Warta Api di Warung Rasa Politik, Aceh

Seperti air, kabar itu kini mengalir kemana-mana, dari satu meja ke meja lainnya. Dan, seperti lidah api, kabar itu membakar dan menjilat daun kering pemikiran anak-anak muda, juga orang tua, walau tidak semua si satu warung kopi, sore itu. “Bunga (bukan nama sebenarnya) yang diperkosa petugas WH di tahanan” memang bukan sekedar berita tapi warta api yang menyulut kemarahan yang membaca dengan jati diri dan sejarah negeri yang penuh dengan baju kebesaran syariat di tubuh kegagahan Aceh yang ber-adat. Untung sulutan itu baru berupa ungkapan canda sebagai pelengkap rasa “Kopi Politik.” Dan, aku si pembaca “Kitab Solong” menyimak tanpa sela.

“Bubarkan WH,” kata sekelompok anak muda yang suaranya menjadi bola tendangan yang melaju ke meja lainnya.

“Ini bukan salah WH, karena itu Dinas Syariat yang mesti bubar,” ujar mereka yang duduk di meja lain. Aku mencoba membuka lembar ingatan dan menemukan catatan kalau mereka adalah yang dulu tidak setuju dengan syariatisasi Aceh.

“Syariatisasi Aceh hanya akal politik pusat untuk meredam tuntutan politik rakyat Aceh sebenarnya,” kata catatan lama yang tersimpan di buku ingatan.

”Itulah, berdamai lagi dengan Indonesia,” ujar suara masih dari meja yang sama.

Hening sejenak, sampai kemudian sebuah suara dari meja lainnya mengambil operan bola warta api.

“Hai bung, ini bukan salah perdamaian dan tidak juga soal Indonesia. Ini salah kita sendiri yang tidak mampu mengelola negeri. Kita sudah punya kewenangan yang besar untuk mengelola diri sendiri, juga uang yang sangat besar, dan ditambah kepemimpinan di tangan putra daerah. Jadi jangan lempar kesalahan lagi kepada orang lain. Jadi, turunkan saja pimpinan yang saat ini tidak becus mengelola negeri ini. Ganti dengan kepemimpinan yang amanah. “

Seperti kopi yang baru di buat, diskusi warta api semakin memanas dan hawanya mengalir ke hampir semua meja. “Ini bukan soal pemimpin bang. Ini memang keadaan negeri sebagai konsekuensi dari sebuah transisi yang belum selesai. Negeri ini akan terus terguncang tapi juga akan terus bergerak ke arah kejayaannya. Jadi jangan hanya karena satu kejadian langsung menjadi penghukum bagi umumnya adat kebiasaan. “

Akhirnya, tendangan bola warta api itu sampai juga ke meja dengan sejumlah orang tua. “Dek, perkosa bukan kisah aib di negeri berjuluk serambi ini saja. Itu kisah tua yang bahkan ada sampai kini di negeri berjejak nabi. Kalian memang anak muda cerdas tapi jangan karena itu suka pada loncatan logika lewat generalisasi. Sedikit bijak bukan berarti kehilangan kehormatan sebagai orang hebat, sedikit sabar bukan berarti kehilangan keberanian. Jadi jangan lagi robek bajumu kecuali tubuhmu memang terbuat dari pualam suci yang dibakar dengan api suci pula. Terus lah berpikir dan berzikir agar tidak menjadi diri yang genit dalam berkata-kata. Lama-lama Aceh kalian minta bubarkan, lalu NKRI juga kalian minta bubarkan, atau sekalian saja minta bubarkan dunia biar dijamin tidak ada lagi pemerkosaan.”

“Geerrrrrrrrrrrrrrrrr, seisi ruangan sontak tertawa.”

“Kenapa kalian tertawa? Ada yang salah dengan kalimat saya? komplein Pak Tua yang tadi ikut menendang bola warta api.

“Pak, kami tadi bercanda lo. Ya, beginilah pemandangan sore hari, pak. Ini yang disebut “Kopi Rasa Politik.” Bapak pasti bukan orang Aceh ya, atau orang Aceh yang sudah sangat lama tinggal di luar Aceh? Atau,s udah jarang masuk warung karena sudah ada internet gratis di kantor?

Gerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.

Salam Makar,

Risman A Rachman

13 Januari 2010

Catatan:

MAKAR adalah singkatan dari “Matee Katawa Ala Risman.” Berisi artikel humor dengan latar keacehan yang bisa berupa gambaran suasana suatu peristiwa sebenarnya, dan atau sebatas imajinasi yang mengandung pesan, yang kalau tidak tepat cukup dianggap humor belaka.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: