Category Archives: Puisi

Kepak Sayap Burung Garuda: Rakyat Memimpin Perubahan

20121020-111756.jpg

Garuda (baca: rakyat) kini tidak lagi berdiri membentang kedua sayapnya sambil mencengkram slogan bhinneka tunggal ika untuk memperlihatkan perisai pancasila sebagai idiologi dan cita-cita Indonesia.

Kini, garuda telah mulai menggetarkan kedua sayapnya sebagai tanda bahwa segenap rakyat dari berbagai suku bangsa dan ragam budaya sedang berdenyut. Urat nadi kepemimpinan rakyat menjadi tanda rakyat sedang memimpin perubahan untuk pencapaian cita-cita Indonesia Raya.

Kini, mata tajam garuda terus awas menditeksi, dan dengan kesempurnaan aerodinamika sayapnya siap terbang, dan pada waktunya siap mengarahkan cakar kakinya menerkam “tikus” dan “ular” perusak bangsa dan negara.

Tidak ada gunanya memilih menjadi “tikus” atau “ular” karena jambul burung garuda menjadi radar yang senantiasa mengirim informasi akurat bagi aksi tercepat. itu maknanya rakyat siap dalam segala keadaan.

Jika ingin selamat jadilah sahabat garuda (baca: rakyat). Tidak ada gunanya membuat guncangan, badai, apalagi hawa panas. Garuda (baca: rakyat) memiliki kemampuan dalam menghadapi segala medan. Musuh garuda tidak akan dilepas lagi karena garuda (baca: rakyat) sudah mulai menggetarkan kepak sayapnya sebagai tanda rakyat siap memimpin perubahan untuk menggapai cita-cita segenap rakyat Indonesia.

*Risman A Rachman

Iklan

Manuskrip Jalan Pulang

Peta Jalan Pulang Itu Seperti Sebuah Kunci

Peta Jalan Pulang Itu Seperti Sebuah Kunci

AKU

Aku datang bersama angin pagi, siang dan malam. Mengulur tangan sambil menyapa penyanjung langit dan bumi dan berucap “perkenalkan, aku aneuk sebrang.” Baca lebih lanjut

Lencana Bidadari Senja – Daun Jiwa di Sungket Merah

Lencana Bidadari Senja

*****

Kupetik saja seikat mawar sebelum layu untuk kuselipi di daun telinga malammu

Kutiup saja irama angin selatan sebelum gelombang tiba meraih malam

Kueja saja nama-namamu sebelum kedip mata kebesaran cahaya malam menelanjangi hatiku

Kutaburi laut bergolak dengan sisa pasir di ujung gaun usai kau hela sesak pagi di bukit hati ini

… dan sebelum semuanya berlalu dipanggil sang bintang…

Kuselip lencana bidadari senja yang kuambil di tujuh penjuru mata angin, di bilik hatiku

 

*****

Risman A. Rachman

Baca lebih lanjut

Mama (Sebuah Lagu)

Mama

 

*****

Izin kurebahkan diri…

ke pangkuanmu, mama…

Ingin kurasakan lagi…

cintamu pada diriku….

*****

Meski kini hanya bisa…

dalam ingatan belaka…

tapi kurasakan nyata…

kasih sayangmu padaku…

*****

Aku rindu sentuhanmu, mama…

Aku rindu belaian kasihmu, mama…

Sungguh rindu ‘kan ku s’lalu kurindu…

Rindu s’lalu sungguh rindu…

*****

Air mata ini, mama…

Adalah air matamu, mama…

Rindu aku ini, mama…

Adalah rindumu, mama…

*****

Reff:

Meski kini hanya bisa…

dalam ingatan belaka…

tapi kurasakan nyata…

kasih sayangmu padaku…

*****

Risman A Rachman

7  Januari 2011

Ah!

Ah!

Ah, di sini terik menukik menarik dan memetik ingati hati…

rindui diri kekasih yang wujudi yang dijiwai berhari-hari.

Ah, siang yang lama nian melalang…

padahal ingatan melayang-layang pada kekasih seorang.

Ah, aku mabuk kepayang oleh ingatan siang petang yang menuju malam.

Ah, kekasihku sayang…

Ah!

Risman A. Rachman

Merindu Cinta (Sebuah Lagu)

Merindu Cinta

Kemilau senja memukau mata…
Memerah warna engkau matahari…
Senandung rindu menyebut nama…
Merajut hati engkau kekasih hati…
Di sini aku merindu cinta…
dan kau di sana menyebut nama ini dalam hati…
Bulan pun tiba seiring gemuruh di hati…
dan malam pun menyapa seiring cinta merona di jiwa ini…


Risman A Rachman

16 Juni 2010