Akar Konflik Aceh (Imajiner)

28 Juni 2035. Bertempat di Hotel Oasis, Banda Aceh, sebuah pertemuan yang melibatkan peneliti se-Asia dilangsungkan. Dari spanduk di depan hotel diketahui maksud pertemuan, yakni: “Mencari Akar Konflik Aceh.” Dari spanduk pula diketahui siapa penyelenggara acara yakni Yappika-Forum LSM Aceh-Aceh Institute-Unsyiah-IAIN Ar-Raniry-Worldbank.

Karena penasaran saya mencoba masuk siapa tahu ada salah satu peserta atau panitia yang bisa dikenali. Penasaran dan ingin bertanya mengapa pertemuan ini dilaksanakan. Seingat saya penelitian mencari akar konflik Aceh sudah pernah dilakukan jauh sebelumnya dan saya ingat betul kalau orangtua saya menjadi salah seorang pesertanya.

Saya masih menyimpan buku hasil penelitian dengan judul yang sama:
“Mencari Akar Konflik Aceh.”

“Hai Icha! Kamu rupanya di sini. Jadi panitia atau peserta, nih?”

“Mana mungkinlah saya peserta. Ini pertemuan para peneliti berkaliber Asia. Saya memang penulis dan sesekali meneliti tapi belum selevel mereka yang hadir di sini. Oh ya, kok Putri ada di sini? Mau bertemu donor ya? Tadi saya lihat beberapa direktur bertemu dengan tim dari USAID.”

“Oh tidak. Lembaga saya sudah punya kontrak kerja dengan TroCARE dan kami sudah putuskan untuk tidak lagi berkerjasama dengan lembaga Amerika. Saya kemari hanya penasaran saja dengan acara kamu ini. Kenapa masih melakukan kegiatan yang sudah pernah dilakukan puluhan tahun lalu?”

“Putri. Penelitian atau riset yang sama bisa saja dilakukan berulangkali. Tidak ada yang salah. Kami ingin mencoba melihat kembali apakah akar konflik Aceh sekarang masih sama dengan akar konflik Aceh seperti temuan dahulu?”

“Jadi apa kesimpulannya? Sama atau berbeda?”

“Belum final, Putri. Nanti saya pastikan kirim via email jika hasilnya sudah final. Tapi beberapa rumusan sudah bisa diformulasikan minimal pada tingkat pernyataan saja.”

“Apaan, sih? Putri sangat penasaran ni. Soalnya, semalam baru saja Putri membaca lagi buku hasil riset lama yang juga disponsori oleh Yappika dan Forum LSM Aceh.”

“Beda Putri. Akar Konflik Aceh kali ini justru berakar dari multitafsir lokal atas kekuasaan. Dan, jika dikupas lebih dalam ke analisis aktor maka bisa dipetakan siapa saja aktor penggerak konflik Aceh saat ini. Sayangnya, mereka semua sudah meninggal sehingga tidak cukup etis untuk mengungkitnya lagi meski sekedar di buku sejarah.”

“Kok, begitu? Sejarah ya mesti ada aktornya, dong! Siapapun dia, ya harus ditulis apa adanya. Kalau tidak, cacat sejarah Aceh kembali terulang. Lagi-lagi banyak peristiwa di Aceh tidak dikenali aktor intelektualnya. Ini tidak adil bagi generasi baru Aceh seperti kita yang ingin sekali menegakkan kebesaran sejarah Aceh.”

“Kamu betul Putri. Dari hasil sementara riset ini sebenarnya semua aktornya sudah bisa dipetakan, minimal dari sisi lembaganya atau dari sisi titik gerak terjadinya peristiwa. Misalnya, konteks Pemilukada 2011. Dari analisis konteks ini semua aktornya bisa dilihat dan ditelusuri lebih jauh.”

“Kalau begitu, apa dasarnya untuk tidak mengungkap analisis aktor di riset kali ini?”

“Saya sendiri belum tahu apa landasan epistemologi dan metodologinya. Itu semua akan dibahas dalam forum dua hari lagi. Tapi saya lebih melihat masih ada kesungkangan sosial jika analisis aktor yang lebih dikemukakan. Siapa tahu ada semacam ketakutan jika nama-nama orang yang diungkapkan sebagai akar konflik Aceh.”

“Tapi…”

“Sudahlah Putri. Saya tidak mau berdebat. Lebih baik kita lihat saja hasilnya nanti.”

“Ya, sudah. Kalau begitu saya balik ke kantor dulu, ya. Nanti malam saya dan kawan-kawan akan ke Bireuen. Di sana mulai ada pengungsi konflik yang mendirikan tenda-tenda sejak peristiwa kontak senjata terjadi dua hari lalu.”

“Oke Putri. Salam untuk teman-teman dan hati-hati di jalan ya. Salam juga untuk Ayahmu, ya.”

“Oke Aisya Zakia Safira. Salam juga untuk ayah Mus ya. Semalam ayahku bercerita tentang hobi memancing ayahmu. Seru banget!”

Hari mulai merapat mendekat ke malam bersamaan dengan berlalunya Putri Binti Risman dari Hotel Oasis.

Solong, 28 Juni 2035

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: