jauh lebih maju dari Indonesia.

Bacaan tentang citra dan harga diri inilah yang kemudian menginspirasi banyak orang Aceh untuk bangkit melakukan perlawanan terhadap republik, yang diyakininya tak akan bisa membangkitkan Aceh untuk tampil lebih maju lagi, apalagi untuk bisa mencapai seperti apa yang sudah pernah di capai oleh Aceh doeloe.

Bagaimana dengan saat ini? Apakah citra dan harga diri orang Aceh masih penuh dengan spirit dan inspirasi perlawanan?

Tampaknya tidak lagi. Arah jalan Aceh sulit sekali untuk berbelok lagi ke jalur konflik setelah pasca tsunami berhasil dibelokkan ke jalur jalan damai. Ini ada kaitannya dengan perubahan Peta Hubungan Global Aceh saat ini.

Doeloe dan dulu Aceh tampil heorik ada kaitannya dengan dominasi Islam dalam pandangan-dunia keacehan. Ini bisa dimaklumi karena secara global Aceh lebih dekat dengan dunia-dunia Arab yang memang beragama mayoritas Islam. Itu bukan berarti Aceh tidak berhubungan dengan negara-negara lain yang non Islam. Namun, karena pada saat itu hubungan diletakkan dalam semangat imperialis (penjajahan) maka Aceh menjadi lebih akrab secara social-budaya-ekonomi-politik dengan dunia-dunia Arab. Maka tidak heran jika cara pandang, sikap, perilaku, dan sistem keacehan lebih berkiblat ke dunia Arab yang secara politik juga disebut dunia Islam.

Karena itu tidak heran manakala secara politik Aceh pernah meminta, menagih, dan memberontak untuk mendapatkan status sebagai wilayah Syariat Islam dalam negosiasi politik pasca kemerdekaan. Tidak cukup dengan apa yang sudah dilakukan oleh Daud Beureueh, Hasan Tiro kemudian memimpin perlawanan pembebasan Aceh secara teritori dan politik dengan Indonesia, yang salah satu alasannya juga karena ingin menjadikan Aceh sebagai negeri dengan totalitas keislaman.

Karena itu, Gus Dur pernah menjadikan Syariat Islam kembali sebagai solusi penyelesaian konflik Aceh. Sayangnya, solusi ini tidak menjawab apa yang diinginkan karena sudah terlanjur terbangun apa yang disebut dengan nasionalisme Aceh. Perubahan kiblat politik Aceh yang awalnya penuh dengan warna Islam ke warna nasionalisme ada kaitannya dengan peta hubungan global Aceh. Aceh tidak lagi banyak berhubungan atau mendapat dukungan dari akibat hubungan dengan dunia-dunia Islam melainkan justru mendapat dukungan hubungan dengan dunia-dunia barat.

Akibatnya jelas perubahan dinamika global juga mempengaruhi alam pikiran orang Aceh khususnya mereka-mereka yang punya hubungan komando dengan pusat perlawanan bersenjata di Aceh.

Itu disatu sisi. Di sisi yang lain, perubahan politik nasional yang dimotori oleh kaum muda juga mempengaruhi pandangan-dunia generasi perlawanan baru di Aceh yang lebih suka disebut sebagai kelompok sipil untuk membedakan dengan kelompok GAM. Namun, karena keduanya bertemu dalam rumusan politik nasionalisme Aceh maka satu sama lain menjadi saling mendukung minimal di tingkatan politik pembebasan Aceh. Menariknya, kedua pihak baik sipil maupun GAM sama-sama memiliki hubungan baik bukan dengan dunia-dunia Arab melainkan dengan dunia-dunia barat.

Dominasi hubungan dunia barat dengan Aceh semakin sangat terlihat dan begitu terasa pada dua momentum utama Aceh yakni momentum tsunami dan momentum penyelesaian konflik. Kedua momentum ini sangat diwarnai oleh barat khususnya terkait penyelesaian konflik. Pada masa tsunami juga begitu. Meski juga ada negara-negara Arab tapi negara-negara barat menjadi dominan dan bahkan hingga saat ini masih ada. Namun begitu, karena akar keislaman sudah sangat menancap dalam batang tubuh keacehan maka dinamika perubahan tidak sampai mengubah arah kiblat keacehan yang masih tetap Islam hingga saat ini, yang ditandai dengan berlakunya syariat Islam.

Namun begitu bukan bearti dunia barat tidak meninggalkan jejak yang kuat dalam alam sadar orang Aceh. Bahkan, Aceh secara spirit justru ditemukan dalam harmonisasi hubungan dengan dunia barat. Pada masa Aceh bergelut untuk keluar dari konflik hampir semua orang Aceh sangat akrab dengan kata “damai” atau “perdamaian.” Saking akrabnya, kala disebut kata damai maka langsung terbayang kata “Peace” (dari barat) dan bukan kata “Salam” yang dulu justru sudah menjadi kata Aceh yang disebut dengan “saleum.” Begitu juga pada masa tsunami, Aceh juga sangat akrab dengan kata “Heart” ketimbang kata “Qalbu” dalam bahasa Arab. Maka tidak heran jika kata “peace” dan “heart” sudah menjadi kata keseharian orang Aceh.

Ternyata keakraban orang Aceh terhadap kata “peace” dan “heart” justru membuat orang Aceh menemukan Aceh di dalamnya. Jika dari zaman dulu Aceh banyak ragam disebut seperti, Asji (Arab), Acehm, Acin, Acheh (Perancis), Atcheen, Acheen, Achin (Inggris), Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjiem, Atsjeh, dan Atjeh (Belanda) maka sekarang sudah mantap dengan sebutan Aceh. Kenapa? Karena Aceh sekarang sudah ditemukan dalam dua kata kunci yang kini sudah menjadi bahasa keseharian yakni “peace” dan “heart” yang apabila digabung maka ditemukanlah Aceh di dalamnya, yakni peACEHeart.

Secara simbolik ini menjadi tanda bahwa perdamaian dan hati menjadi kata kunci bagi orang Aceh sekarang dan jika itu menjadi citra dan harga dirinya akan mendatangkan ACE (kemenangan), tentu saja jika semuanya tidak lagi dilihat, disikapi, dan ditindaklanjuti dengan kekerasan melainkan dengan pendekatan yang ber-seni (ART).

Apa ya kira-kira jawaban sang rekan untuk pertanyaan ala facebook berikut: “Apa yang kamu pikirkan, tentang Aceh.” Sang rekan dengan pasti menjawab dan menuliskan “peACEHeart.” Bagaimana dengan dirimu, saudaraku?

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: