Karena Ngeut, Maka Jipeungeut

Publik Aceh dihentakkan oleh berita dianulirnya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Sabang oleh Menteri Keuangan RI Agus Martowardojo. Para pejabat Aceh merasa ditipu karena RPP tentang pelimpahan kewenangan pemerintah kepada Dewan Kawasan Sabang (DKS) tidak lagi mengacu pada UUPA yang lahir berkat MoU Helsinki. Keresahan publik Aceh itu kemudian diambil alih penyelesaiannya oleh Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar yang tanpa mengulur-ulur waktu mengajukan protes kepada Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono di sela-sela acara HUT Pramuka di Cibubur, Jawa Barat (Serambi, 15/08/2010). Laporan Wagub mendapat respon kilat dari Presiden dan hanya dalam tempo singkat kesepakatan untuk mengembalikan RPP Sabang agar sesuai UUPA dicapai kembali. Nazar pun muncul bak pahlawan karena berani mengajukan komplain tanpa protokoler kepada Presiden. Pemandangan yang jarang ditemui di negeri ini.

Tulisan ini tidak hendak mengulas seberapa pentingnya RPP Sabang itu. Selain tidak memilki wawasan yang memadai tentang strategi pengembangan Sabang, kami juga tidak begitu yakin dengan adanya RPP Sabang dan segudang regulasi lainnya, maka Sabang akan maju dan masyhur sebagaimana saat masih dikuasai kaphe Belanda tempo dulu. Sikap pesimisme ini bukan tidak berdasar, mengingat nasib Aceh tak pernah membaik sejak republik ini terbentuk. Entah sudah berapa banyak janji-janji manis ditabur untuk menghibur wajah-wajah muram rakyat Aceh yang sebenarnya sangat nasionalis itu.

Sejak Proklamator Soekarno bersimpuh di hadapan Teungku Muhammad Daud Beureueh di Hotel Aceh pada awal proklamasi hingga Aceh diberi gelar sebagai Daerah Istimewa, bahkan hingga lima tahun usai penandatanganan MoU Helsinki, wajah Aceh terlihat masih belum sejahtera. Meski sering merasa ditipu, rakyat Aceh masih berharap agar, baik pemerintah pusat maupun daerah, serius mengimplementasikan UUPA sehingga tidak diplesetkan menjadi Uram Ujong Peunget Aceh.

Ngeut dan Teungeut

Tulisan ini hanya hendak mengulas sisi penggunaan kata “jipeungeut” dalam menerjemahkan kata “ditipu”. Bahasa Aceh termasuk salah satu bahasa yang kaya dalam khazanah Melayu. Terdapat beberapa kosa kata yang tidak ditemukan kata sepadan untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia. Misalnya, kata “geureupoh” (kandang ayam/bebek), “ceuntra” (kandang burung), dan “weueu” (kandang sapi) sering diterjemahkan sabagai kandang dalam Bahasa Indonesia. Padahal dalam khazanah Aceh kata-kata itu mempunyai ciri dan penempatan tersendiri. Beda jenis binatang, beda pula penyebutannya.

Selanjutnya, orang Aceh kerap menerjemahkan kata “ditipu” sebagai “jipeungeut”. Misalnya, saat muncul sub judul “Pemerintah Aceh Kecewa dan Merasa Ditipu Lagi” di halaman depan Harian Serambi Indonesia (13/08/2010), hampir semua orang Aceh berujar: “Kajipeungeut lom!”

Kata “jipeungeut” berasal dari kata dasar “ngeut” dengan penambahan “ji” dan “peu” sehingga menjadi kata aktif. “Ngeut” tidak bermakna bodoh, melainkan bodoh di atas bodoh atau dungu alias tolol. Sementara kata bodoh dalam Bahasa Aceh adalah “bangai”. Orang “bangai” jika disekolahkan dapat berubah menjadi pandai. Sementara orang “ngeut” walau pun disekolahkan dia tetap saja akan “ngeut”, atau minimal “ngeut ujong”. Jadi, menerjemahkan kata “ditipu” menjadi “jipeungeut” adalah kurang tepat.

Menerjemahkan “ditipu” menjadi “jipeungeut” dapat meruntuhkan martabat orang Aceh. Sebab, secara tidak langsung, orang Aceh telah mengakui adanya benih-benih “ngeut” dalam tubuhnya. Sebenarnya terdapat kata lain yang lebih “santun” untuk menerjemahkan kata ditipu, yakni “jitaki”, “jitipee” atau “jipeubangai”. Tapi, anehnya, hampir semua orang Aceh lebih senang menggunakan kata “jipeungeut” untuk kata ditipu. Apakah ini sebuah kebetulan, kesengajaan atau memang betul-betul adanya benih ngeut yang menyatu dengan jasad? Entahlah!

Ngeut dan Teungeut

Untuk memperkuat argumentasi bahwa “ngeut” (kata sifat) bermakna dungu, tolol atau la ra’du (reudok tan jiteupeu), di sini kami coba mengaitkan penggunaan kata dasar ngeut itu pada kata teungeut (tertidur, kantuk). Sebagaimana kata “jipeungeut”, kata “teungeut” juga berasal dari kata “ngeut” dengan penambahan “teu”. Orang yang sedang teungeut (tertidur) dipastikan tidak mengetahui apa-apa, karena terlelap dalam tidurnya. Apa pun aktivitas orang-orang di sekitarnya –walau jempolnya dipinjam untuk mensahkan surat-surat penting– dia tidak menyadarinya sama sekali.

Sementara orang ngeut, meskipun kondisi fisiknya berada di alam sadar dan matanya terbelalak bak burung hantu, tapi sesungguhnya dia tidak mengetahui apa-apa, sehingga dengan mudah dapat jipeungeut oleh orang lain. Nah, dalam hal ini, perbedaan antara orang yang jipeungeut dengan orang teungeut hanyalah pada kondisi fisiknya. Kalau orang yang jipeungeut matanya membelalak tapi dia tidak mengetahui apa-apa, maka orang teungeut secara fisik dan pikiran memang tidak mengetahui apa-apa.

Orang teungeut saat terbangun dia akan menyadari bahwa dirinya ada. Sementara orang ngeut sepanjang sejarah hidupnya dia tidak tahu dan tidak mau tahu apa-apa, atau dalam bahasa gaul sering disebut “bloon”. Ureung ngeut mata teubleut, ureung teungeut mata teupet (orang tolol matanya terbelalak, sementara orang tertidur matanya terpejam). Begitulah perbedaan antara orang ngeut dan orang teunget, yang sebenarnya kedua-duanya tidak mengetahui apa-apa.

Kami yakin bahwa bahasa dapat mencerminkan identitas bangsa. Bangsa yang santun akan senang menggunakan bahasa yang santun. Bangsa yang maju dan berperadaban akan selalu memperbaharui bahasanya dengan kosa kata baru yang maju, sehingga menjadi magnet bagi bangsa lain untuk memperlajarinya. Kita tentu berharap agar Aceh mampu memajukan identitas diri sebagai suku bangsa bermartabat dan berperadaban, baik melalui bahasa, intelektual dan aksi sehingga tidak dapat mudah jipeungeut di siang bolong karena orang Aceh tidak bergaris keturunan dari endatu yang ngeut. Semoga!

Banda Aceh, 22 Agustus 2010

Penulis,

HASAN BASRI M.NUR & AYAH PANTON

Penulis adalah Dosen dan Budayawan Aceh,

Keduanya Mantan Staf bidang Agama, Sosial dan Budaya BRR NAD-Nias

Catatan: artikel ini sudah pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: