Sosok Gubernur Aceh 2011

SIAPAKAH Gubernur Aceh tahun 2011? Meski belum bisa menentukan nama orangnya, karena masih sangat dini namun bagaimana sosok Gubernur Aceh tahun 2011, sudah bisa dibayangkan. Salah satunya dengan mencermati daya hayal (imajinasi) masyarakat tentang kepemimpinan.  Ada beberapa acuan yang bisa dipakai untuk melihat alam hayal ureung Aceh tentang sosok pemimpin, diantaranya: acuan Islam, acuan sejarah, dan acuan keadaan.

Jika mengacu kepada Aceh sebagai “bumi” syariah dan Serambi Mekkah, maka imajinasi masyarakat tentang pemimpin jelas utamanya seperti sosok nabi. Kalau begitu, ciri-ciri fisik Gubernur Aceh tahun 2011 tidak terlalu jauh dengan gambaran berikut ini: tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek. Berpostur indah, tidak terlalu gemuk dan tidak pula terlalu kurus, dan tampan. Kulitnya putih kemerah-merahan, sepasang matanya hitam, bulu matanya panjang, Orang yang paling dermawan, paling berlapang dada, paling jujur ucapannya, paling bertanggung jawab, dan paling baik pergaulannya. Siapa saja yang bergaul dengannya pasti akan menyukainya.

Sementara jika mengacu kepada “sejarah Aceh” maka alam hayal ureung Aceh lebih banyak mengacu pada sosok Iskandar Muda. Selebihnya, imajinasi kepemimpinan masyarakat ada juga yang mengacu kepada sosok dari kalangan keturunan raja, tuwanku, sayyed, dan teungku, yang secara fisik kerap disederhanakan sebagai sosok yang mirip dengan orang Arab, Cina, Eropa, dan Hindia. Mengacu pada gambar-gambar pemimpin Aceh yang ada, maka bisa jadi Gubernur Aceh tahun 2011 adalah sosok yang tampan, putih, beralis tebal, memiliki sorot mata yang tajam. Atau, bisa juga sosok dengan kumis tebal, sedikit hitam dan memiliki badan tegap. Mungkin juga sosok yang hitam tapi manis dan berambut ikal. Tidak tertutup kemungkinan sosok bersanggul yang ditutupi kerudung, cantik, tinggi, dan memiliki senyum yang manis.

Berbeda dengan acuan “agama” dan “sejarah”, imajinasi kepemimpinan dalam acuan “keadaan” bisa dibaca dalam dua bentuk. Pertama, imajinasi yang didasarkan oleh kehendak perubahan keadaan itu sendiri. Di sini pemimpin diposisikan sebagai sosok yang mampu mewujudkan harapan masyarakat. Harapan inilah yang membangun imajinasi kepemimpinan berdasarkan sosok atau pihak yang paling membekas dalam ingatan rakyat. Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar bisa menjadi bukti bahwa pilihan kepemimpinan oleh rakyat didasari pada acuan keadaan yang dipengaruhi oleh salah satu pihak yang dipandang paling aktif mewarnai alam pikiran masyarakat.

Itu bentuk pertama dari acuan “keadaan”. Jika bentuk pertama bersifat optimis maka bentuk kedua sebaliknya, pesimis. Artinya, pilihan sosok pemimpin hanya sekadar sebagai sosok aktor. Maknanya, rakyat tidak lagi berharap akan ada perubahan akibat pertukaran pimpinan. Namun begitu, rakyat tetap ingin menikmati keindahan dari apa yang disebut sandiwara politik, politics reality show, politics game yang sedang dimainkan oleh mereka yang sebelumnya dilihat telah mencederai misi suci politik perubahan.

Pertanyaannya, sosok yang bagaimanakah yang akan menjadi pilihan banyak ureung Aceh di suksesi 2011 nantinya? Sosok kepemimpinan sucikah? Sepertinya, tidak. Aceh memang “bumi” syariah namun kepemimpinan politik Aceh sudah lama meninggalkan garis ideologi syariah/Islam. Jika awalnya kiblat politik Aceh mengarah dan mengacu kepada negera-negara Islam, maka sudah sangat lama kiblat politik itu berubah. Tidak berlebihan jika ada yang bergurau dengan menyebut “Dari Serambi Mekkah menjadi Serambi Eropa atau Serambi Barat.”

Lalu, apakah sosok yang mengacu kepada masa lalu? Sejak Hasan Tiro meninggal, nyaris tidak terdengar pembicaraan tentang sosok penerusnya. Pertemuan-pertemuan kaum berpengaruh di Aceh juga tidak terlihat di publik sama sekali. Artinya, semangat menjadikan Aceh, misalnya seperti Jogya tidak terekam jejaknya dan menjadi perbincangan publik.

Jika memang demikian, hanya ada satu kemungkinan terakhir, yakni sosok pemimpin yang mengacu kepada keadaan. Namun pilihan ini juga menjadi pilihan yang sulit mengingat keadaan Aceh saat ini juga belum bisa diklaim sebagai contoh dari keberhasilan gerakan perubahan yang sebelum tsunami sempat diperjuangkan dengan darah dan air mata. Tapi, untuk membayangkan Aceh akan dipimpin oleh sosok yang hanya mementingkan citra politik (baca: sebagai kepemimpinan aktor) ketimbang kerja politik perubahan juga tidak menyenangkan.

Acuan Alternatif
Apakah itu bermakna masa depan Aceh, masih akan “suram”? Tentu masih ada, jika sejak sekarang dibuka satu acuan baru untuk mengatasi tiga acuan yang ada, yakni acuan alternatif. Untuk itu, sudah saatnya untuk mencermati siapa dari ureung Aceh yang memiliki ciri sebagai pemimpin berprinsip.

Ciri-ciri pemimpin berprinsip menurut Stephen R. Covey dalam bukunya “Principle Centered Leadership”, yakni: sosok yang bersedia terus belajar dan karena itu ia bersedia mendengar masukan dari orang lain; sosok yang berorientasi pada pelayanan karena menganggap hidup ini misi dan bukan karier dan menjadikan ukuran keberhasilan mereka bukan pada uang dan pangkat serta gelar apalagi pujian melainkan pada bagaimana bisa menolong orang lain dan memikul beban rakyat.

Sosok berprinsip itu juga sosok yang memiliki air muka yang menyenangkan dan membangkitkan semangat orang lain, dan memancar energi positif yang menggerakkan orang lain untuk bangkit sama-sama memajukan Aceh. Bukan sosok yang membuat banyak orang diam atau didiamkan. Sosok berprinsip itu juga adalah diri yang menaruh kepercayaan kepada orang lain dan menempatkan orang lain sebagai diri yang memiliki potensi positif terpendam dan semua bersiap untuk diangkat dan dijadikan bagian dari kekuatan bersama. Bukan justru memilah-milahkan menjadi orang kita dan orang lain.

Sosok yang mengandung kepemimpinan berprinsip itu adalah juga sosok yang hidup dengan seimbang. Bukan sosok yang ekstrim dan atau berlebihan dalam segala hal, termasuk tidak menjadi budak dari perintah-perintah dan godaan-godaan kekuasaan. Sosok berprinsip juga menjadikan hidup sebagai petualangan karena adanya rasa aman yang datang dari dalam diri. Karenanya kreatif, inovatif, dinamis, cerdik menjadi ciri khasnya. Ia selalu ingin melakukan hal baru untuk memastikan adanya manfaat lebih baik lagi bagi semua.

Hal penting lagi bagi sosok berprinsip adalah diri yang sinergistik. Artinya, sosok yang tampil sebagai katalis perubahan karena kehendak untuk menghasilkan hal lebih baik lagi. Produktif adalah cirinya dan dalam pemecahan masalah senantiasa mengedepankan pemecahan yang memperbaiki dan memperkaya hasil. Bukan pemecahan yang menyudutkan dan bahkan mematikan kreatifitas orang lain.

Ciri terakhir yang sangat penting adalah sosok yang senantiasa memperbaharui dirinya baik secara fisik, mental, emosi, dan spritual sehingga senantiasa sehat dan kuat dengan keinginan yang kuat pula untuk melayani sesama.  Jika masih tersisa keyakinan bahwa ciri-ciri pemimpin berprinsip itu masih ada pada sejumlah ureung Aceh maka sejak sekarang sosok dimaksud sudah harus diangkat ke permukaan oleh tim pendukung agar rakyat tidak memilih gubernur yang memimpin hanya dengan citra politik, nantinya di suksesi gubernur 2011. Semoga.

Salam,

Risman A Rachman

Tulisan ini juga dimuat di Harian Serambi tanggal 6 September 2010

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: