Surat Cinta untuk Sang Kekaseh

Illustrasi: aptika.blog.uns.ac.id

Pengantar: Di sepanjang hidup, kita sudah banyak atau minimal sudah pernah menulis surat. Kini, saatnya menulis surat untuk Sang Kekasih.

Sungguh, jika dengan menulis surat saja setiap diri bisa mencapai “ekstasi” mencintai-Nya maka jiwa akan menjadi damai jika dicintai dan mencintai Sang Kekasih – Dia yang Rahman dan Dia yang Rahim.

Berikut “Surat Cinta untuk Sang Kekaseh,” yang oleh penulisnya, Risman A Rachman (penulis mistikus Aceh), dipercaya bisa membahagiakan jiwa bagi yang membacanya. Atas izin penulis, admin Kata Institute, kembali mempublikasikan surat ini, untuk satu maksud, berbagi kebahagiaan khusus di hari yang fitri ini.

Selamat menikmati.

***

Sumber google

Sumber google

 

Duhai Sang Kekaseh, hari ini adalah hari kebahagiaan tiada tara bagi ku. Bukan karena kita telah menyatu. Menyatu memang puncak keindahan yang diharapkan oleh semua pecintamu. Tapi bagiku, keindahan adalah kala aku terlingkupi kasih sayangMu.

Dan aku begitu merasakan betapa kasih sayangMu begitu berlimpah padaku. Kala pagi Kau hiasi mataku dengan embun bening, kala siang Kau curahkan kehangatan lewat cahaya matahari, kala malam Kau taburi hatiku dengan bintang dan saat mata terpejam Kau temani hidupku lewat alam mimpi.

Semua itu adalah anugerah cinta yang kuterima dariMu baik dalam bentuk kegembiraan maupun dalam wujud ujian dan rintangan. Jadi bagaimana mungkin aku terluka oleh cinta, tersakiti dan menderita oleh kasih sayangMu? Tidak. Aku sepenuhnya bahagia dan bahagia.

Begitu bahagianya oleh cinta sehingga ruang hatiku tiada lagi tempat untuk benci, marah, dan sakit. Semuanya adalah cinta yang dipenuhi oleh rindu dan rindu serta rindu. Rindu Sang Kekaseh adalah keindahan yang tiada menyiksa.

Sungguh, sekalipun semua penyair cinta mengatakan akan ada luka dalam cinta ketika ada rintangan maka kumaklumatkan pada mereka bahwa cintaku padamu tiada sedikitpun luka sekalipun bumi retak oleh kekuatan amarah gunung.

Rindu ini tiada juga terselip tuntutan dan kehendak. Kasih sayangmu pada aliran nafasku yang dengan udara cinta itu aku hidup menjadi diri yang mencintai adalah pemberian yang melebihi apa yang hendak ku tuntut dan mengatasi segala kehendak yang ada dalam diriku sebagai insan.

Karena itu, sekalipun kau tiada berkata-kata padaku, aku sudah memiliki semua bahasa cintamu yang kusimpan di aliran darah dan nafasku. Bagiku cinta bukan soal ucapan dan kata-kata karena kau sudah berkata dan berbicara denganku dalam bahasa kasih sayang.

Sungguh, sekalipun seluruh penyair mantra berkumpul dan menyajikan segenap syair mantra terindah yang mereka punya maka tiada yang bisa dan mampu mengalahkan bahasa diam berlimpah kasih sayang mu padaku.

Ilustrasi by google

Ilustrasi by google

Duhai Sang Kekaseh, aku maklumkan padamu kalau kakiku tidak melangkah lagi setapakpun menuju penyatuan denganmu karena sebelum kakiku bergerak kau sudah mendahului menyentuhku dengan cahayamu. Kemanapun aku menghadap di situ ku lihat wajahmu, wajah rahmatan lil ‘alamin.

Duhai Sang Kekaseh, aku maklumkan padamu kalau tiada lagi lahir ucapan “daku ingin bertemu” denganmu karena sebelum kalimat itu terucap kau dengan diammu sudah bertemu denganku dan berdiam di lubuk hatiku. Dan, dalam diamku kau senantiasa memanggilku dengan sebaik-baik panggilan.

Duhai Sang Kekaseh, aku maklumkan padamu kalau tiada lagi tangisan membasahi bumi pipiku karena sebelum air mataku tumpah kau sudah memelukku lewat malam bertabur bintang.

Duhai Sang Kekaseh, aku maklumkan padamu kalau tiada lagi pilu di jiwaku karena sebelum jiwaku lunglai dan lalai kau telah menemuiku lewat mata batin jauh sebelum aku menyadari makna sebuah pertemuan. Bahkan, sejak di alam jiwa dan ruhani kita sudah bertemu dan saling bersaksi pada perjanjian cinta nan agung.

Satu-satunya yang tersisa kini dan terus ada adalah rindu yang mencintai dan cinta yang merindui dan dengan bahasa insani akan terus kumaklumkan pada langit-langit hatimu lewat udara, lewat ombak, dan juga lewat waktu yang terus melintas di dalam rukuk dan sujud manusiawi sebagai caraku selalu mengagungkan cahaya cintaMu.

Saleum Cinta

Follow Risman A Rachman di Twitter @dexris

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: