Pintar Kok Keblinger??!!

Kenapa, ya, banyak orang pintar yang malah jadi bikin susah? Bukan semestinya orang pintar itu bisa membuat orang lain jadi mudah dan senang. Ini malah sebaliknya, pintar jusru membuat orang rumit dan susah. Padahal tidaklah rumit dan susah untuk menjadi orang pintar yang bisa buat orang mudah dan senang. Kuncinya mudah sekali. “Jadilah orang pintar yang penuh cinta”.

Diri, rumah, kampung, daerah, dan akhirnya negara tiba-tiba ibarat sarang masalah saja. Segala kerumitan dan kesusahan menjadi pemandangan umum bagi penghuninya. Akhirnya, jadilah diri, atau keluarga, atau warga, atau daerah, dan atau bangsa yang penuh dengan kesusahan dan kerumitan.

Di semua media hampir saban waktu ada saja berita, feature, opini, essai, atau artikel yang berkaitan dengan masalah-masalah. Tidak cuma masalah konstitusi soal pemakzulan atau soal Century tapi juga ke soal-soal main hakim sendiri.

Itu baru laporan hasil liputan media yang menganut “hukum” pewartaan bernilai berita. Andai semua masalah diliput oleh media bisa-bisa Indonesia menjadi negara pemecah rekor pembuat masalah. Hampir setiap hari yang menjadi HL dari media adalah berita yang mengandung informasi tentang masalah yang sedang dihadapi atau dilanda atau terkena seseorang, kelompok, grup, lembaga, birokrat, dan atau penyelenggara atau negara itu sendiri.

Meski begitu, tetap saja ada banyak kabar-kabar yang menyenangkan karena bersifat motivasi, kreatifitas, dan juga inspirasi. Sayangnya, kabar-kabar gembira ini belum menjadi arus utama bagi pencitraan Indonesia. Penyebabnya? Apalagi kalau bukan karena masih sedikitnya orang pintar yang mau melakukan sesuatu yang bisa membuat orang bisa lebih mudah dan akhirnya jadi senang dan lebih senang lagi.

Faktanya, banyak orang pintar yang malah ikut arus gerakan perumitan orang lain. Misalnya, ada pemikiran yang sangat berguna tapi karena disajikan dengan cara rumit maka jadilah pikiran itu tidak berguna bagi orang banyak. Anehnya, ada rasa bangga pula dengan sajian pemikiran yang hanya bisa dipahami oleh kalangan terbatas.

Lebih aneh lagi, yang baca pun pura-pura jadi orang pintar padahal kepala sudah berdenyut karena tidak nyambung. Lebih parah lagi, orang pintar malah semakin memaksa orang lain untuk belajar terlebih dahulu untuk baru bisa memahami pikirannya. Wah, kalau harus belajar dulu untuk kemudian baru kembali membaca bisa ketinggalan terus bangsa ini. Semakin lama bisa semakin terjebak dalam kerumitan-kerumitan. Kapan selesainya? Pintar kok keblinger ??!!

Padahal, jika banyak orang pintar yang bisa menghasilkan sesuatu yang bikin orang mudah pasti akan semakin banyak orang senang, termasuk senang untuk menjadi orang pintar. Jika sudah banyak orang pintar yang bisa memudahkan dan membuat senang maka hidup pasti jadi indah.

Kalau keindahan sudah melingkupi setiap diri maka tidak rumit dan susah lagi untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini. Dan, jika masalah-masalah sudah bisa dengan mudah dan senang hati dipecahkan maka pastilah citra Indonesia sebagai bangsa yang penuh cinta akan segera terwujud. Indah sekali bukan jika suatu hari nanti Indonesia disebut sebagai “Serambi Cinta Dunia.”

Masih tetap mau jadi orang pintar yang hanya bisa bikin rumit dan susah orang lain? Jangan, ya! Lebih baik jadi orang pintar yang penuh cinta. Tidak bikin rumit dan tidak bikin susah. Membuat semuanya menjadi lebih mudah dan senang. Ini demi masa depan bangsa dan negara yang sangat kita cintai ini.

Salam Cinta,

Risman A Rachman

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: