Idul Fitri, Merdeka dan Damai

[Selamat Idul Fitri bagi murid dan pengikut Tarikat Syatariah – Abu Habib Muda Seunagan yang sudah merayakannya, Senin 29/8]

Eid, Eid ul-Fitr, Idul Fitri, Hari Lebaran, Hari Raya Puasa, atau Uroe Raya adalah hari umat Islam merayakan kemenangan sebagai insan atau hamba karena sudah kembali lagi menjadi diri yang fitri atau suci.

Kemenangan menjadi diri yang suci ini adalah buah dari perjuangan muslim beriman yang berhasil menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa di sepanjang bulan ramadhan. Inilah bulan yang disediakan oleh Allah bagi muslim beriman dan sekaligus Allah sendiri yang memberi balasan atau ganjarannya bagi yang berhasil menjalani puasa dengan benar, yakni pemaafan-Nya yang menjadi sebab bagi seseorang kembali menjadi diri yang suci.

Dengan begitu, tidak salah manakala kesucian juga dipahami sebagai wujud kemerdekaan tertinggi dan karena itu sangat wajar manakala menjadi cita-cita semua hamba yang beriman. Manusia yang merdeka adalah hamba yang kembali kepada jati dirinya sebagai insan yang sejak di alam ruhani sudah menegaskan proklamasinya (kesaksian) bahwa Allah lah Rabb yang disembah.

Dan atas dasar proklamasi itulah di alam duniawi –dihidup dan kehidupan ini– ini manusia akan selalu memiliki bakat atau kecenderungan untuk menjadi diri dan orang-orang yang berserah diri di jalan yang hanif dan damai yakni jalan rahmatan lil ‘alamin (islam).

Dengan begitu, Idul Fitri adalah juga sebuah perayaan kemerdekaan yang mendamaikan. Hal ini bukan hanya karena sudah mendapat pemaafan dan ampunan langsung dari Allah melainkan juga karena kesedian untuk menjadi diri yang saling memaafkan dengan sesama hamba Allah. Di sinilah ungkapan “minal ‘aidin wal faizin” – mohon maaf lahir dan batin mendapat relevansinya.

Trilogi Keacehan
Dalam konteks Aceh, perayaan Idul Fitri 1432 Hijriyah tahun 2011 ini menjadi semakin relevan untuk dihayati sebagai Uroe Raya mengingat pada bulan Agustus ini juga dua momentum penting sebelumnya sudah dirayakan, yakni perayaan 66 tahun kemerdekaan RI dan 6 tahun perdamaian Aceh.

Pertemuan tiga momentum penting, merdeka, damai dan idul fitri ini tentu saja sangat bagus untuk dijadikan sebagai trilogi keacehan yang menegaskan kembali watak keacehan semula jadi Ureung Aceh yakni sebagai manusia merdeka, sebagai manusia damai, dan sebagai manusia suci untuk satu tujuan yakni mengembalikan wujud Aceh sebagai negerinya darussalam bagi semua makhluk Tuhan.

Akhirnya, selamat Idul Fitri bagi warga pengikut Tarikat Syatariah Abu Muda Seunagan (29/8), warga Muhammaddiyah (30/8) dan warga NU (31/8) sambil mengucapkan takbir, mari sama-sama kita sambut kemenangan diri dengan ucapan minal ‘aidin wal faizin – mohon maaf lahir dan batin.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: