Kita Sedang Bermain dengan Bahasa

Jika seni tradisi atau kesenian tradisional adalah sesuatu yang hidup dan berkembang dalam suatu masyarakat, maka seni modern adalah sesuatu yang baru dan hasil ciptaan dan kreatifitas baru. Dalam perspektif iji , seni tradisional pun lama kelamaan akan menjadi seni tradisi karena masyarakat dari satu waktu ke waktru lainnya mempertahankannya. Akhirnya tidak ada pemisahan secara ekstrem antara tradisi dan modern. Apa yang kita sebut sebagai seni modern, sebetulnya berangkat dari seni tradisi. Yang tidak sedikit pun berubah ialah peran media: bahasa—- akibat perkembangan bahasa yang dinamis dan dahsyat.

Kita ingin melihat bagaimana kesenian pada awalnya bermula, yaitu dari seni bertutur atau bahasa, tatkala peradaban masih jauh dari pengaruh modernisasi. Bahasa menjadi unsur penting dalam berkesenian, baik kesenian tradisional maupun kesenian modern. Sebab bahasa adalah alat komunikasi paling pokok dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam berkesenian.

Dalam suatu negara-bangsa (nation state) terdapat bahasa-bahasa lokal yang digunakan oleh masyarakat setempat, yaitu bahasa daerah, seperti yang dikenal di Indonesia yang memegang peran penting dalam kehidupan suatu komunitas. Bahasa daerah adalah bahasa ibu, yang bagi seseorang dengan mudah mengekspresikan perasaannya, termasuk mengekspresikan seni yang mereka lakoni.

Kita di Indonesia, sebagian besar masyarakat punya bahasa ibu meskipun dia pemakai bahasa Indonesia, nulai komunitas Devayan di Simeulue (sekitar 7.000 orang) sampai dengan orang Jawa (146.000.000 orang). Dalam keseharian mereka menggunakan bahasa daerah masing-masing. Tetapi dalam berkomunikasi, belajar di sekolah, dan kegiatan resmi lainnya para pemakai bahasa daerah, menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.

Sebagai bagian penting dari kebudayaan, bahasa digunakan dalam berbagai aspek kehidupan yang mendampingi kesenian sebagai media. Seni suara, seni sastra, seni drama, dongeng, dan lain-lain mengunakan bahasa sebagai unsur terpenting. Dalam kesenian tradisional umumnya, bahasalah yang menjadi dasarnya, sebelum mereka menemukan dan menggunakan alat musik, sebelum setting panggung dikenal, serta sebelum busana dan aksesoris menjadi bagian dari seni pertunjukan.

Tatkala manusia masih di gua- gua, diduga seni suara dan seni bertutur sudah dikenal, lalu menjadi aspek dominan. Suku-suku bangsa di dunia memiliki tradisi sastra bertutur atau tradisi lisan, yang dimulai dari dalam keluarga. Lahirnya hikayat, syair, gurindam, ludruk, guel, dan sebagainya, menjadi bukti betapa pentingnya bahasa dalam seni tradisi, khususnya dalam ranah budaya Melayu, termasuk Aceh. Dalam budaya tradisional Aceh, bahasa adalah awal dari berkesenian. Hampir semua jenis kesenian Aceh menggunakan bahasa sebagai medianya, sebelum musik dijadikan sebagai salah satu perangkat kesenian. Ada pengecualian, misalnya pada rapai pase dan alee tunjang, yang hanya mengandalkan bunyi-bunyian atau instrumen.

Sedangkan seudati, ratep, meudike, meurukon, tetap menggunakan bahasa sebagai pengiring tari dan lakon. Tari poh kipah, yang dikembangkan dari kesenian meudike, mengandalkan bahasa (Arab) Arab. Begitu juga pada rapai daboh, yang memadukan tiga unsur yaitu lakon debus, musik (rapai), serta syair. Tatop daboh ayo hai rakan// lon yue pih tan lontham pih hana// Teukeudi mawot gata hai rakan// silapeh gaphan bak kamoe nyang na.

Seni tutur dalam kesenian Aceh berkembang dalam lingkungan keluarga, misalnya peuratep aneuek, hikayat, dan haba jemeuen –semacam dongeng. Seni jenis ini “dijalankan” di rumah-rumah, meskipun sebetulnya para pelakunya tidak sadar bahwa mereka telah dan sedang berkesenian. Alah hai do do kudak idang// seulayang blang kaputoh taloe// Adak putoh pih jeuet lon sambat// lon jok siat keu ayeuem jaroe.

Lirik-lirik ini mengalun di rumah-rumah ketika ibu atau nenek meninabobokan bayi, yang pada hakikat nyak telah melakonkan dan mewarisi sebuah tradisi. Sang bayi diam-diam “belajar” tradisi tersebut, jauh sebelum dia mampu bertutur. Dua hal bisa dicapai sekaligus: mengungkapkan seni, dan memperkenalkan seni kepada anak sejak dini. Tradisi ini dipertahankan, karena selain menjadi “penyambungan” budaya, juga dapat menjadi media edukasi bagi anak-anak.

Yang paling dominan penggunaan bahasa dalam kesenian Aceh selain dalam peuratep aneuek ialah dalam haba jameuen, dan meuhiem atau teka teki. Dua tradisi ini juga berlangsung di rumah-rumah terutama bila ada kegiatan komunitas seperti ceumeulho (perontokan gabah), culek pineueng (congkel pinang), culek u (congkel kelapa), serta pada kegiatan manyuem tika (menganyam tikar). Para penutur dalam tradisi haba jameuen ialah orang tua, sedangkan pendengarnya adalah anak-anak muda.

Adanya haba jemeuen dengan berbagai cerita, para pendengar akan lebih asyik sehingga kerja bersama mencongkel pinang dan lain-lain, dipastikan selesai. (sekarang diganti oleh televisi. Di depana pesawat televise semua selesai!)

Amatilah nandong, di Simeulu yang mengandalkan kata. Nandong lebih banyak meratapi nasib dirinya dan masyarakatnya. Juga didong di Gayo. Selain mengandalkan instrumen dengan alat sederhana , didong juga menampilkan lirik-lirik yang berisikan antara lain tentang kehidupan, etika, serta nasihat-nasihat. Dalam didong jalu, kita bisa menyaksikan bagaimana saling sindir menyindir antar grup yang dipertandingkan.

Dalam kesenian modern, bahasa digunakan beriringan dengan instrumenti-nstrumen lain. Drama modern menempatkan bahasa sebagai media, di samping pentas, kustum, cahaya, dan musik, meskipun kemudian muncul ” drama mini kata”. Dialog-dialog drama adalah cerminan dari suatu masyarakat, berupa politik, ekonomi, religi  masyarakatnya.

Hikayat –dengan andalan tuturan yang kemudian berkembang antara lain menjadi PM Toh — dengan tambahan unsur lain — menyadarkan kita sesungguhnya semua seni Aceh, tuturan atau bahasa tetap dominan. Bahasa sebagai medianya dipertahankan lengkap dengan persajakannya. Jika penyampaian tidak bersajak, bukanlah PM Toh. Akhir-akhir ini ada yang coba menampilkan seni bertutur dalam bahasa Indonesia dan menyebutnya sebagai PM Toh, yang sebetulnya jauh dari pakem yang sudah mentradisi.

Kecuali itu kini berkembang pesat lagu-lagu dan lawak Aceh yang mengandalkan bahasa atau suara. Sebagai semangat dan upaya mempopulerkan bahasa Aceh, kita patut bergembira. Tapi jika ditinjau dari aspek norma kebahasaan dan pakem lirik Aceh, kita mengalami kesurutan dan degradasi yang mencemaskan.

Ada pengabaian pakem syair pada lagu-lagu baru. Lagu-lagu klasik seperti Bungong Jeumpa, Bungong Seulanga, atau Di Babah Pinto, enak didengar dan lestari karena lebih konsisten dengan pakemnya. Sebaliknya pada lagu-lagu modern Aceh, banyak masuk kosa kata luar, meskipun kata itu ada dalam bahasa Aceh. Kedua, pengabaian persajakan. Bunyi akhir pada suku akhir baris pertama tidak sepadan (meuantok- meupadok) dengan bunyi akhir kata kedua baris kedua. Ketiga, lafal kata yang keliru, misalnya syuruga (surga) dilafalkan dengan ciruga. Atau kata jadel atau ucapan secara tilo, misalnya tren menjadi tron, aneuek miet menjadi aneuk mit, dan lain-lain sebagainya.

Berkembangnya seni modern antara lain lagu-lagu pop Aceh dan lawak, seharusnya dapat membantu perkembangan bahasa Aceh. Tetapi dalam kenyataannya , lama-kelamaan akan terjadi degradasi bahasa. Memang bahasa selalu saja menerima perubahan. Tapi semuanya ada aturan. (Bukankah bahasa ialah ucapan, pikiran, dan perasaan yang memakai alat bunyi?)

Oleh Barlian AW

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: