Manuskrip Jalan Pulang

Peta Jalan Pulang Itu Seperti Sebuah Kunci

Peta Jalan Pulang Itu Seperti Sebuah Kunci

AKU

Aku datang bersama angin pagi, siang dan malam. Mengulur tangan sambil menyapa penyanjung langit dan bumi dan berucap “perkenalkan, aku aneuk sebrang.”

Aku harus kemana. Peta tidak ada. Ke kiri? Ke kanan? Atau, aku harus maju terus dan tidak boleh berpaling?

Aku mencari manuskrip jalan pulang setelah usai membaca surah  jalan perang dan jalan damai

Aku coba hitung jejak tapak cheng ho kala menemukan cahaya yg kini ku sebut Aceh dan ku eja dengan lafaz Alif Jim Ha, sambil menyentuh lonceng cakradonya

Aku kau kandung dalam perut tua tiga huruf Alif Jim HA yang menunggu kelahiran di masa sikureung

Aku ini siapa di antara 5 kota suci? Alif, Jim, Ha?

 

Alif Jim HA

Alif Jim Ha |  dgn awalan bismillah berjalanlah menuju masa depan melewati rute

Alif Jim Ha | ketika timur jd titik arah, aceh jd titik singgah. Singgah menemukan kunci donya: from aceh to the world

Alif Jim Ha | Alif itu tongkat penegak yg bercahaya, yg sederhana berharuman, yg tengah lurus meluruskan

Alif Jim Ha | Jim al jalil (keluruhan sebutan dan pujian-Nya serta suci seluruh nama-namaNya)

Alif Jim Ha | Jim – jihaad (al-wud’u wa al-thaaqah | usaha dan tenaga untuk menang di jalanNya

Alif Jim Ha | Ha al-haq, yang maha mutlak

Alif Jim Ha | engkau (ketundukan) aku (usaha) engkau (kepasrahan)

Alif Jim Ha | katakan pd hati kita: rumah kita Aceh blm terbakar. Dia msh ada dan memahkotai di hati kita semua

Alif Jim Ha |  menepilah di taman-taman yang airnya mengalir dalam aroma kebetahan

 

Mahkota

Mahkota di kepala kan hilang. maka pertahankan mahkota di hatimu dan di hati kita kupiah meukutop

Maka bacalah sarakata pagi. Di sana, rahasia hati terungkap dg sepenuh rasa

Ombak pagi diam membaca gerak rasa jejak sejarah waktu di tanah cinta
aku berkata dg matahari pagi dan kau mengubah cahaya mjd rindu tiada bertepi. Duhai…

Duhai, adakah kau yg sdg menyapa dengan deru angin. Hatiku penuh rindu pada setiap belai yg kau titip pd angin yg melintas waktu

DOR dari Aceh lelaki tua bertongkat itu menatap hati indonesia yang rusuh. Doanya mengalir semakin panjang. Dor, ada yg mati lagi

Duhh malam. Kau sapa ku dg salam gempamu, persis kala ku sambut senyum pertama rembulan bersama azan di beranda ini

 

Serambi

Di serambi siang yang rebah ku hitung namamu huruf per huruf mengikuti hitungan detak rinduku

Dan kini di serambi jelang senja ku ikat tali rindu agar matahari menitip cinta pd rembulan krn engkaulah muara kasihku

MENANGKAP MATAHARI: “Awas, matahari jatuh dikepalamu!” Bumi gelap usai matahari ditelan Ali, yang kini telah berlalu.

Kaki ku memang melangkah jauh meninggalkanmu tapi hatiku tidak pernah beranjak dari hatimu meski setapak

Bagaimana mungkin aku menjauh karena kau adalah matahari, malam dan mimpi di lubuk sejarah hati

Jika pun aku pergi tapi jalan yang ku tempuh justru arahnya ke hatimu

Maka biarkan cahaya rmbulan mnyentuh dan bkerja di lahan hati krna disanalah tmpat rinduku brtumbuh tanpa hrs ku sapa lagi

Malam ini aku ingin menyimpan kata dan memejam mata agar gerak hati tiada terbaca oleh pencemburu malam. Biarlah malam dg misterinya.

Andai mungkin ku kan pegang semua sudut senja agr aku bs terus bersamamu kekasih. Menyebut-nyebut namamu adlah kesyahduan rintihan

Usah kau tunggu waktu menjawab. Segera buka jendela hatimu dan lihatlah lambaian

Kepastiaan ada di bilik hatimu, hadirkan di bilik malam dan bersiaplah menari rindu

 

Putro Jeumpa

Disini senja telah berlalu tapi kau masih ada di jemari ku, diantara desah nafasku, diantara rukuk dan sujud yang telah usai

Bau harum masa lalu Aceh mengalahkan wangi prfum gadis manis yang baru melintas. Duhai, rindu Putro Jeumpa melirik senja yang kan usai

Ku ingin tak kau katakan semua dengan jelas agar ku bisa mendalamimu lebih dalam. Sedalam ku pahami Putroe Phang dari Negeri Seberang itu

Duhai putik nanggroe. Semoga selalu ada cinta di hate. Trang mata tangieng uteun beu tapeureumeun nanggroe senambong jeumpa

Keharoman jeumpa menebar ingatan pd Putro Mayang Seulodong, Dewi Ratna Keumala. Di sini mata Salman al-Farisi menembus waktu

 

Kekasih

Kita adalah insan ilahi, marilah selalu memuji, syukuri cinta yang ada, pujilah dia yang Kuasa

Jika aku hilang bukan berarti aku tiada , aku sedang asyik dengan kekasih jiwa

Jika aku tiada menyapa tidak berarti aku lupa , Aku sedang larutmenyebut-nyebut nama kekasih jiwa

Jika aku tak terpaling karena panggilan bukan berarti aku tuli, aku sedang mendengar desah keindahan cinta kekasih

Dan andai kau lah samudera matahari senja sungguh ku kan menemani seluruh hidupmu dengan cinta

Dik, kuning matahari senja yang hendak jatuh kepelukan malam persis melukiskan isyarat isi hati ku padamu.

Membentang lelah di sudut malam sambil membayang jejak kenangan. Satu-satu kenangan merekat asa

Maaf adalah raket yang menghubungkan keterpisahan dan jembatan menjangkau gemilang masa depan

Panggilan  keindahan, panggilan kemenangan, panggilan kepasraan, panggilan cinta – azan tlah usai tapi cintaNya melingkupi, tak henti

Jingga senja menggoda-goda tepian hati. Malam kan segera mengantar rindu. Duhai, sang pemabuk malam

Sekumtum seulanga merangkai cinta. Dan menepilah gerah siang di hati

Sahuh sudah kulabuh di samudera hatimu. Sekarang aku bersiap menembus sukma jiwa dan menemukan jejak yang diam

Ada aroma kebetahan di teater warkop di sepanjang. Aku menebar imaji

Dari ulee kareng menatap dunia. Kutitip cinta pada matahari. Sayang, belum ada juga jendela negeri yg terbuka.

Meminang malam untuk kujadikan pengantin agar semakin mengerti makna keindahan kasihMu

30092010

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Trackbacks

  • By Jalan Itu Masih Panjang dan Terang Itu Ada | Bilik ML on September 5, 2011 at 12:08 am

    […] yang penuh dengan cinta pernah berkata lepada saya, ”Peta jalan itu bukan untuk kamu robek atau mencoba mengubahnya tapi agar kamu tahu mana jalan yang sebenarnya […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: