Teuku Raja Keumangan: “Hari Ini Kami Lebaran.”

Hari ini, Senin (29/8) sebagian warga aceh sudah berlebaran. Mereka adalah murid dan pengikut Alm.ABU HABIB MUDA SEUNAGAN yang berada di Nagan Raya dan diseluruh Aceh.

“Murid dan pengikut Abu seluruhnya mencapai 100 ribu orang,” ujar cucu kandung Abu, Teuku Raja Keumangan via telepon yang kemudian diperkuat dengan pesan singkat.

Land Rover Soekarno
Alm.Abu Habib Muda Seunagan merupakan tokoh Ulama Kharismatik dan juga Pejuang Kemerdekaan. Sebagai pejuang dan atas jasa2nya beliau dianugrahi Bintang Jasa Utama oleh Pemerintah RI serta diberikan 1 mobil Land Rover oleh Presiden Soekarno thn 1958,

Beliau juga seorg Ulama Ahlusunnah Wal Jamaah sekaligus Guru/Mursyid Tharikat Syatariah. Saat ini penerus Abu Habib Muda Seunangan dipegang oleh anak bungsu beliau yaitu Abu Habib Qudrad bin Abu Habib Muda Seunagan.

“Sejak semalam takbir sudah bergema dan doa-doa sudah dipanjatkan untuk keselamatan NKRI, khususnya Aceh,” ujar Teuku Raja Keumangan yang manjadi salah satu bakal calon dalam Pilkada 2011 untuk pemilihan bupati di Nagan Raya.

Idul Fitri, Merdeka dan Damai

[Selamat Idul Fitri bagi murid dan pengikut Tarikat Syatariah – Abu Habib Muda Seunagan yang sudah merayakannya, Senin 29/8]

Eid, Eid ul-Fitr, Idul Fitri, Hari Lebaran, Hari Raya Puasa, atau Uroe Raya adalah hari umat Islam merayakan kemenangan sebagai insan atau hamba karena sudah kembali lagi menjadi diri yang fitri atau suci.

Kemenangan menjadi diri yang suci ini adalah buah dari perjuangan muslim beriman yang berhasil menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa di sepanjang bulan ramadhan. Inilah bulan yang disediakan oleh Allah bagi muslim beriman dan sekaligus Allah sendiri yang memberi balasan atau ganjarannya bagi yang berhasil menjalani puasa dengan benar, yakni pemaafan-Nya yang menjadi sebab bagi seseorang kembali menjadi diri yang suci.

Dengan begitu, tidak salah manakala kesucian juga dipahami sebagai wujud kemerdekaan tertinggi dan karena itu sangat wajar manakala menjadi cita-cita semua hamba yang beriman. Manusia yang merdeka adalah hamba yang kembali kepada jati dirinya sebagai insan yang sejak di alam ruhani sudah menegaskan proklamasinya (kesaksian) bahwa Allah lah Rabb yang disembah.

Dan atas dasar proklamasi itulah di alam duniawi –dihidup dan kehidupan ini– ini manusia akan selalu memiliki bakat atau kecenderungan untuk menjadi diri dan orang-orang yang berserah diri di jalan yang hanif dan damai yakni jalan rahmatan lil ‘alamin (islam).

Dengan begitu, Idul Fitri adalah juga sebuah perayaan kemerdekaan yang mendamaikan. Hal ini bukan hanya karena sudah mendapat pemaafan dan ampunan langsung dari Allah melainkan juga karena kesedian untuk menjadi diri yang saling memaafkan dengan sesama hamba Allah. Di sinilah ungkapan “minal ‘aidin wal faizin” – mohon maaf lahir dan batin mendapat relevansinya.

Trilogi Keacehan
Dalam konteks Aceh, perayaan Idul Fitri 1432 Hijriyah tahun 2011 ini menjadi semakin relevan untuk dihayati sebagai Uroe Raya mengingat pada bulan Agustus ini juga dua momentum penting sebelumnya sudah dirayakan, yakni perayaan 66 tahun kemerdekaan RI dan 6 tahun perdamaian Aceh.

Pertemuan tiga momentum penting, merdeka, damai dan idul fitri ini tentu saja sangat bagus untuk dijadikan sebagai trilogi keacehan yang menegaskan kembali watak keacehan semula jadi Ureung Aceh yakni sebagai manusia merdeka, sebagai manusia damai, dan sebagai manusia suci untuk satu tujuan yakni mengembalikan wujud Aceh sebagai negerinya darussalam bagi semua makhluk Tuhan.

Akhirnya, selamat Idul Fitri bagi warga pengikut Tarikat Syatariah Abu Muda Seunagan (29/8), warga Muhammaddiyah (30/8) dan warga NU (31/8) sambil mengucapkan takbir, mari sama-sama kita sambut kemenangan diri dengan ucapan minal ‘aidin wal faizin – mohon maaf lahir dan batin.

Warta Api di Warung Rasa Politik, Aceh

Seperti air, kabar itu kini mengalir kemana-mana, dari satu meja ke meja lainnya. Dan, seperti lidah api, kabar itu membakar dan menjilat daun kering pemikiran anak-anak muda, juga orang tua, walau tidak semua si satu warung kopi, sore itu. “Bunga (bukan nama sebenarnya) yang diperkosa petugas WH di tahanan” memang bukan sekedar berita tapi warta api yang menyulut kemarahan yang membaca dengan jati diri dan sejarah negeri yang penuh dengan baju kebesaran syariat di tubuh kegagahan Aceh yang ber-adat. Untung sulutan itu baru berupa ungkapan canda sebagai pelengkap rasa “Kopi Politik.” Dan, aku si pembaca “Kitab Solong” menyimak tanpa sela.

“Bubarkan WH,” kata sekelompok anak muda yang suaranya menjadi bola tendangan yang melaju ke meja lainnya.

“Ini bukan salah WH, karena itu Dinas Syariat yang mesti bubar,” ujar mereka yang duduk di meja lain. Aku mencoba membuka lembar ingatan dan menemukan catatan kalau mereka adalah yang dulu tidak setuju dengan syariatisasi Aceh.

“Syariatisasi Aceh hanya akal politik pusat untuk meredam tuntutan politik rakyat Aceh sebenarnya,” kata catatan lama yang tersimpan di buku ingatan.

”Itulah, berdamai lagi dengan Indonesia,” ujar suara masih dari meja yang sama.

Hening sejenak, sampai kemudian sebuah suara dari meja lainnya mengambil operan bola warta api.

Baca lebih lanjut

Lencana Bidadari Senja – Daun Jiwa di Sungket Merah

Lencana Bidadari Senja

*****

Kupetik saja seikat mawar sebelum layu untuk kuselipi di daun telinga malammu

Kutiup saja irama angin selatan sebelum gelombang tiba meraih malam

Kueja saja nama-namamu sebelum kedip mata kebesaran cahaya malam menelanjangi hatiku

Kutaburi laut bergolak dengan sisa pasir di ujung gaun usai kau hela sesak pagi di bukit hati ini

… dan sebelum semuanya berlalu dipanggil sang bintang…

Kuselip lencana bidadari senja yang kuambil di tujuh penjuru mata angin, di bilik hatiku

 

*****

Risman A. Rachman

Baca lebih lanjut

Mama (Sebuah Lagu)

Mama

 

*****

Izin kurebahkan diri…

ke pangkuanmu, mama…

Ingin kurasakan lagi…

cintamu pada diriku….

*****

Meski kini hanya bisa…

dalam ingatan belaka…

tapi kurasakan nyata…

kasih sayangmu padaku…

*****

Aku rindu sentuhanmu, mama…

Aku rindu belaian kasihmu, mama…

Sungguh rindu ‘kan ku s’lalu kurindu…

Rindu s’lalu sungguh rindu…

*****

Air mata ini, mama…

Adalah air matamu, mama…

Rindu aku ini, mama…

Adalah rindumu, mama…

*****

Reff:

Meski kini hanya bisa…

dalam ingatan belaka…

tapi kurasakan nyata…

kasih sayangmu padaku…

*****

Risman A Rachman

7  Januari 2011

Ah!

Ah!

Ah, di sini terik menukik menarik dan memetik ingati hati…

rindui diri kekasih yang wujudi yang dijiwai berhari-hari.

Ah, siang yang lama nian melalang…

padahal ingatan melayang-layang pada kekasih seorang.

Ah, aku mabuk kepayang oleh ingatan siang petang yang menuju malam.

Ah, kekasihku sayang…

Ah!

Risman A. Rachman