Humor Sufi Aceh: Kompasianer Kompetitor Tuhan

HISAB 05| Kompasianer memang beda! Selain bisa menjadi pelapor (pewarta) bisa juga menjadi pelopor. Lebih dari itu, kompasianer banyak juga yang mampuni sebagai analisator. Dasyatnya lagi, banyak kompasianer yang menjadi kompetitor bagi banyak pihak. Kabarnya, juga menjadi kompetitor Tuhan?! Apa benar?!

wisnu nugroho -sengaja nulis tanpa huruf kapital- itu bisa disebut sebagai pelapor (pewarta) dan sekaligus contoh pelopor yang lagi keren. Dua buku terkininya terkait pak beye, kabarnya,  sedang laris manis. Untung saya tidak kenal dengan wisnu. Kalau kenal, bisa geer dan langsung minta buku plus tanda tangan. Salut, karena dengan dua bukunya semakin menambah gairah para blogger untuk menulis lebih serius lagi yang pada gilirannya menjadi lebih bagus lagi.

Di samping itu, ada banyak kompasianer yang menjadi analisator handal. Misalnya, Pak Pray, Pak Chappy dan Bu Mariska alias Mbak ML yang sebelumnya masing-masing sudah menerbitkan buku. Pak Pray dengan intelijennya. Pak Chappy dengan cat rambut orang yahudi dan pesawat terbangnya. ML dengan seks dan pemimpin-nya. Analisis ketiga sosok kompasianer ini sangat ditunggu untuk dibaca dan dikomentari.

Apakah kompasianer hanya sekedar pelapor, pelopor dan analisator saja? Tentu saja, tidak! Kompasianer adalah juga para kompetitor yang dasyat. Dasyat bukan hanya karena berpotensi “mengalahkan” anggota DPR, Jaksa, Polisi, KPK dan juga office boy dalam soal debat. Bang ASA, yang dulu dikenal dengan panggilan Baginda dan juga Faizal Asegaf bisa disebut sebagai kompasianer dengan semangat kompetitor tinggi. Tulisan mereka siap mendebat sekaligus “mendobrak” siapa saja.

Nah, ada yang iseng berkata kalau banyak kompasianer yang juga bisa menjadi kompetitor bagi Tuhan. Lho, kok bisa?! Siapa saja mereka?! Ahh, pasti iseng?!

Begini. Konon menurut Teungku Malek Daud, mengutip Kang Jalal, dikalangan sufi manusia dikenal sebagai mahluk Allah yang paling sempurna di dunia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan Ibnu’Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan) asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh.

Masih mengutip Kang Jalal, Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya. Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman:

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku” (QS. 15: 29)

“Atas dasar itu, siapa saja berpeluang menjadi kompetitor Tuhan. Fir’un adalah contoh kompetitor terbesar yang pernah ada di muka bumi karena memproklamasikan dirinya sebagai Tuhan.”

Begitu ulasan singkat Sufi Aceh kepada tamu yang bertanya seputar manusia dan Tuhan.

“Betul juga, Teungku ya. Meski sekarang sudah tidak ada lagi orang seperti fir’un (?) tapi orang-orang yang men-tuhankan seseorang atau sesuatu dan ia berserah diri atau menggantungkan hidupnya pada “tuhan”nya masih banyak ya. “

“Itu kata Anda. Tapi yang saya tahu orang-orang yang meniadakan Tuhan dan mengabaikan Tuhan, lebih banyak.”

Tapi, sebelum tamunya berlalu pulang Teungku Malek merasa penting untuk mengingatkan satu tip agar terhindar menjadi kompetitor-Nya, yakni dengan mengingat perjanjian manusia dengan Tuhan. Dengan mengutip pandangan Cak Nur, Teungku Malek kemudian membacakan perjanjian itu yang diungkapkan dalam bahasa metaforik yang sangat ilustratif, demikian:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil (menciptakan) dari anak cucu Adam, yaitu dari tulang belakang mereka, keturunan mereka dan Dia minta kesaksian mereka atau diri mereka sendiri: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”

Mereka mergawab, “Benar, kami bersaksi!” (Demikian itu supaya kami tidak) berkata di hari Kiamat: “Sesungguhnya kami lupa akan hal itu.”

Penjelasan singkat itu rupanya memuaskan tamunya yang sehari-hari aktif memberi bisikan kepada Gubernur Aceh tapi juga sekaligus aktif sebagai kompasianer malam, atau yang umum disebut kompasianers kalong.

Teringat soal kalong inilah, sebelum beranjak pergi, sang tamu tergoda untuk mengajukan pertanyaan “nakal” sebagai penutup pertemuan perjamuan malam usai magrib.

“Teungku, apa benar Tuhan tidak tidur?!”

“Benar! Itu kan ada ‘hadis’ Jawa-nya: Gusti Ora Sare. Terpidana kasus korupsi sistem administrasi badan hukum (Sisminbakum), Yohanes Waworuntu saja percaya. Masak kamu tidak percaya!?”

“Saya juga percayalah, Teungku! Maksud saya, apa kompasianers yang tidak tidur bisa disebut sebagai kompetitor Tuhan?!”

“Husssshh. Kamu ini kok jadi teks-tor gitu, sih?!”

“Hehehe?!.”

Di luar, angin sedikit bergolak. Beberapa pucuk daun pohon istana, jatuh sebelum waktunya tiba, persis diantara cahaya bulan kemuning yang jatuh di sela rumbut-rumput tak bertuan.

Hmmmm…?

Saleum peAceheart
Risman A Rachman

23 September 2010

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: