Humor Sufi Aceh: Mengkudeta Tuhan

HISAB 02: Banyaknya benturan antar umat beragama yang terjadi akhir-akhir ini membuat Gubernur Aceh merasa perlu berdialog dengan pemuka agama, termasuk dengan Sufi Aceh, Teungku Malek Daud.

Maka, Gubernur Aceh yang baru saja pulang dari rapat koordinasi dengan Pemerintah Pusat langsung memerintahkan ajudannya untuk mencari dan membawa Sufi Aceh ke Pendopo Gubernur.

Agar lebih cepat, sang ajudan menelepon orang-orang yang dianggap mengetahui posisi terkini Teungku Malek. Tapi, sebelum ajudan menelepon, Sang Gubernur bertanya: “Kamu pakai teknologi komunikasi apa? Jangan pakai jaringan ‘T’. Nanti error lagi.”

Assalamu’alaikum, Teungku. Pu haba. Semoga sehat.”

Alhamdulillah. Semoga bapak juga sehat ya. Pu na gerangan sehingga saya dipanggil? Adakah yang bisa saya bantu?”

“Benar, Teungku. Saya punya hajat besar untuk memastikan konflik tidak terjadi lagi di Aceh….”

“Pak Gub. Mandum ada jalan keluarnya. Insya Allah.”

“Syukurlah. Jika begitu, saya serahkan semua kepada Teungku untuk merumuskan kebijakan dalam hal pelaksanaan peribadatan umat beragama di Aceh.”

Mendengar kalimat terakhir Sang Sufi Aceh terkejut. Ada rasa menyesal karena tadi ia mengatakan “Semua ada jalan keluarnya”. Mestinya diam saja dulu sampai semuanya jelas. Tapi apa hendak dikata, beban harus dipikulnya.

“Minggu depan, saya akan mendengar semua masukan, termasuk dari Teungku.”

“Saya kira, tidak perlu menunggu minggu depan. Saya sudah siap memberi masukan.”

Dengan sedikit heran bercampur rasa ingin tahu Gubernur Aceh berkata, “Kalau begitu, sampaikan apa pandangan Teungku.”

“Bebaskan pemerintah dari mengatur-atur agama dan umat beragama.”

Gubernur yang memang dikenal “keras” itu refleks berdiri dan berkata, “Bagaimana mungkin tidak diatur. Semua harus bertolak dari aturan, termasuk soal beragama.”

“Itulah akar masalahnya. Diktator dan tirani atas agama belum juga diakhiri.”

“Salah, Teungku. Diktator mayoritas dan tirani minoritas.”

“Itu bahasa HMI. Begini, sejak orde nabi dan orang-orang shaleh berakhir manusia kembali berhasil mengkudeta Tuhan. Bahkan Tuhan diatur oleh manusia harus dimana, dengan siapa dan bagaimana.”

“Teungku jangan menyindir saya dengan penerapan Syariat Islam di Aceh. Itu bukan mengkudeta Tuhan. Justru itu penerapan hukum Tuhan.”

“Hukum Tuhan atau menghukum dengan meminjam nama Tuhan?!. Jadi, kalau mau kembali teratur manusia harus kembali lagi dibawah Kuasa Tuhan, yang sangat jelas kebijaksanaan-Nya: seruan damai, kasih sayang, salam, dan harmoni. Musuh manusia juga jelas, bukan manusia melainkan syetan dan hawa nafsu. Kalau bapak tidak percaya periksa semua kitab yang ada.”

“Jadi siapa yang akan mengatur jika ada konflik agama?”

“Ya, pemimpin agama yang dipercaya oleh umatnya. Jika umatnya bertengkar, tangkap pemimpinnya. Jangan tangkap umatnya karena mereka tidak mungkin mau bertindak jika tidak diberi sugesti agama oleh pemimpinnya. Disuruh ritual konvoi, ya, ikut saja walau mereka tahu konvoi itu bisa mengganggu lalu lintas. Disuruh menghadang, ya, dihadang, dan seterusnya.”

“Pak Gub. Saya mau kasih tahu rahasia pengendalian umat agama. Kemari, saya bisikkan.”

Sambil berbisik, “Pemimpin agama dibutuhkan oleh umatnya untuk urusan mengurus jenazah. Tahukan maksud saya soal keampuhan pemimpin agama untuk mengatur umat?! Jadi, biarkan mereka yang mengatur. Jika salah, maka merekalah yang salah. Kalau masih di atur maka siap-siap saja mereka terus menyalahkan pemerintah setiap ada konflik. Serahkan urusan pada ahlinya. Ayo kita akhiri orde mengkudeta Tuhan dan biarkan ar-rahman dan ar-rahim atau kasih dan cinta-Nya kembali melingkupi hati kita semua.”

“Ya…ya…ya.” Gubernur Aceh tampak mangut-mangut dan membayangkan jika ia meninggal dan tidak ada yang mengurusi ritual keagamaan atas kematiannya.

Jadilah Sang Gubernur merinding sendiri usai Sang Sufi Aceh berlalu.

 

Saleum peACEHeart,

 

Risman A Rachman

18 September 2010

 

Catatan:

 

HISAB singkatan dari: Humor “I” Sufi Aceh Baru. “I” bisa ‘Inspirasi’, kadang bisa ‘Introspeksi’, bisa juga hanya sekedar ‘Iseng’ saja.

 

Terjemahan kata-kata Aceh:

Pu haba : apa kabar

Pu na : ada apa

Mandum : semu

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: