Lelaki Pemancing Itu Pergi Juga

Seorang lelaki dengan amarah meninggalkan tepi laut. Dan, dengan marah pula mematahkan kail mahal yang dipuja karena melambangkan kesejatian sang pemancing.

Bukan hanya marah tapi suaranya juga ikut mengaduk-aduk perasaan sejumlah orang. Bahkan ada yang mengikuti jejak langkahnya, meninggalkan tepi lautan yang sudah dipilihnya sebagai tempat memancing.

“Terus terang, sebagai pemancing saya tersinggung. Belum pernah saya dihempas ombak begini. Justru saya yang kerap membuat ombak bergejolak oleh mantra “geulumbang tujoh.” Satu mantra yang dibacakan anak-anak Aceh kala mandi laut secara bersama untuk membuat gelombang besar datang.

“Ayo kita pergi. Kita cari lautan lain. Emangnya cuma di sini saja tempat memancing yang ada. Disini memang terkenal tapi lautannya tidak bersahabat dengan kita. Penguasa adat lautan disini tidak welcome dengan pemacing seperti kita.”

“Ada apa anak muda? Kok kelihatan penuh amarah? Apa hasil pancingannya lepas? Kemarin ada pemancing yang sudah dapat ikan besar tapi lepas lagi dan dia sangat marah. Dia malah menyalahkan batu karang yang membuat kakinya terpeleset. Ada juga minggu lalu yang malah menyalahkan pukat yang melintas. Oh ya, mengapa kailmu yang bagus dan pasti mahal itu dipatahkan? Dan, ini rame-rame pada mau kemana? Jam segini sudah pergi. Bukankah sebentar lagi ombak akan tenang. Biasanya saat itulah ikan-ikan akan menari mencari makan.“

“Tidak, Pak. Kami harus pergi. Ini bukan tempat kami. Sama sekali tidak ramah lautan disini. Lautannya selalu bergolak. Itu sangat mengganggu kami memancing. Beberapa kali mata kail saya putus oleh batu karang. Jadi kami pergi saja. Mau cari tempat lain saja.”

“Tapi kalian tampak sebagai pemancing sejati. Penampilan kalian. Suara kalian sangat menggambarkan sosok pemancing sejati. Kenapa mesti pergi karena ombak lautan? Ombak bergolak karena kuasa angin jadi kenapa salahkan ombak? Jika mata kailmu putus itu karena kamu memilih memancing dibatu karang. Memancinglah disana. Disitu tidak ada batu karang. Semuanya pasir tapi ikannya tidak seperti di batu karang. Di pasir hanya ada ikan yang sedang menari sambil bercinta.”

“Tidak. Kami tetap memilih pergi. Kalian, jika mau ikut silahkan. Jika tetap disini, juga silahkan. Tapi saya maunya kalian ikut dan kita cari tempat lain saja agar kita bisa lebih ekspresif memancing.”

“Ada apa ni Pak. Kok pada rame-rame pergi dan meninggalkan desa pantai kita?”

“BIarlah mereka pergi. Bisa jadi mereka sedang emosi saja. Jika benar maka akan kembali untuk memancing disini. Jika tidak maka mereka memang hanya sekedar pemancing dan belum sebagai nelayan yang menjadikan memancing sebagai bagian dari hidupnya.”

“Maksud Bapak apa, sih?”

“Pemancing dengan nelayan yang memancing itu beda sekali. Pemancing itu bisa jadi sekedar hobi saja. Jika ia tidak bisa menikmati hobinya disini maka mereka akan pergi memancing ditempat yang lain. Sedang nelayan tidak akan takut dengan ombak sekalipun sudah terhempas sekian kali. Lautan adalah pakaiannya dan ia sudah tahu bahwa pakaiannya akan basah. Kail adalah tangannya dan ia sudah tahu apa yang terjadi jika memancing ikan besar di celah batu karang.”

“Kita ini nelayan dan sekalipun tsunami telah meluluhlantakkan kita tapi kita tetap memilih hidup disini karena inilah jatidiri kita. Pemancing boleh saja menghapal mantra para nelayan tapi nilai sebuah mantra bagi mereka hanya sebatas syair. Mengagumkan memang tapi kekagumannya akan sirna seiring dengan waktu. Bila dia dipuja dia akan bahagia dan bila terganggu tujuannya ia akan pergi dengan syair pengakuan ketidakberdayaan. Sungguh, bukan mereka tidak berdaya tapi mereka hanya menjadikan dirinya sebatas pemancing, dan belum sebagai nelayan.”

“Jadi gimana dengan mereka yang pergi?”

“Kita ini orang yang sudah biasa menghargai ombak dan harus bisa pula menghargai mereka yang pergi dari desa nelayan ini. Ucapkan selamat jalan dengan penuh hormat karena bisa jadi suatu ketika kita akan berjumpa mereka untuk hal yang sama.”

Saleum,

Risman A Rachman

NB: Mengenang Muslahuddin Daud, sang pemancing yang selalu menggodaku dengan hasil pancingannya. “Mus, kamu memang pemancing yang nelayan dan nelayan yang memancing. Aku, tetap saja lelaki yang hanya bisa menyentuh ombak sambil membaca syair cinta.”

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: