MAKAR: Agen CIA

Mirip dengan sosok yang kini banyak menghiasi lembar halaman pertama sejumlah media. Mungkinkah dia agen CIA itu?

————–

Ini masih pagi banget. Mataku masih lengket saat melihat sesosok berbadan tegap berkulit hitam lewat di depanku. Kucoba buka lebih lebar kelopak mata pagiku. Ah, terminal bus yang masih sepi dan dingin.

Aku masih di bus dan belum mau turun meski hampir semua penumpang sudah turun. Kucoba akses situs berita dari handphone bb di tangan. Gayus dan Nazaruddin. Bosan!

Kuambil sebatang rokok. Kuselipkan di bibir dan kress. Asap pertama hasil pembakaran segaja kusemburkan ke dinding kaca bus persis kala ujung mataku kembali melihat sosok yang tadi melintas dihadapanku.

Mirip dengan sosok yang kini banyak menghiasi lembar halaman pertama sejumlah media. Mungkinkah dia agen CIA itu? Ah, tidak mungkin! Dari media aku tahu dia sudah keluar Indonesia beberapa bulan lalu.

“Hai, pagi bang. Halaghh…gayanya. Abang, abang…. Abang ini gayanya dah kayak intel aja. Lihat kiri lihat kanan. Lalu sembur asap rokok. Untung tidak pakai kacamata hitam sama topi golf. Bisa-bisa abang dikira intel melayu. Ayo bang, turun. Mana tasnya, biar aku bawa ke mobil.”

“Husssshh…resek amat, sih.”

“Ada apa sih, bang? Kok dari tadi mata abang sibuk lihat, kiri, kanan, depan, belakang? Ada cewek cantik ya?”

“Hussssshh….diam dulu! Ni, baca!”

“Ahhh si abang. Mana pula saya mau baca berita. Dirumah saja saya tidak mau nonton berita TV apalagi abang suruh baca lewat hape. Saya dengar dari Abang sajalah ntar di mobil. Ada berita apa sih, bang?”

“Ini tas nya. Kamu masukin dulu ke mobil ya. Abang ke toilet terminal dulu. Kamu tunggu abang dimobil saja ya.”

“Nggak mau ah. Gaya abang ni buat saya kuatir saja. Bang, ini bukan kampung kita. Jadi abang jangan sok jadi orang hebatlah disini? Ini Jakarta, bang!”

Aku sudah tidak peduli. Darahku tiba-tiba mengalir deras ke ubun-ubun. Tanganku mulai gatal-gatal. Ingin segera ku sergap orang itu. Aku yakin itu pasti dia. Berita boleh saja mengabarkan kalau dia sudah kabur. Toh bisa jadi itu hanya ulah para mafia saja.

Sebagai anak bangsa darah nasionalismeku tidak bisa cuek saja dengan keadaan. Ini tanah airku. Inilah saat yang tepat untuk kupersembahkan patriotismeku kepada bangsa. Aku tidak mau teriak di demo. Aku mau menangkap orang yang sudah mengobok-obok hukum negeriku. Agen CIA itu harus tanganku yang menangkapnya. Aku pasti bisa. Ya, pasti bisa. Ini kesempatanku.

“Bang, abang mau ke mana? Ini abang mau kencing atau mau kejar orang sih? Bang? Bang? Oooiiii, bang? Ini tasnya berat. Jangan cepat sekali jalannya, dong? Banggggg?!”

Aku benar-benar tidak peduli lagi dengan suara panggilan Iwan. Aku terus saja mempercepat langkahku sambil membangkitkan keberanian dengan mengingat kembali beberapa peristiwa yang sempat kualami di terminal bus di kampungku dulu.

Terakhir, aku dikalungi bunga dalam acara HUT Polri karena jasaku mengamankan terminal dari keributan akibat perkelahian para preman terminal. Dan hape bb ini adalah hadiahnya. Aku merasa sangat bangga menjadi orang yang bisa berguna.

Melalui hape ini pula aku kerap berbagi informasi kepada polisi jika ada hal-hal mencurigakan khususnya terkait gelagat teroris. Hasilnya ya bb ku selalu dikirimi pulsa dan akupun bisa mengakses berita sekaligus informasi lain untuk meningkatkan pengetahuanku yang memang masih sangat minim. Aku boleh gagal jadi polisi tapi jiwaku masih sepenuhnya polisi.

“Bang, kok abang ke situ? Toiletnya bukan disitu. Bang Man. Ada apa sih, bang?”

Dengan gerak cepat aku langsung menuju sasaran. Dan dalam gerak cepat pula aku menghadang langkah orang yang sedang menjadi sasaranku.

“Berhenti! Saya pastikan Anda akan baik-baik saja jika Anda mengikuti perintah saya. Anda, John Jerome Grice silahkan ikut saya ke kantor polisi terdekat, sekarang!”

“Why this is happening? How come you stop me entering the mosque?”

“Anda, John Jerome Grice, agen CIA, kan?”

“What’s up?! I am Yusuf. I am one of tabliq jamaah. I’ve been here, in this station mosque, for a few days.”

“Bang, ada apa sih, bang? Buat malu aja abang ini. Abang itu bukan polisi tapi gayanya melebihi polisi. Polisi aja tidak sibuk seperti abang. Apalagi abang mau menangkap agen CIA. Mana mungkin bisa. Sama preman mungkin abang bisa tapi tidak sama mafia apalagi sama CIA. Ini Jakarta bang. Bukan kampung kita. Belum tentu juga CIA itu Central Intelligence Agency. Bisa-bisa Cikeas Indonesian Agency.”

“Apa?”

“Udah, ahhh! Becanda aja, kok! Abang ini, serius aja bawaannya.”

Aku malu hati dan akhirnya hanya mengikuti petunjuk Iwan saja sambil mendengarkan penjelasannya tentang seluk beluk politik hukum di Ibukota Jakarta sambil sesekali belajar tersenyum kala Iwan memparodikan carut marut politik dan hukum negeri ini yang katanya mirip gaya sepakbola betis dikampungku, zaman dulu.

Halaghhhh!!

Saleum MAKAR

Risman A Rachman

20 Januari 2011

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: