MK, Akankah Kalah di Aceh?

Kali ini kita akan memaparkan kilasan Pilkada Aceh dengan judul MK, Akankah Kalah di Aceh?

Ini cerita tentang Nurdin Halid dan Mahfud MD. Jika Nurdin Halid sedang gundah karena kisruh organisasi bola yang sudah pada taraf politisasi tingkat tinggi karena menyeret institusi FIFA maka Mahfud MD, bisa jadi juga sedang gundah. Tentu saja bukan karena bola, melainkan karena putusan hukum lembaga yang dipimpinnya, MK, tentang calon independen dalam Pilkada Aceh yang bisa jadi akan diabaikan. Akankan Nurdin Halid yang kini sedang sangat dibenci kalah sebelum bertarung di Kongres PSSI nanti?

Akankah keputusan MK yang kini sangat dihormati akan dibola-bolai di Negeri Serambi yang dulu sangat terkenal dengan politik perlawanannya di lapangan politik nasional?

Mahfud MD bisa saja berkelit dengan menyatakan bahwa mereka hanya menjalankan tugas yakni melakukan putusan hukum yang diputuskan sesuai dengan hukum. Jika pun kemudian ada penolakan Mahfud merasa itu bukan lagi urusan mereka. Pemerintahlah yang menjalankannya.

Itu artinya, kekuatan politik yang menolak calon independen akan kembali berhadapan dengan pemerintah yang belum memiliki riwayat menolak putusan MK. Buktinya, dari pihak KPU Pusat sudah memberi sinyal yang tegas bahwa calon independen merupakan “harga mati”yang harus diakomdoir keikutsertaannya dalam Pilkada Aceh paska putusan MK. Begitu juga dengan pihak pemerintah Aceh yang juga tidak mempersoalkan calon independen bahkan sebelum adanya putusan hukum MK.

Kalau begitu, adanya wacana penolakan terhadap Putusan MK harus ditempatkan sebatas politik penghadangan, minimal untuk bisa menahan laju calon yang berniat maju dari jalur independen. Ini sekaligus merefleksikan ketegangan politik yang pernah terjadi pada Pilkada 2006 kembali muncul kepermukaan.

Lebih dari itu, masih dipersoalkannya jalur independen paska putusan MK menunjukkan bahwa wacana politik Aceh masih dipenuhi cara berfikir defisit dan belum juga bergerak ke wacana politik apresiatif. Semestinya, hari-hari ini rakyat Aceh sudah mulai melakukan pelacakan jejak kandidat sehingga tidak selalu terjebak pada politik yang didasarkan pada pencitraan semata.

Semestinya para kandidat melalui tim suksesnya sudah mulai melakukan penampakan sisi kekuatan kandidat meski belum dalam pengertian kampanye. Lebih awal mengenali kepribadian dan visi kandidat akan lebih lmelegakan rakyat dalam menentukan pilihannya karena didasari pada pertimbangan yang cukup. Jika calon hanya dikenali pada masa kampanye saja sangat besar kemungkinan para kandidat hanya melakukan politik pencitraan yang biasanya ditujukan untuk pemilih bebas atau yang kerap disebut swing voter.

Apakah ini menjadi pertanda bahwa harapan rakyat untuk lahirnya sang pemimpin sejati Aceh belum akan kesampaian di Pilkada 2011 ini? Akankah rakyat harus menunggu musim konflik dan musim bencana untuk benar-benar membuka ruang kesadaran politik bangsa Aceh?

Mungkinkah menunggu jawaban dari Nurdin Halid dan Mahfud MD? Halaghhhh….ada-ada saja.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: