Pentingnya Belajar Membaca

Jika mengartikan bisa membaca itu sama dengan tidak lagi buta huruf saja, anak TK pun sekarang sudah sangat pandai. Apakah tidak ada keinginan untuk mampu membaca melebihi kemampuan membaca anak TK?! Bila memang tidak, kenapa membaca itu menjadi hanya sekedar membaca saja?! Kenapa tidak juga belajar bagaimana membaca sebuah tulisan agar dapat menangkap arti dan makna yang tersirat dan sekaligus tersurat di dalamnya?! Kenapa belajar membaca itu penting bagi perubahan kehidupan di masa yang akan datang untuk menjadi lebih baik?!

Sering sekali argumen terjadi akibat membaca sebuah tulisan. Bisa dipahami bahwa perbedaan pendapat itu ada, tetapi argumen yang biasanya terjadi bukan merupakan argumen dalam arti dasar atas konsep sebuah pemikiran yang merupakan arti dan makna ataupun konteks dari isi tulisan tersebut. Lebih banyak argumen terjadi hanya karena perbedaaan pendapat atas teks yang terbaca saja tanpa mengindahkan arti dan maknanya secara keseluruhan. Tidak juga mau melihat konteksnya dan keterkaitannya kepada hal-hal lain yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tulisan tersebut. Sehingga pada akhirnya, hanya adu mulut saja. Sama sekali tidak ada arti dan manfaatnya juga selain hanya untuk unjuk gigi saja. Menang dan kalah, mayoritas dan minoritas, hebat dan tidak hebat, bodoh dan pintar, itu saja yang terus dijadikan tujuan. Sadar disadari, diakui tidak diakui.

Yang paling parahnya, bila ada yang menulis tentang sebuah pandangan yang berbeda dan tidak lazim, begitu juga dengan bila ada yang cara menulisnya berbeda dan tidak biasa. Dijadikan sebuah argument yang merupakan pertentangan atas moral, etika, dan juga norma yang berlaku. Bagus bila itu berdasarkan pemahaman yang kuat dan mendasar atas apa yang dituliskan. Hebat bila memang juga memiliki pengertian dan pemahaman yang mendalam atas moral, etika, dan norma yang dijadikan argumentasi. Sayangnya, lebih banyak argument terjadi sifatnya hanya berkisar pada permukaan saja dan tidak memiliki dasar yang kuat sama sekali. Sangat membuktikan bahwa argumen yang terjadi hanya karena tidak bisa menerima perbedaan itu meski merasa bahwa perbedaan itu ada dan memang harus terjadi. Jadi, semuanya hanya berkutat pada penerimaannya saja tanpa membicarakan lebih jauh apa arti dan makna yang terkandung di dalam tulisan tersebut ataupun kenapa ditulis dengan cara demikian. Ujung-ujungnya, kembali lagi kepada debat kusir yang tak akan pernah habis namun tak juga berarti dan bermanfaat.

Lebih lucunya lagi, kesombongan seringkali dijadikan point terakhir yang menjadi puncak untuk menghujam sang penulis. Padahal, siapa yang sombong sebenarnya?! Penulisnya atau pembacanya?! Yang mana yang sebenarnya belajar dengan memberanikan diri melakukan eksplorasi dan menjadi berbeda?! Siapa yang lebih jujur?! Siapa yang telah sombong dan merasa bahwa bila berbeda dan tidak biasa, maka itu adalah salah?! Siapa yang telah meremehkan yang lain?!

Memang tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih banyak penulis yang menulisnya juga asal menulis. Mengaku seorang penulis dan bangga telah menjadi seorang penulis yang hebat dan handal tetapi bila diperhatikan, apa yang ditulisnya hanya berkisar permukaan saja juga. Tidak mendalam dan sama sekali juga tidak memiliki dasar yang kuat sehingga tulisannya mudah sekali untuk dipatahkan. Tujuannya pun sudah sangat jelas sekali, biasanya hanya untuk mendapatkan pengakuan atas eksistensinya saja. Ini sangat terlihat jelas dari alur tulisannya, pemilihan katanya, juga bagaimana caranya menulis. Tulisan sangat menunjukkan karakter dan kepribadian penulisnya. Biar asal menulis pun, tetap saja semua itu tampak dengan sangat jelas. Roh dan jiwa seorang penulis yang dituangkan lewat tulisan sangat mempengaruhi apa yang dituliskannya.

Tidak perlu bicara soal aturan dan peraturan di dalam penggunaan tata bahasa, karena ini lebih parah lagi. Media massa sendiri, yang seharusnya memberikan contoh penggunaan tata bahasa yang baik dan benar, seringkali mengabaikan ini semua. Merasa sudah yakin dan sudah hebat dengan kemampuan diri tanpa ada keinginan untuk mengasah, menggali, atau memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Meski juga berkoar dan berteriak tentang kebenaran dan keadilan, bila tidak juga menghargai dan menghormati peraturan dan aturan yang ada, prinsip yang mendasar, apa gunanya juga?! Mana mungkin bisa mengubah kehidupan ini menjadi lebih baik?! Yang ada hanya penggiringan persepsi dan interpretasi masyarakat pembaca saja sesuai dengan maksud dan tujuan penulisnya maupun media massa tersebut.

Balik lagi kepada kemampuan membaca. Bila saja semua bisa membaca dengan baik dan benar, maka tentunya penggiringan ini tidak perlu harus terjadi. Sudah sangat jelas bahwa bahasa memang merupakan sarana untuk permainan politik yang sungguh luar biasa sekali dampaknya, sehingga bila tidak mampu untuk membaca, penggiringan itu mudah sekali dilakukan. Sudah sering bukan tertipu dengan janji-janji politik?! Darimana tahu janji-janji itu benar atau tidaknya?! Semua sangat tergantung kepada kemampuan untuk menginterpretasikan apa yang diungkapkan mereka lewat bahasa bukan?!

Inilah yang kemudian menjadi sebuah pertanyaan besar bagi Jacques Derrida, seorang filsuf asal Perancis yang terkenal dengan teori “Deconstruction”-nya.  Dekontsruksi, sebuah ide yang diasosiasikan dengan with post-structuralism dan  post-modernism, yang merupakan strategi analitis yang terutama telah diterapkan dalam lingguistik, literatur, dan filosofi. Tiga karyanya sangat fenomenal karena menggunakan pendekatan radikal atas teks atau tulisan; “Speech and Phenomena”, “Of Grammatology”, dan “Writing and Difference”.  Sangat juga berpengaruh terhadap perkembangan kritik tulisan dan juga perkembangan atas arti kata yang ada di dalam kamus, di mana sebelumnya, teks hanya diartikan sebagai sebuah kumpulan kata-kata yang dituangkan dalam berbagai bentuk tulisan.

Inti utama dari apa yang menjadi pembahasannya adalah “Masalah dalam membaca”. Apa yang tertulis dan apa yang terjadi akibat sebuah tulisan sangat dipengaruhi oleh berbagai aspek, diantaranya adalah interpretasi, persepsi, komentar, keterbatasan, dan masih banyak yang lainnya, termasuk juga peristiwa, sejarah, tanggal penulisan yang berhubungan erat di dalam pemahaman konteks sebuah tulisan. Oleh karena itulah, di dalam membaca, kita harus menempatkan teks atau tulisan sebagai seseuatu yang harus dibaca, bukan sebagai sebuah perbedaan atas pemikiran dan hasil kerja, tetapi atas apa yang menjadi penekanan atas semua aspek yang tertuang di dalamnya. Karena perbedaan itu sendiri jelas ada dan sangat dipengaruhi penulis, konteks sejarah penulisan, pembacanya, dan juga pengaruh atas ideologi politik ekonomi yang menjadi dasar atas keterbatasan dari pemahaman interpretasi sebuah tulisan.

Yang paling penting lagi, tulisan tidak sama dengan kata yang diucapkan sehingga untuk mengerti tulisan tidak sama dengan mengerti kata dan bahasa yang biasa digunakan dalam percakapan.  Banyak sekali yang terjebak dengan situasi di mana bahasa tulisan sama dengan bahasa percakapan, sehingga arti dan makna dari tulisan itu sama sekali tidak tertangkap dengan jelas. Benar-benar kosong atau “blank” sama sekali namun juga sering dijadikan bahan perdebatan.

Sungguh sangat menyedihkan sekali melihat fakta dan kenyataan ini. Kemampuan membaca jelas berpengaruh dan sangat dipengaruhi oleh perubahan bahasa, yang ujungnya akan berakibat kepada kondisi sosial, politik, dan budaya di dalam masyarakat, bangsa, dan Negara. Situasi dan kondisi yang terjadi sekarang ini kita rasakan bersama berakar pada pola pikir dan cara pandang yang telah terstruksur dan berpola di dalam masyarakat. Sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan pengertian atas bahasa yang tidak kuat dan tidak dijadikan dasar di dalam pembentukan jati diri.

Bahasa hanya dijadikan sebuah sarana untuk berkomunikasi yang ditangkap secara visual dan mengesampingkan arti dan makna yang sebenarnya sehingga kemudian mudah dipengaruhi dan terjadilah perubahan di dalam pola pikir dan cara pandang itu sendiri, yang mengarah kepada kemungkinan terjadinya permainan politik bahasa yang diarahkan sesuai dengan kepentingan dan tujuan para pemainnya dan sangat tergantung kepada situasi, kondisi, dan trend yang sedang berlangsung. Menjadikan kondisi sosial, budaya, dan politik melemah dan sangat labil. Bila demikian, apakah bisa menjadi kuat untuk melakukan perubahan untuk menjadikan kehidupan di masa mendatang itu lebih baik?!

Semua ini juga membuktikan sekali bahwa memang bila tidak memiliki dasar yang kuat atas pemahaman sebuah bahasa, membuat tulisan itu menjadi hanya sekedar sebuah tulisan yang ditangkap secara tekstual dan tidak mengindahkan sejarah, peristiwa, dan masa saat tulisan itu dibuat yang tercermin pada konteks sebuah tulisan. Terpaku kepada pola pikir dan cara pandang yang “umum”, “jamak”, “lumrah” juga “trend” di dalam lingkungan kehidupannya sehari-hari, tidak secara luas dan menyeluruh.

Di lain sisi, lengahnya kepekaan atas gejala sosial yang terjadi di dalam masyarakat menjadikannya semakin buruk. Tidak bisa membedakan mana yang “hitam” dan “putih”, mana yang “sakit” dan “waras” akibat ketidakmampuan di dalam mendalami isi arti dan makna kata per kata yang tertuang di dalam tulisan. Pemilihan kata jelas sekali menunjukkan pribadi seseorang, begitu juga alurnya di dalam menulis. Untuk dapat mengetahui dan mengenalnya, tentunya dibutuhkan pengalaman dan juga kepekaan serta kepedulian. Ini yang seringkali tidak diperhatikan dan dicermati dengan baik.

Amat sangat dipahami bahwa semua memiliki kelebihan dan keterbatasan serta kekurangan masing-masing. Mana yang benar dan mana yang salah bukanlah yang menjadi inti utama dari sebuah diskusi yang baik, tetapi bagaimana bisa saling mengisi atas kekurangan dan memberikan kelebihan itu kepada yang lain untuk menjadi berarti dan bermanfaat adalah yang seharusnya didahulukan. Kekurangan itu bukanlah sesuatu yang menjadi batas untuk mau melepaskan diri dari batas yang ada, tetapi merupakan pemicu untuk membuat batas itu menjadi lebih luas lagi. Perbedaan itu indah, tetapi alangkah indahnya bila berpadu menjadi satu seperti sebuah pelangi.

Perlu diingat selalu juga bahwa ada etika dan norma yang berlaku di dalam kehidupan bermsyarakat termasuk di dalam sebuah komunitas. Bila ini juga diabaikan, maka tidak akan pernah ada yang namanya manusia modern dalam pemikiran dan hati.

Marilah kita sama-sama belajar dan terus belajar. Merundukkan hati agar bisa benar-benar belajar, bukan hanya sekedar belajar saja, namun benar-benar menuntut ilmu. Bila memang ingin kehidupan ini ingin menjadi lebih baik, belajarlah arti kata dan bahasa dengan baik dan benar. Asahlah kemampuan membaca agar bisa membaca dengan baik dan benar juga. Semoga kita semua tidak terlalu sombong dan tinggi hati untuk mau melakukannya.

Salam,

Mariska Lubis

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Gul Azwara  On September 5, 2010 at 4:40 am

    Wah menarik sekali tulisannya Teh ML. Pemilihan kata dan memperhatikan alur tulisan memang sangat penting.

    Salam,

  • Wid  On September 22, 2010 at 3:09 am

    Kemampuan membaca memang harus dibedakan dari istilah “melek aksara” / literate sebagai lawan “buta aksara” / illiterate. Bahkan di tingkat usia dini pun (termasuk masa TK) anak sudah belajar menangkap makna, bukan lagi aksara. Kata-kata yang tertulis tak lagi dilihat sebagai kumpulan aksara. Dari awal, seyogyanya anak sudah belajar membaca makna. Kita bisa terkaget-kaget oleh kayanya pengetahuan anak yang masih muda karena terbiasa membaca makna dari berbagai macam artikel. Kita akan semakin sering kaget apabila kita tidak mengubah kemampuan kita membaca, yang memang terkadang tidak jauh dari melihat kumpulan huruf.

    Sekitar 40 tahun yang lalu pengajaran membaca pada masyarakat tertinggal di Amerika Latin sempat menggegerkan negara-negara di sana, karena kata-kata yang tertulis mencerminkan pengalaman hidup mereka sehari-hari, seperti senapan, lintah darat, diktator, rezim, kolonialisme, kapitalisme, pemodal, birokrat, dan lain-lain.

    Pengajaran membaca yang benar dapat dianggap kegiatan yang melawan kemapanan. Tidak jarang pendidikan pada umumnya memang bisa dianggap subversif. Oleh karena itu, berbahagialah kaum pewarta dan penulis, karena mereka berpotensi menjadi pahalawan yang membawa perubahan kaum dan bangsanya.

    • katainstitute  On September 22, 2010 at 9:48 am

      Terima kasih Mas Wid untuk masukannya.

      Memang kita suka lupa bagaimana mengajarkan anak untuk membaca dalam arti mengerti arti dan maknanya… Orang tua dan guru hanya memperhatikan aksaranya saja. Oleh karena itu terkadang saya suka protes untuk urusan membuat perpustakaan atau buku bagi anak-anak. Percuma saja bila tidak diajarkan bagaimana cara membacanya.

      Terima kasih Mas untuk motivastinya. Semoga saja kita semua mau terus berusaha memberikan yang terbaik.

      Salam hangat selalu.

      Mariska Lubis

Trackbacks

  • By Bicara Tentang Arti Sebuah Tulisan | Bilik ML on November 16, 2011 at 7:22 pm

    […] utama dari apa yang menjadi pembahasannya adalah “Masalah dalam membaca”. Apa yang tertulis dan apa yang terjadi akibat sebuah tulisan sangat dipengeruhi oleh berbagai […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: