Tag Archives: puisi

Manuskrip Jalan Pulang

Peta Jalan Pulang Itu Seperti Sebuah Kunci

Peta Jalan Pulang Itu Seperti Sebuah Kunci

AKU

Aku datang bersama angin pagi, siang dan malam. Mengulur tangan sambil menyapa penyanjung langit dan bumi dan berucap “perkenalkan, aku aneuk sebrang.” Baca lebih lanjut

Iklan

Lencana Bidadari Senja – Daun Jiwa di Sungket Merah

Lencana Bidadari Senja

*****

Kupetik saja seikat mawar sebelum layu untuk kuselipi di daun telinga malammu

Kutiup saja irama angin selatan sebelum gelombang tiba meraih malam

Kueja saja nama-namamu sebelum kedip mata kebesaran cahaya malam menelanjangi hatiku

Kutaburi laut bergolak dengan sisa pasir di ujung gaun usai kau hela sesak pagi di bukit hati ini

… dan sebelum semuanya berlalu dipanggil sang bintang…

Kuselip lencana bidadari senja yang kuambil di tujuh penjuru mata angin, di bilik hatiku

 

*****

Risman A. Rachman

Baca lebih lanjut

Ah!

Ah!

Ah, di sini terik menukik menarik dan memetik ingati hati…

rindui diri kekasih yang wujudi yang dijiwai berhari-hari.

Ah, siang yang lama nian melalang…

padahal ingatan melayang-layang pada kekasih seorang.

Ah, aku mabuk kepayang oleh ingatan siang petang yang menuju malam.

Ah, kekasihku sayang…

Ah!

Risman A. Rachman

“Kitab Baten Lelaki Sunyi” Risman di The Atjeh Post

“Jika tanganku adalah tanganmu maka tiada daya aku kecuali atas izinmu.”

Risman A Rachman hanya sosok “pinggiran” di Aceh. Karena itu sulit ditemukan keberadaannya di berbagai hiruk pikuk sosial-politik Aceh. Maka wajar saja manakala ada yang menyatakan ia hanya “lelaki sunyi” yang berdiam di rumah kesunyian keacehan. Ia ada tapi menjadi sosok yang “tiada” dalam ingatan celoteh keramaian keacehan.

Meski begitu, di lorong-lorong sunyi itu pula ia membaca “kitab baten” negeri Serambi Mekkah yang kerab terabaikan oleh mata kepala. Dan, inilah sebahagian bacaan batinnya melalui The Atjeh Post yang kemudian “terbang” untuk hinggap di dahan hati yang diam-diam membuka ruang jiwa. Selamat menikmati.

Baca lebih lanjut