KI-Profil

Konflik Aceh sudah berakhir. Pihak yang dulunya terlibat dalam konflik dengan kekerasan (perang) sudah mengakhiri konflik melalui kesepahaman bersama yang tertuang dalam MoU Helsinki.

Terhitung sejak ditandatanganinya kesepahaman damai, 15 Agustus 2005, Aceh sudah terbebas dari kondisi perang (konflik dengan kekerasan) dari pihak-pihak yang dulunya terlibat dalam konflik secara berhadapan.

Selanjutnya, dengan landasan UUPA usaha pembangunan Aceh dilakukan untuk mencapai tujuan dari perdamaian itu sendiri yakni mewujudkan Aceh yang bermartabat, adil, dan sejahtera sebagai prasyarat keberlanjutan damai itu sendiri.

Kondisi ketiadaan perang atau konflik kekerasan memang memberi berkah bagi Aceh dan masyarakatnya. Suasana batin yang selalu tertekan pada masa konflik menjadi terbebaskan. Dengan suasana hati yang bebas dari tekanan hidup dan kehidupan bisa lebih dinikmati dan dijalani dengan cara yang lebih wajar dan lebih baik.

Harus diakui bahwa perdamaian antara Pemerintah RI dengan GAM memang sudah membawa Aceh menjadi lebih baik dari masa-masa sebelum perdamaian terwujud. Namun, mengingat bentuk perdamaian yang terwujud baru berupa perdamaian negatif dan belum diikuti dengan terwujudnya perdamaian positif maka kondisi kekinian Aceh masih belum menggambarkan kemajuan yang diinginkan, yakni Aceh yang lebih maju dalam pengelolaan pemerintahan dan pembangunan untuk mencapai masyarakat yang lebih sejahtera.

Ada banyak hal yang bisa diidentifikasi sebagai kendala atau hambatan bagi usaha mewujudkan sisi perdamaian positif. Bisa dalam bentuk kebijakan, cara pandang, maupun kinerja berbagai pihak. Apapun bentuk dari halangan yang ada jika tidak diatasi akan memberi dampak buruk bagi pemenuhan hak rakyat untuk sejahtera. Lebih buruk lagi berbagai bentuk kekerasan yang lebih buruk dari kekerasan yang pernah terjadi pada masa konflik. Lebih dari itu, berbagai ragam penyimpangan sangat mungkin terjadi di suatu kondisi yang tidak didukung oleh ketersediaan kebijakan dan peraturan.

KATA Institute menyadari kondisi kekinian Aceh dan konsekuensi-konsekuensi sosial-politik yang ditimbulkan manakala tidak diantisipasi secara lebih dini dan lebih serius dengan cara-cara yang lebih inspiratif, kreatif, inovatif, dan tentu saja partisipatif. Untuk itulah KATA Institute memutuskan untuk melakukan serangkaian kegiatan secara terencana dan terorganisir agar bisa ikut ambil bagian secara partisipatif berkontribusi bagi percepatan perwujudan perdamaian positif di Aceh melalui kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan politik, di bidang pendampingan masyarakat, dan kegiatan-kegiatan di bidang penelitian, yang kesemuanya dipersembahkan bagi usaha bersama mewujudkan Aceh yang bermartabat, adil, sejahtera, demokratis dan damai.

Saleum

KI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: