Makar: Sosok Berinitial “SG”

“Nanti malam saya mau bawa tamu, SG. Tolong pastikan barmu meriah ya.”

“SG? Siapa pula gerangan? Saifudin Gani? Saifullah Gani? Atau Suwaid Gamal? Ah..! Mengapa ada sms “intruksi” untuk memeriahkan bar? Inikan bar bagi semua orang dan setiap orang sama di dalam bar. Untuk apa juga bar ini dinamakan “Setara Bar”.

Akil kembali memperhatikan SMS yang baru saja diterimanya. sekali lagi diperhatikan nama yang hanya ditulis inisial, SG.

“Siapa pula dia. Rasanya tidak pernah ada tamu sebelumnya dengan nama yang bisa disingkat SG kecuali yang tadi. Mereka juga tidak pernah singgah di sini meski ada isu mereka pernah ke bar. Bar apa kali ya,” gumam Akil.

Akil lalu membuka riwayat sms yang pernah dikirim orang yang dipanggilnya dengan sebutan bos.

“Ini dia. Aku punya satu kawan yang mau aku perkenalkan padamu. Tapi nantilah aku jelaskan siapa dia. Pastinya dia pernah lama di Srilangka. Sudah dulu ya. Aku harus segera meeting. Bye.”

“Srilangka? SG? Srilangka kan negeri konflik. Apa mungkin SG bukan nama melainkan sebuah gelar atau kata sandi? SG? Jangan-jangan…jangan-jangan…”Satria Gerilya atau Security Gu….?”

“Hmmm…si bos pernah lama di Afganistan!!! SG pernah lama di Srilangka. Benar. Pasti benar..dia Satria Gerilya sebagai julukan yang diberikan oleh si bos kepada orang Indonesia yang pernah berlatih perang di Srilangka untuk kemudian baru dikirim ke Afganistan.”

Sejak itu Akil mulai berpikir dan meraba-raba untuk menemukan arah pikirannya. Bahkan sempat terlintas dugaan soal jaringan teroris. “Bukankah si bos sudah lama tidak kelihatan dan dua hari lalu baru ketahuan kalau dia ada di Jakarta. Apa si bos sudah jadi teroris dan malam ini mereka mau bertemu di barku?”

Setiap kali Akil mencoba menarik-narik arah dugaannya setiap kali pula ia ragu. Hanya satu hal yang masih membuat dia yakin yakni SG adalah inisial untuk sebuah julukan dan itu “Satria Gerilya.”

Dengan bekal keyakinan itulah Akil memerintahkan karyawan barnya untuk menyiapkan menu terbaik.

Bagi Akil si bos bukan hanya sahabat terbaik melainkan juga “dewa penolong” karena berkat si boslah sakitnya sembuh, dan yang lebih penting si boslah yang telah memperkenalkannya dengan orang yang kini menjalin relasi bisnis dengannya sehingga Bar Setara bisa lebih maju lagi.

“Teman-teman. Pastikan nanti malam bar kita dikunjungi banyak orang dan pastikan juga agar menu malam nanti istimewa. Tolong persediaan bir cukup, ya.”

Tampak sekali Akil mau memperlihatkan hal terbaik pada si bos baik sebagai ucapan terimakasihnya maupun dalam usaha membuat hati tamu si bos senang. Akil mulai berpikir jika orang yang dijuluki SG: “Satria Gerilya” adalah tokoh penting dan berpengaruh. Jadi semakin banyak orang malam ini di bar maka makin baik reputasi dirinya dan bar di mata tamunya. Lebih penting lagi, kehadiran orang penting dan keramaian barnya menjadi sarana promosi juga sekaligus sarana unjuk gigi bagi bar lain yang menurutnya memang sedang musim bersaing.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam ketika Akil melihat satu sosok tegap turun dari mobil jeep warna hijau. “Ini pasti SG,” bisik hati Akil.

Akil mencoba lagi memperhatikan pakaiannya dan juga sepatunya. Sepatu bot panjang. “

“Ini pasti Satria Gerilya,” ujar hati Akil berulangkali.

Keyakinan itulah yang kemudian membuat Akil memberi kode berantai mulai dari satpam penjaga pintu masuk hingga ke karyawan bagian dalam.

Dan saat itu pula orang yang disangka SG masuk dengan langkah tegap tanpa melirik kiri kanan. Dan karena semua sudah pada tahu apa yang harus dilakukan maka semua juga memberi hormat pada sang tamu. Dan sang tamu pun tampak menikmati penghormatan yang ada.

Setelah menempati tempat yang sudah disediakan suasana hening seketika. Semua mata tertuju pada sosok yang secara fisik dan penampilan memang menyakinkan. Konon lagi dibumbui dengan inisial yang dimaknai dengan Satria Gerilya pasti semua penuh dengan imajinasinya masing-masing.

“Pasti dia penuh dengan pengalaman perang yang panjang. Jadi wajar jika tubuhnya tegap begitu.”

Suara bisik-bisik sudah mulai terjadi di beberapa sudut. Sementara orang yang dibisiki tampak tenang-tenang saja sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.

Tak ada suara musik yang bisa menjadi tanda bahwa ini memang bar dan malam ini adalah malam yang istimewa. Semua masih tampak tercengang dan asyik dengan gosip dan bisik hati masing-masing sampai kemudian pemilik bar, Akil masuk dan menghampiri tamu kehormatan.

“Selamat datang dan terimakasih sudah mau ke bar kami. Oh ya, sambil anda menunggu apakah sesuatu yang bisa saya bantu? Mungkin anda mau rasakan bir terbaik suguhan kami?”

“Halaghh… kok jadi formal banget sih, say? Santai dong. Oh ya, perkenalkan. Nama ik Suginem. Tapi kalau siang Sugito hehe. Ik nggak ngebirlah, say. Dah nggak jaman kaleee. Coca cola aja dweeeh yaw… oke, say?…. halaghh.”

Grrrrrr

Saleum,

Risman A. Rachman

5 Juni 2010

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: