Tag Archives: risman

Buku peACEHeart – Ayat-ayat Serambi Cinta

Sebuah buku berjudul “peACEHeart – Ayat-ayat Serambi Cinta” karya Risman A. Rachman akan segera diluncurkan. Buku ini merupakan sebuah kitab baten yang dituangkan sebagai tafsir dari kesunyian Sang Pejalan Sunyi.

Image

 

Risman A. Rachman

Pria kelahiran Meulaboh, Aceh ini lebih dikenal sebagai Penulis Mistikus Aceh karena tulisan-tulisannya yang kerap melampaui ruang imajinasi dan baru tertangkap maksudnya manakala dibaca setelah melakukan taharah hati.

Setiap kata yang diuraikannya memiliki cinta dan oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila setiap katanya mampu meresap ke setiap jantung dan hati siapa pun yang membacanya. Membuat semua menjadi bergetar dan ruang batin pun terasa penuh.

Ciri khas pemilihan kata dan kalimat serta cara penulisannya merupakan pertanda originalitas pemikiran dan karya yang dihasilkan.

Kata Production merekamnya dan dengan sepenuh cinta mempersembahkannya untuk dunia.

KATAPro

Iklan

Manuskrip Jalan Pulang

Peta Jalan Pulang Itu Seperti Sebuah Kunci

Peta Jalan Pulang Itu Seperti Sebuah Kunci

AKU

Aku datang bersama angin pagi, siang dan malam. Mengulur tangan sambil menyapa penyanjung langit dan bumi dan berucap “perkenalkan, aku aneuk sebrang.” Baca lebih lanjut

Surat Cinta untuk Sang Kekaseh

Illustrasi: aptika.blog.uns.ac.id

Pengantar: Di sepanjang hidup, kita sudah banyak atau minimal sudah pernah menulis surat. Kini, saatnya menulis surat untuk Sang Kekasih.

Sungguh, jika dengan menulis surat saja setiap diri bisa mencapai “ekstasi” mencintai-Nya maka jiwa akan menjadi damai jika dicintai dan mencintai Sang Kekasih – Dia yang Rahman dan Dia yang Rahim.

Berikut “Surat Cinta untuk Sang Kekaseh,” yang oleh penulisnya, Risman A Rachman (penulis mistikus Aceh), dipercaya bisa membahagiakan jiwa bagi yang membacanya. Atas izin penulis, admin Kata Institute, kembali mempublikasikan surat ini, untuk satu maksud, berbagi kebahagiaan khusus di hari yang fitri ini.

Selamat menikmati.

***

Baca lebih lanjut

Warta Api di Warung Rasa Politik, Aceh

Seperti air, kabar itu kini mengalir kemana-mana, dari satu meja ke meja lainnya. Dan, seperti lidah api, kabar itu membakar dan menjilat daun kering pemikiran anak-anak muda, juga orang tua, walau tidak semua si satu warung kopi, sore itu. “Bunga (bukan nama sebenarnya) yang diperkosa petugas WH di tahanan” memang bukan sekedar berita tapi warta api yang menyulut kemarahan yang membaca dengan jati diri dan sejarah negeri yang penuh dengan baju kebesaran syariat di tubuh kegagahan Aceh yang ber-adat. Untung sulutan itu baru berupa ungkapan canda sebagai pelengkap rasa “Kopi Politik.” Dan, aku si pembaca “Kitab Solong” menyimak tanpa sela.

“Bubarkan WH,” kata sekelompok anak muda yang suaranya menjadi bola tendangan yang melaju ke meja lainnya.

“Ini bukan salah WH, karena itu Dinas Syariat yang mesti bubar,” ujar mereka yang duduk di meja lain. Aku mencoba membuka lembar ingatan dan menemukan catatan kalau mereka adalah yang dulu tidak setuju dengan syariatisasi Aceh.

“Syariatisasi Aceh hanya akal politik pusat untuk meredam tuntutan politik rakyat Aceh sebenarnya,” kata catatan lama yang tersimpan di buku ingatan.

”Itulah, berdamai lagi dengan Indonesia,” ujar suara masih dari meja yang sama.

Hening sejenak, sampai kemudian sebuah suara dari meja lainnya mengambil operan bola warta api.

Baca lebih lanjut

Lencana Bidadari Senja – Daun Jiwa di Sungket Merah

Lencana Bidadari Senja

*****

Kupetik saja seikat mawar sebelum layu untuk kuselipi di daun telinga malammu

Kutiup saja irama angin selatan sebelum gelombang tiba meraih malam

Kueja saja nama-namamu sebelum kedip mata kebesaran cahaya malam menelanjangi hatiku

Kutaburi laut bergolak dengan sisa pasir di ujung gaun usai kau hela sesak pagi di bukit hati ini

… dan sebelum semuanya berlalu dipanggil sang bintang…

Kuselip lencana bidadari senja yang kuambil di tujuh penjuru mata angin, di bilik hatiku

 

*****

Risman A. Rachman

Baca lebih lanjut

Mama (Sebuah Lagu)

Mama

 

*****

Izin kurebahkan diri…

ke pangkuanmu, mama…

Ingin kurasakan lagi…

cintamu pada diriku….

*****

Meski kini hanya bisa…

dalam ingatan belaka…

tapi kurasakan nyata…

kasih sayangmu padaku…

*****

Aku rindu sentuhanmu, mama…

Aku rindu belaian kasihmu, mama…

Sungguh rindu ‘kan ku s’lalu kurindu…

Rindu s’lalu sungguh rindu…

*****

Air mata ini, mama…

Adalah air matamu, mama…

Rindu aku ini, mama…

Adalah rindumu, mama…

*****

Reff:

Meski kini hanya bisa…

dalam ingatan belaka…

tapi kurasakan nyata…

kasih sayangmu padaku…

*****

Risman A Rachman

7  Januari 2011